Makan Siang di Sekolah Jadi Kunci Obesitas Rendah pada Anak di Jepang

Makan Siang di Sekolah Jadi Kunci Obesitas Rendah pada Anak di Jepang
Obesitas ( Foto: Fox News )
Happy Amanda Amalia / PYA Sabtu, 19 Oktober 2019 | 11:06 WIB

Tokyo, Beritasatu.com – Pemerintah Jepang ternyata memiliki kunci jawaban yang penting jika disinggung soal tingkat obesitas rendah di kalangan anak-anak, yakni mempertahankan kebijakan menyediakan makan siang di sekolah-sekolah dengan gizi berimbang.

Menurut laporan yang dirilis UNICEF pada Selasa (15/10), Jepang berada di puncak indikator kesehatan anak-anak, dengan tingkat kematian bayi yang rendah, dan memiliki anak-anak dengan berat badan yang tidak berkelebihan.

Selain itu, Jepang juga menangani insiden paling rendah tentang obesitas anak-anak, di mana Negeri Matahari Terbit itu berada di antara 41 negara maju dalam Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan Uni Eropa (UE).

Para ahli mengatakan ada berbagai faktor yang menjadikan Jepang berhasil mempertahankan prestasi tersebut, selain masyarakat yang sadar kesehatan dan pemeriksaan rutin yang diamanatkan untuk anak-anak, tetapi program makan siang sekolah nasional juga memainkan peran kunci.

“Makan siang di sekolah dengan menu yang dibuat oleh ahli gizi disediakan untuk semua sekolah dasar dan sebagian besar untuk sekolah menengah pertama (SMP) di seluruh Jepang,” ujar Mitsuhiko Hara, seorang dokter anak dan profesor di Tokyo Kasei Gakuin University, kepada AFP.

Meskipun sebagian besar makan siang tidak gratis, tetapi program itu mendapat subsidi yang besar. Anak-anak sekolah juga dilarang membawa makanan dalam kemasan.

Setiap makanan diracik dengan kandungan seimbang sekitar 600-700 kalori, antara karbohidrat, daging atau ikan dan sayuran.
Satu sampel makanan yang disajikan untuk anak-anak di Gunma, Jepang terdiri atas nasi dengan ikan bakar dan bayam, dan hidangan tauge, yang disajikan dengan sup miso dengan daging babi, bersama susu dan buah prem kering.

“Makan siang di sekolah dirancang untuk memberikan nutrisi yang cenderung sedikit diperoleh dari makan di rumah. Saya pikir itu berkontribusi pada keseimbangan gizi yang diperlukan untuk anak-anak,” kata pejabat kementerian pendidikan Mayumi Ueda kepada AFP.

Makan dan Belajar
Berbeda dengan sistem kafetaria yang beroperasi di beberapa negara Barat, makan siang di sekolah-sekolah di Jepang biasanya disajikan di ruang kelas. Murid-murid pun kerap saling berbagi makanan dan membersihkan ruangan, setelahnya.

Di samping itu tidak ada pilihan makanan, dan tidak ada konsesi yang ditawarkan bagi murid-murid yang vegetarian, atau siapa pun yang memiliki keterbatasan asupan makan dalam agamanya.

Di sisi lain, aktivitas makan siang tidak hanya sekadar memberi makan anak-anak, tetapi juga untuk mengajarkan mereka.
“Ada pemberitahuan setiap hari di sekolah untuk menjelaskan unsur-unsur gizi yang terkandung dalam makan siang sekolah hari itu, dan ini adalah cara yang baik untuk mendidik anak-anak,” tambah Hara.

Di sekolah dasar, siswa-siswa menggunakan magnet bergambar makanan dan menempatkannya dalam berbagai kategori di papan tulis. Dalam kegiatan itu mereka belajar untuk mengenal protein hingga karbohidrat yang mereka makan.

“Makan siang di sekolah diposisikan sebagai bagian dari pendidikan yang didasarkan pada undang-undang. Ini bukan hanya soal memakan makanan, tetapi anak-anak belajar untuk menyajikan, dan membersihkan sendiri,” tutur Ueda.

Dia menambahkan, Pemerintah Jepang secara berkala mempelajari nutrisi dan kebiasaan makan di Jepang setiap tahun, dan menggunakan hasilnya untuk menentukan makanan apa saja yang masuk ke sekolah.

Sekadar informasi, kegiatan menyajikan makan siang di sekolah di Jepang dimulai pada 1889. Pada tahun itu, pemerintah menyajikan nasi kepal dan ikan bakar bagi anak-anak yang hidup dalam kemiskinan di prefektur Yamagata utara.

Kemudian program tersebut diperluas secara nasional setelah Perang Dunia II berakhir, dengan tujuan mengatasi kelaparan di tengah-tengah kekurangan makanan yang serius.

Pemeriksaan Kesehatan
Hara mengakui jika ada faktor-faktor pendukung lain. “Banyak orang Jepang yang sadar akan kesehatan, mereka mencoba makan berbagai makanan yang baik. Dan kita diajarkan untuk makan makanan musiman, yang juga berkontribusi terhadap kesehatan yang baik. Jepang adalah salah satu negara yang jarang memperhatikan makanan yang dikaitkan dengan musim tertentu,” jelas dia.

Hasilnya pun terlihat jelas dalam statistik di mana Jepang mencatatkan angka kematian bayi terendah di dunia, dan jumlah anak-anak berusia lima hingga 19 tahun yang kelebihan berat badan atau obesitas hanya 14,42% atau jauh lebih rendah daripada kebanyakan negara maju lainnya.

Sedangkan AS berada di puncak peringkat UNICEF pada 41,86%, Italia mencatat 36,87%, dan Prancis berada di angka 30,09%.

Ditambahkan Hara tentang faktor lainnya di Jepang, yakni adanya mandat pemeriksaan kesehatan anak-anak secara teratur. Bahkan para orang tua bayi menerima pengingat dari pemerintah setempat, dan anak-anak diberikan pemeriksaan kesehatan di sekolah, termasuk mengukur tinggi dan berat badan.

Meski demikian, Jepang belum sepenuhnya lepas dari perkembangan tren dari anak-anak yang kelebihan berat badan dan obesitas. Seperti di tempat lain, di Jepang ada faktor yang memengaruhi munculnya kelebihan berat badan yang biasanya datang dari kalangan keluarga miskin.

“Anak-anak di keluarga miskin cenderung menderita kelebihan berat badan karena keluarga berusaha untuk mengurangi biaya. Akibatnya, mereka makan lebih sedikit protein tetapi mengonsumsi lebih banyak karbohidrat dan gula, yang mengarah pada obesitas,” ujar Hara.

Oleh karena itu, lanjut dia, makan siang di sekolah lebih penting bagi anak-anak dalam situasi seperti itu. “Banyak nutrisi yang ditambahkan dalam makan siang di sekolah, jadi makan siang di sekolah juga berfungsi sebagai makanan yang menyelamatkan anak-anak dari kemiskinan,” tambah Hara.



Sumber: Investor Daily