Soal Pakta Dagang, KTT ASEAN Kejar Dukungan Tiongkok

Soal Pakta Dagang, KTT ASEAN Kejar Dukungan Tiongkok
Seorang polisi Kerajaan Thailand berjaga-jaga pada Jumat (1/11/2019) di luar tempat pertemuan puncak Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ke-35 yang berlangsung di Bangkok, Thailand. ( Foto: AFP / Manan VATSYAYANA )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Sabtu, 2 November 2019 | 18:35 WIB

Bangkok, Beritasatu.com- Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-35 ASEAN yang digelar 2-4 November 2019 di Bangkok, Thailand, akan dihadiri oleh para pemimpin ASEAN dan mitranya.

Dalam pertemuan itu, pemimpin ASEAN akan mengejar dukungan Tiongkok untuk penyelesaian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang nantinya menjadi pakta perdagangan terbesar di dunia.

Berdasarkan situs resmi ASEAN Summit 2019, pemimpin negara mitra yang akan hadir adalah Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison, PM Tiongkok Li Keqiang, PM India Narendra Modi, PM Jepang Shinzo Abe, PM Selandia Baru Jacinda Ardern, PM Rusia Dmitry Medvedev, utusan khusus presiden Amerika Serikat (AS), Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Antonio Guterres, dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva. Sementara, dari pihak ASEAN akan dihadiri 10 kepala negara atau pemerintahan.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dijadwalkan berangkat ke Bangkok pada Sabtu (2/11) untuk memimpin delegasi Indonesia. ASEAN, termasuk Indonesia, KTT ASEAN menghasilkan terobosan dalam pembicaraan RCEP setelah melewati tujuh tahun perundingan.

Jika disepakati, RCEP akan melibatkan 10 negara ASEAN ditambah enam negara mitra (Jepang, Korsel, Tiongkok, India, Selandia Baru, dan Australia). RCEP ASEAN dan negara mitranya bisa mencakup 30 persen perdagangan global dan setengah populasi dunia.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut kerja sama itu akan menawarkan banyak peluang. Tiongkok dengan populasi dua miliar, ASEAN dengan total populasi sekitar 600 juta, ditambah India dengan populasi 1,3 miliar, bisa menciptakan banyak kesempatan. Retno menyebut RCEP ini bisa menjadi integrasi ekonomi lebih besar, termasuk dibandingkan dengan Trans-Pacific Partnership (TPP).

“Mereka (ASEAN) akan berusaha membuat cukup keputusan bersama-sama sehingga mereka bisa menandatangani sesuatu, sekalipun bukan kesepakatan final,” kata pengamat kebijakan yang berbasis di Pusat Perdagangan Asia di Singapura, Jumat (1/11).



Sumber: Suara Pembaruan