Didakwa Terorisme, 3 WNI di Singapura Terancam Maksimal 10 Tahun Penjara

Didakwa Terorisme, 3 WNI di Singapura Terancam Maksimal 10 Tahun Penjara
Para istri dan anak pengikut ISIS ditampung di suatu kamp pengungsian di Suriah. ( Foto: AFP / Giuseppe Cacace )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Jumat, 25 Oktober 2019 | 19:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Tiga perempuan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) menjalani persidangan pertama Rabu (23/10), dengan dakwaan pendanaan terorisme. Ketiga WNI itu sudah ditahan sejak September 2019 di bawah Undang-undang Keamanan Internal (ISA) Singapura.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Yudha Nugraha, membenarkan persidangan tersebut. Yudha menjelaskan ketiga WNI itu didakwa melakukan pelanggaran Supression of Financing Act karena mengirimkan sejumlah uang untuk mendukung kegiatan terorisme.

“KBRI Singapura telah mendampingi para WNI seama proses persidangan untuk memastikan ketiganya diperlakukan secara adil dan mendapatkan hak-haknya selama proses persidangan,” kata Yudha kepada SP di Jakarta, Jumat (25/10).

Yudha hanya memberikan inisial ketiga WNI itu yaitu RH, TM, dan AA. Namun, media Singapura, Channel News Asia (CNA), menyebutkan mereka adalah Anindia Afiyantari (33), Retno Hernayani (36), dan Turmini (31).

Ketiga WNI ditangkap dan diselidiki oleh Departemen Keamanan Dalan Negeri (ISD) karena mendukung kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dan kelompok afiliasinya di Indonesia yaitu Jemaah Anshorut Daulah (JAD).

Yudha mengatakan proses persidangan ketiga WNI itu masih terus berlanjut. Namun, dia tidak menjawab saat ditanyakan apakah ketiganya didampingi pengacara dari KBRI atau tidak. Menurut Yudha, ketiga WNI itu menghadapi ancaman hukuman denda atau penjara atau keduanya.

“Hukuman bagi pelanggaran tersebut adalah denda tidak lebih dari 500.000 dolar Singapura (Rp 5,1 juta) atau hukuman penjara tidak lebih dari 10 tahun, atau keduanya,” ujarnya.

Dalam siaran pers Kementerian Dalam Negeri Singapura, ketiga WNI itu sebelum ditangkap telah bekerja sebagai PRT di Singapura selama 6-13 tahun. Berdasarkan penyelidikan Departemen Urusan Komersial (CAD) di Pasukan Kepolisian Singapura, ketiganya mengumpulkan dan/atau memberikan uang dalam beberapa kesempatan kepada orang-orang di Indonesia antara September 2018-Juli 2019.

“Mereka memiliki alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa dana ini akan digunakan untuk memfasilitasi tindakan teroris di luar negeri,” sebut pernyataan Kemdagri Singapura.