Menlu: Gerakan Terorisme Selalu Temukan Bentuk Baru

Menlu: Gerakan Terorisme Selalu Temukan Bentuk Baru
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat melakukan pertemuan bilateral dengan Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Christine Burgener, di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (SMU PBB), Senin (23/9). ( Foto: Dok Kemlu )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 27 September 2019 | 15:14 WIB

New York, Beritasatu.com - Menteri Luar Negeri (menlu) Republik Indonesia (RI), Retno Marsudi, mengatakan gerakan terorisme global selalu menemukan cara dan bentuk baru untuk mengancam dunia.

Pernyataan itu, disampaikan Retno Marsudi saat membagikan pengalaman Indonesia dalam upaya penanggulangan terorisme di tingkat nasional dan kawasan Asia Tenggara, dalam Debat Tingkat Menteri Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di markas besar PBB, New York, Amerika Serikat (AS).

Debat Tingkat Menteri DK PBB merupakan salah satu kegiatan utama yang diusung Rusia sebagai Presiden DK PBB, disela-sela Sidang Umum PBB, di New York, Kamis (26/9/2019).

Pertemuan dipimpin menlu Rusia, Sergey Lavrov, dan dihadiri sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara anggota DK PBB, termasuk Indonesia. Debat tersebut bertemakan Kerja Sama PBB dan Organisasi Regional serta Sub-Regional untuk Mendukung Perdamaian dan Keamanan dalam Pemberantasan Terorisme.

Retno Marsudi menekankan tiga hal penting terkait kontraterorisme. Pertama, pentingnya penguatan upaya pencegahan penyebaran ideologi terorisme pada tingkat nasional. Kedua, penguatan mekanisme regional dan sub-regional yang tepat dalam penanggulangan terorisme. Ketiga, sinergi strategi penanggulangan terorisme pada tingkat global, sub-regional, regional, dan nasional.

“Indonesia bersama Malaysia dan Filipina telah mengembangkan mekanisme kerja sama trilateral untuk mengatasi ancaman kelompok teroris di Laut Sulu,” kata Retno Marsudi.

Retno Marsudi mengungkapkan, Pemerintah RI juga menyusun rencana aksi nasional penanggulangan ekstrimisme berbasis kekerasan yang mengarah kepada terorisme, dengan merujuk dokumen ASEAN dan Sekretaris Jenderal PBB.

“Tidak ada satupun kawasan yang kebal dari ancaman terorisme. Dengan kerja sama antara PBB dan organisasi regional sangat penting untuk mencegah, memberantas, dan melindungi masyarakat kita dari ancaman terorisme di masa kini maupun masa mendatang,” ujar Retno Marsudi, seperti dikutip dari siaran pers Kemlu, Jumat (27/9/2019).

Di sela-sela Sidang Majelis Umum (SMU) ke-74 PBB, Kamis (26/9/2019), Retno Marsudi juga menghadiri pertemuan para menlu MIKTA, yaitu kelompok negara terdiri dari Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia.

Pertemuan itu membahas isu multilateralisme, migrasi, pandangan ASEAN terkait Indo-Pasifik, perkembangan keamanan di Semenanjung Korea, dan perdagangan internasional.

Negara-negara MIKTA disebut memiliki pandangan positif atas usaha Indonesia untuk memajukan konsep Indo-Pasifik. Pada Rabu, menlu juga melakukan pertemuan bilateral dengan enam negara, yaitu Luksemburg, Belanda, Arab Saudi, Bahrain, Australia, dan Timor Leste.

 



Sumber: Suara Pembaruan