Otoritas Hong Kong Tangkap 77 Orang yang Langgar Larangan Masker

Otoritas Hong Kong Tangkap 77 Orang yang Langgar Larangan Masker
Pengunjuk rasa berusaha masuk ke cabang Bank of China di kawasan perumahan Tseung Kwan O Kowloon, Hong Kong, Senin (7/10/2019). ( Foto: AFP / Anthony WALLACE )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 9 Oktober 2019 | 11:41 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com- Otoritas Hong Kong, Selasa (8/10), menangkap 77 orang karena melanggar larangan anti-masker yang diberlakukan akhir pekan lalu. Larangan itu diberlakukan oleh Pemimpin Eksekutif Carrie Lam untuk memadamkan protes jalanan dan kekerasan di kota tersebut.

Polisi menyatakan para demonstran membakar gedung-gedung dan melemparkan bom-bom bensin sepanjang akhir pekan, sedangkan orang-orang lainnya menyerang warga masyarakat yang berbeda pandangan dengan mereka.

“Tindakan kejam dan sembrono seperti itu mendorong aturan hukum ke jurang kehancuran total,” kata Komandan Regional New Territories Utara, Kwok Yam-yung.

“Kami terkejut dengan sejumlah kasus dimana para perusuh dengan kejam memukuli orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka, di tempat-tempat seperti Mong Kok dan Sham Shui Po,” tambah Kwok

Menurutnya, banyak dari orang-orang yang dipukuli itu menjadi tidak sadarkan diri dan mengalami cedera yang mengancam nyawa. “Tolong jangan remehkan kegawatan dari perkembangan ini. Jika para korban serangan seperti ini meninggal karena luka mereka, semua pelanggar bertanggung jawab untuk tuntutan pembunuhan,” tambah Kwok.

Kwok menambahkan beberapa pengunjuk rasa memperlihatkan niatnya untuk membunuh polisi. Pada Jumat (4/10), dari keterangan polisi, seorang petugas Departemen Investigasi Kriminal (CID) diseret keluar dari mobilnya dan dipukuli oleh pengunjuk rasa dengan senjata. Dia melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumunan, tapi mereka berusaha merebut pistolnya.

Sejak UU anti-masker dikeluarkan, 77 orang telah ditangkap termasuk orang termuda berusia 12 tahun. Polisi menyatakan 74 orang ditangkap karena memakai masker wajah selama protes, sedangkan tiga orang lainnya ditangkap karena menolak mematuhi perintah polisi untuk melepaskan masker mereka.

Lebih dari 80 lampu lalu lintas dan stasiun-stasiun kereta api massal (MTR) juga dihancurkan massa sepanjang akhir pekan lalu. Hal itu memicu penutupan sepenuhnya dari jaringan kereta. Selama empat hari terakhir, terjadi lebih dari 22 kasus perusakan (vandalisme).



Sumber: Suara Pembaruan