Kemlu: Kondisi Wartawan WNI Masih Diobservasi, Belum Dipastikan Buta Permanen

Kemlu: Kondisi Wartawan WNI Masih Diobservasi, Belum Dipastikan Buta Permanen
Petugas kepolisian mengarahkan senjata kepada pengunjuk rasa di Tseun Wan di Hong Kong, Minggu (25/8/2019). ( Foto: AFP / Lillian SUWANRUMPHA )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Jumat, 4 Oktober 2019 | 17:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Kementerian Luar Negeri menyatakan dokter masih mengobservasi kondisi Veby Mega Indah, wartawan warga negara Indonesia (WNI) yang tertembak saat aksi protes di Hong Kong. Kemlu membantah mata kanannya mengalami buta permanen seperti disampaikan pengacaranya.

"Sampai saat ini dokter masih melakukan observasi mengenai kondisi mata kanan beliau dan memberikan perawatan yg diperlukan," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Yudha Nugraha, kepada SP, Jumat (4/10).

Yudha mengatakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong juga sudah mengirimkan surat resmi kepada otoritas Hong Kong untuk meminta penjelasan dan penyelidikan atas kejadian yang menimpa Veby. Dia menambahkan KJRI Hong Kong juga secara rutin mengunjungi Veby di rumah sakit (RS).

Terkait gugatan hukum, Yudha mengatakan Veby secara pribadi sudah menunjuk pengacara. Sedangkan, KJRI Hong Kong hanya memberikan pendampingan kekonsuleran.

"KJRI hanya mendampingi agar hak haknya terpenuhi berdasar hukum setempat," ujar Yudha.

Meliput Aksi

Sebelumnya, pengacara Veby, Michael Vidler, mengatakan kliennya mengalami kebutaan secara permanen di mata kanannya setelah tertembak peluru karet. Veby terluka saat meliput aksi demonstrasi di kawasan Wan Chai pada Minggu (29/9).

“Para dokter yang merawat Ibu Indah hari ini memberitahu dia, sayangnya cedera yang dialaminya akibat ditembak oleh polisi, akan menyebabkan kebutaan permanen di mata kanannya,” kata pengacaranya, Vidler, Rabu (2/10), seperti dilaporkan Straits Times.

Menurut Vidler, keluarga Veby sudah tiba di Hong Kong untuk menemaninya. “Dia (Veby) diberitahu bahwa pupil matanya pecah karena dampak kekuatan (peluru). Presentase pasti dari kerusakan permanen itu hanya bisa dinilai setelah operasi,” katanya.

Sebelumnya, Veby mengatakan kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong, dirinya terkena pantulan (bouncing) peluru karet saat meliput demonstrasi dari atas jembatan di kawasan Wan Chai.

Dikutip dari situs Hong Kong Free Press, Veby dilaporkan sedang berdiri bersama rekan media lainnya untuk melakukan Facebook live streaming (siaran langsung lewat Facebook) saat terkena tembakan polisi. Dia meliput aksi protes bertajuk“anti-totaliterisme global” di Wan Chai saat bentrokan terjadi antara polisi dan demonstran.

Saat kejadian, Veby memakai rompi visibilitas tinggi (mudah dilihat) berwarna kuning dan bertuliskan “Pers” pada bagian depan, serta memakai helm.



Sumber: Suara Pembaruan