Larangan Pakai Masker Wajah Picu Demonstrasi Lanjutan di Hong Kong

Larangan Pakai Masker Wajah Picu Demonstrasi Lanjutan di Hong Kong
Sekelompok siswa sekolah menengah meneriakkan slogan-slogan ketika bergabung dalam aksi protes di jantung distrik komersial, Central, Hong Kong, Jumat (4/10/2019) setelah pemerintah mengumumkan larangan masker wajah. ( Foto: AFP / Philip FONG )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 7 Oktober 2019 | 06:01 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com- Ribuan orang bergabung dalam aksi protes yang tidak direncanakan di Hong Kong setelah pemerintah mengumumkan larangan pemakaian masker wajah yang mulai berlaku Sabtu (5/10) tengah malam waktu setempat. Larangan itu merupakan bagian dari pemberlakuan hukum darurat era-kolonial oleh Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam pada Jumat (4/10).

Langkah dramatis itu diambil Lam untuk memadamkan kerusuhan anti-pemerintah selama hampir empat bulan, termasuk peningkatan kekerasan dalam aksi protes pada Hari Nasional Tiongkok, Selasa (1/10). Masker wajah selama ini banyak digunakan oleh demonstran untuk menyembunyikan identitas mereka.

Lam mengatakan keputusan itu sulit, tapi perlu saat bahaya kritis untuk kota keuangan tersebut. Dia mengakui, bagaimana pun, masih ada kesempatan langkah itu akan meningkat.

Di bawah Tata Cara Peraturan Darurat yang disusun tahun 1922 sebagai peninggalan era penjajahan Inggris, UU itu memberikan kekuasaan kepada kepala eksekutif untuk membuat peraturan apa pun dalam situasi darurat atau bahaya publik. UU ini memungkinkan sensor publikasi, termasuk media, penangkapan, deportasi, penahanan, penyitaan properti, dan mengizinkan aparat masuk dan melakukan pencarian.

Namun, langkah hari Jumat baru berupa larangan pemakaian masker wajah, Lam tidak mengesampingkan kemungkinan tindakan lebih keras lainnya jika situasi berlanjut. Lam menyatakan orang-orang seharusnya tidak melihat Hong Kong dalam keadaan darurat, tapi sarana untuk mengakhiri kekerasan, membantu penegakkan polisi, dan memulihkan ketertiban.

Aksi protes langsung terjadi hari Jumat setelah larangan itu diumumkan. Banyak orang berangkat kerja lebih pagi untuk bergabung dalam demonstrasi spontan tersebut. Sejumlah demonstran memblokir jalan, membakar bendera Tiongkok, dan merusak stasiun dan pertokoan. Polisi merepsons dengan menyemprot gas air mata.

Perusahaan kereta api, Mass Transit Railway (MTR), mengumumkan penangguhan layanan sepenuhnya untuk seluruh kereta api dan akan berlanjut pada Sabtu sampai pemberitahuan lebih lanjut. Juru bicara MTR menyebut penghentian itu disebabkan aksi vandalisme dan serangan kepada para staf. Gambar-gambar yang beredar menunjukkan api membakar stasiun dan kereta api dibakar. Banyak warga Hong Kong pulang ke rumah dengan berjalan kaki.



Sumber: Suara Pembaruan