Polisi Hong Kong Temukan Bom Rakitan Pertama dalam Aksi Protes

Polisi Hong Kong Temukan Bom Rakitan Pertama dalam Aksi Protes
Seorang demonstran mengibarkan bendera hitam dengan slogan bertuliskan "Bebaskan Hong Kong, revolusi zaman kita" saat unjuk rasa di luar gedung Pengadilan Tinggi untuk mendukung aktivis Edward Leung, di Hong Kong, Rabu (9/10/2019). ( Foto: AFP / Mohd Rasfan )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 16 Oktober 2019 | 07:15 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com- Polisi Hong Kong menyatakan telah menemukan bom buatan (rakitan) yang dikendalikan dari jarak jauh dan mirip dengan bom-bom rakitan yang digunakan dalam serangan teroris. Bom itu menjadi temuan pertama sepanjang aksi protes di Hong Kong yang sudah berlangsung empat bulan.

Perangkat itu dikendalikan dari jarak jauh oleh ponsel dan diledakkan saat mobil polisi melewatinya dan para petugas sedang membersihkan penghalang di jalanan di Mong Kok.

"Untuk pertama kalinya selama kerusuhan sosial ini, kami menyita bom rakitan. Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, salah satu kendaraan kami berjalan melewati Jalan Nathan di Mong Kok ketika ledakan terjadi hanya berjarak 2-3 meter dari mobil polisi," kata Wakil Komisioner Polisi, Tang Ping-keung, Senin (14/10).

"Kami yakin ledakan semacam itu dimaksudkan untuk menyerang petugas kami. Kami secara keras mengecam pembuatan bahan peledak dan itu tindakan sangat berbahaya yang dapat menyebabkan banyak korban," tambah Tang.

Perwira di unit penjinak bom kepolisian, Suryanto Chin-chiu, menambahkan perangkat itu dibuat sendiri serta merupakan peledak buatan yang berkinerja tinggi.

Aksi protes di Hong Kong pada Minggu (13/10) yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi kekacauan dengan pertempuran kecil antara pengunjuk rasa dan polisi di pusat-pusat perbelanjaan dan jalanan.

Sekitar 20 bom bensin dilemparkan ke kantor polisi Mong Kok sepanjang akhir pekan dan para demonstran juga membakar kendaraan polisi di Sha Tin. Seorang polisi juga terluka lehernya karena aksi demonstran.

"Serangan ini menunjukkan niat untuk membunuhnya (polisi). Kekerasan terhadap polisi telah mencapai tingkat yang mengancam nyawa," kata Tang.

"Mereka bukan demonstran, mereka perusuh dan penjahat. Apa pun alasan yang mereka klaim, tidak bisa membenarkan tindakan seperti triad," tambah Tang, merujuk julukan bagi sindikat kejahatan terorganisasi di Tiongkok.



Sumber: Suara Pembaruan