Tiongkok: Tak Ada yang Bisa Hentikan Reunifikasi Taiwan

Tiongkok: Tak Ada yang Bisa Hentikan Reunifikasi Taiwan
Kendaraan militer membawa pasukan dari Tentara Pembebasan Rakyat berbaris saat parade untuk merayakan peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok di Lapangan Tiananmen, Beijing, 1 Oktober 2019. ( Foto: Getty Images / Sheng Jiapeng )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 23 Oktober 2019 | 08:12 WIB

Beijing, Beritasatu.com- Menteri Pertahanan Tiongkok Jenderal Wei Fenghe membuat seruan tanpa kompromi untuk "penyatuan kembali" Taiwan dengan daratan Tiongkok. Pada Senin (21/10), dia mengatakan kepada forum pertahanan tingkat tinggi bahwa  "tidak ada kekuatan" apapun yang bisa menghentikan proses itu.

Taiwan yang berkuasa sendiri dipandang oleh Tiongkok sebagai provinsi pemberontak yang pada akhirnya akan dipersatukan dengan daratan. Penyatuan bahkan tetap dilakukan dengan kekerasan jika perlu, setelah kedua belah pihak berpisah pada tahun 1949 setelah perang saudara.

“Tiongkok tidak akan berhenti dalam upayanya untuk mewujudkan penyatuan kembali sepenuhnya tanah air. Tiongkok adalah satu-satunya negara besar di dunia yang belum mencapai reunifikasi lengkap Itu adalah sesuatu yang tak seorang pun dan tidak ada kekuatan yang bisa menghentikannya,” kata Menteri Pertahanan Jenderal Wei Fenghe kepada para menteri pertahanan dan pejabat dari seluruh Asia di Forum Xiangshan di Beijing.

Hubungan antara Taipei dan Beijing telah memburuk sejak pemilihan Presiden Tsai Ing-wen 2016, menolak klaim bahwa Taiwan adalah bagian dari "satu Tiongkok".

Sejak itu, Tiongkok telah merampas sejumlah sekutu politik dari Taipei, meninggalkannya dengan sejumlah negara yang semakin menyusut yang mengakui pemerintahan Taiwan.

Wei mengatakan Tiongkok ingin mempromosikan hubungan lintas-selat yang damai. Tetapi Tiongkok tidak akan pernah membiarkan separatis Taiwan melakukan gerakan gegabah, dan Tiongkok tidak akan pernah duduk dan menonton pasukan luar mengganggu.

“Terlibat dalam separatisme hanya bisa menjadi jalan buntu,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan