Mahathir Belum Surati Jokowi Soal Kabut Asap

Mahathir Belum Surati Jokowi Soal Kabut Asap
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad (kiri) menyambut Presiden Indonesia Joko Widodo saat kunjungan resmi di Putrajaya, Malaysia, Jumat (9/8/2019). ( Foto: AFP / Departemen Informasi Malaysia/ SHAIFUL NIZAL )
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 18 September 2019 | 16:02 WIB

Kuala Lumpur, Beritasatu.com - Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, mengaku belum mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo terkait kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah mengganggu negara itu. 

Menurut Mahathir Mohamad, pihaknya akan melakukan penyelidikan untuk melihat bukti-bukti terkait sumber asap. Pasalnya,  pihak Indonesia juga mengklaim bahwa kabut asap juga berasal dari kebakaran hutan di Semenanjung Malaysia dan Sarawak, bukan hanya akibat karhutla di Kalimantan dan Sumatera.

“Saya belum menulis apa-apa (surat kepada Presiden Jokowi, Red). Kami akan melihat bukti karena mereka (pihak Indonesia, Red) mengklaim bahwa ini berasal dari Malaysia, jadi kami harus memverifikasi apakah itu berasal dari Malaysia atau tidak," ujar Mahathir Mohamad, seperti dikutip Straits Times, Selasa (17/9/2019).

Pekan lalu, Menteri Lingkungan Malaysia, Yeo Bee Yin, dalam pernyataan pers di Kuala Lumpur, mengatakan Mahathir Mohamadakan menyurati Presiden Jokowi untuk menyampaikan keprihatinannya tentang kabut asap lintas batas dari kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

“Saya telah membicarakan dengan PM dan dia setuju mengirimkan surat ke Presiden Jokowi untuk menyampaikan perhatiannya terkait isu asap lintas-batas,” kata Yeo Bee Yin, di Kuala Lumpur, 12 September 2019.

Namun belakangan para pejabat tinggi Malaysia cenderung menahan diri dan tidak melempar kritik terhadap Indonesia, setelah beberapa pejabat senior Indonesia termasuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Siti Nurbaya, yang membantah tuduhan Malaysia.

Siti Nurbaya mengatakan, kabut asap bukan hanya berasal dari karhutla di Sumatera dan Kalimantan, tetapi juga dari kawasan hutan di Semenanjung Malaysia dan Sarawak.

Kabut asap yang memburuk dengan Indeks Pencemaran Udara yang terus meningkat sebulan terakhir, membuat Pemerintah Malaysia memutuskan menutup 636 sekolah di Sarawak, Selangor, Putrajaya dan Negeri Sembilan karena kabut asap yang memburuk. Penutupan sekolah itu, mengakibatkan 445.249 siswa harus berisitirahat dari kegiatan belajar-mengajar.

Kementerian Pendidikan Malaysia, dalam pernyataan resmi, Selasa (17/9/2019), menyeburkan lebih banyak sekolah akan ditutup dalam beberapa hari mendatang karena Indeks Pencemaran Udara terus meningkat.

Hal senada juga disampaikan Departemen Lingkungan Hidup, yang menyebutkan beberapa wilayah diklasifikasikan memiliki API "berbahaya" sejak kabut asap mulai mempengaruhi Malaysia bulan ini.

Sumber : Straits Times



Sumber: Suara Pembaruan