Tidak Ada WNI Jadi Korban Badai Hagibis

Tidak Ada WNI Jadi Korban Badai Hagibis
Petugas darurat mendayung melintasi banjir menggunakan rakit tiup selama operasi pencarian dan penyelamatan setelah Topan Hagibis, di Nagano, Jepang, Senin (14/10/2019). ( Foto: AFP / Kazuhiro NOGI )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 14 Oktober 2019 | 12:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com-Kementerian Luar Negeri menyatakan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dari badai Hagibis yang melanda Jepang sejak Sabtu (12/10) dini hari.

Meski demikian, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Osaka telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat WNI untuk selalu waspada dan mengikuti informasi dan arahan dari otoritas setempat.

“Tidak ada WNI yang menjadi korban langsung, namun dilaporkan terdapat beberapa WNI yang rumahnya tergenang banjir dan beberapa turis WNI menginap di hotel sampai menunggu jadwal penerbangan,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Yudha Nugraha, di Jakarta, Senin (14/10).

Yudha mengatakan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah menginstruksikan kepada Kedutaan Besar RI (KBRI) Tokyo dan KJRI Osaka agar terus memantau dan membantu para WNI yang terdampak badai tersebut. Jumlah WNI di Jepang mencapai 56.346 orang.

“Cuaca di Tokyo dan Osaka dilaporkan cerah Minggu (13/10) siang dan masyarakat telah kembali beraktivitas. Penerbangan di Bandara Tokyo dan Bandara Osaka juga telah kembali normal,” kata Yudha.

Badai Hagibis mendekati wilayah daratan Pulau Honshu, Jepang, sejak Sabtu lalu. Otoritas Jepang telah memberikan peringatan untuk waspada termasuk kemungkinan banjir dan longsor akibat curah hujan tinggi dan meluapnya air sungai. Namun, pada Minggu siang, badai Hagibis dilaporkan telah melewati Pulau Honshu.

Yudha menambahkan WNI di Jepang bisa menghubungi hotline KBRI Tokyo +8180-4940-7419 dan +8180-3506-8612 atau KJRI Osaka +8180-3113-1003 jika membutuhkan bantuan atau menghadapi situasi darurat. WNI juga bisa menekan “tombol darurat” pada aplikasi Safe Travel Kemlu yang bisa diunduh di Google Play.



Sumber: Suara Pembaruan