Butuh 55 Hari, Penerbangan Pertama KLM ke Indonesia

Butuh 55 Hari, Penerbangan Pertama KLM ke Indonesia
General Manager South East Asia & Oceania KLM Gijs van Popta memberikan penjelasan kepada wartawan saat Pameran Perayaan 100 Tahun Maskapai KLM di Erasmus Huis, Jakarta Selatan, Jumat (4/10/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Unggul Wirawan )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 7 Oktober 2019 | 06:55 WIB

Jauh sebelum Indonesia merdeka, maskapai penerbangan Belanda Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau lebih dikenal KLM sudah merintis operasi. Dalam rangka uji coba rute antarbenua, pada 1 Oktober 1924, pesawat Fokker KLM mengemban misi penerbangan pertama Amsterdam-Batavia. Hingga KLM berumur 100 Tahun, misi sukses itu dikenang sebagai penerbangan bersejarah antara Belanda dan Indonesia.

“Bisa dibayangkan pada penerbangan pertama, tahun 1924, pesawat butuh 21 perhentian dari Amsterdam ke Jakarta. Itulah yang membuat KLM sebagai maskapai pioner yang sesungguhnya dan juga memperlihatkan hubungan konstan kita. KLM memainkan peranan penting yang menghubungkan kedua negara,” ujar Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns saat jumpa pers jelang Pameran HUT ke-100 KLM di Jakarta, Jumat (4/10).

Terbuka untuk umum, Pameran HUT ke-100 KLM bertema “Celebrate the Future” ini juga menandai 95 tahun penerbangan Belanda-Indonesia. Digelar di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Jl HR Rasuna Said Kav S-3, Jakarta Selatan, pameran hanya berlangsung selama dua hari yakni Sabtu 5 Oktober mulai pukul 10.00- 16.00 WIB dan Senin 7 Oktober 2019, mulai pukul 10.00-15.00 WIB.

“Jakarta adalah tempat khusus yang menjadi perhatian 95 tahun lalu. Indonesia adalah destinasi spesial dalam jaringan besar KLM karena Indonesia merupakan destinasi antarbenua terlama kami. Mimpi Plesman sebagai pendiri menjadi kenyataan, dan sudah 100 tahun KLM menghubungkan banyak orang,” tambah General Manager South East Asia & Oceania KLM Gijs van Popta.

Penuturan Dubes Lambert Grijns dan Gijs van Popta memang bukan isapan jempol. Saat Jakarta masih bernama Batavia, KLM melakukan uji coba penerbangan lintas benua. Uji rute lintas benua pesawat Fokker itu dilakukan pada 1 Oktober 1924 setelah perencanaan selama dua tahun.

Sejarah mencatat, pesawat Fokker itu hanya diawaki tiga orang yakni dua pilot yakni Van der Hoop, Poelman, dan seorang mekanik bernama Van Der Broeke. Setelah 55 hari penerbangan penuh tantangan, pesawat Fokker F-VII itu akhirnya tiba pada 24 November 1924 di Batavia. Kelak penerbangan bersejarah ini memberi kontribusi besar pada perkembangan maskapai untuk penerbangan lintas benua antara Belanda dan Indonesia.

“KLM mulai terbang ke Indonesia dalam 5 tahun setelah didirikan dan mulai tahun 1930 memulai penerbangan penumpang terjadwal antara Belanda dan Indonesia. Mengutip pendiri KLM yakni Dr Albert Plesman, ‘Udara menghubungkan kita semua’, sesuatu yang telah kami lakukan sejak lama antara Indonesia dan dunia,” kata Country Manager Air France KLM Indonesia Wouter Gregorowitsch.

Jaringan Sukses

Menurut Wouter, kini Amsterdam-Jakarta sudah bisa ditempuh dalam waktu 16 jam. Bukan hanya itu, jaringan Jakarta-Amsterdam tergolong sukses bagi KLM. Oleh karena itu, KLM ingin terus menghubungkan Indonesia dengan Belanda dan Indonesia dengan dunia.

“Kami melayani tidak hanya dengan KLM, tapi juga bersama para mitra maskapai seperti Garuda dan Air France, sekitar 600.000 penumpang setiap tahun. Pasar Indonesia penting bagi kami, karena masih pasar yang begitu besar, dan orang menghargai produk layanan kami. Masa depan kami di Indonesia sangat cerah, dan lebih banyak orang melakukan perjalanan ke luar Indonesia. Demikian juga banyak orang lebih mampu untuk terbang dan kami ingin terus melayani di sini,” tambahnya.

Wouter mengatakan KLM melayani para penumpang tujuan dari dan ke Indonesia dan semua destinasi di dunia, karena orang tidak hanya pergi ke Amsterdam, mereka mungkin ke New York, Afrika Selatan, atau Amerika Utara. KLM juga menawarkan semua tipe perjalanan, mulai dari bisnis, studi, wisata, atau rekreasi.

Seluruh kisah perjalanan KLM itu dapat disaksikan pengunjung lewat terowongan kapsul waktu. Ada pula pameran kreatif yang menampilkan fokus KLM pada inovasi digital dan komitmen untuk berkontribusi pada masa depan yang berkelanjutan.

Pengunjung juga dapat melihat koleksi lengkap Delft Blue Miniature Houses KLM. Rumah-rumah itu mewakili beberapa rumah tradisional Belanda yang dapat ditemukan di sepanjang kanal di Amsterdam dan kota-kota bersejarah lainnya.



Sumber: Suara Pembaruan