Malaysia Usut Aset 1MDB di Lima Negara

Malaysia Usut Aset 1MDB di Lima Negara
Najib Razak, mantan perdana menteri Malaysia, meninggalkan pengadilan di Kuala Lumpur pada 3 April 2019 saat hari pertama dalam persidangan skandal korupsi 1MDB. ( Foto: AFP/ Getty Images / Mohd RASFAN )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 6 November 2019 | 12:31 WIB

Kuala Lumpur, Beritasatu.com- Malaysia sedang berupaya menemukan setidaknya US$ 4,3 miliar (Rp 60,1 triliun) aset-aset lembaga keuangan 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Aset tersebut diduga menjadi objek pencucian uang global dalam kasus dugaan korupsi perusahaan investasi 1MDB. Malaysia saat ini bekerja sama dengan setidaknya lima negara untuk memulihkan aset-aset tersebut.

Otoritas Amerika Serikat (AS) menyatakan sekitar US$ 4,5 miliar (Rp 62,9 triliun) telah disedot dari dana 1MDB, namun para pejabat Malaysia menyebut lebih banyak lagi dana yang dicuri. AS membuat kesepakatan pekan lalu untuk memulihkan sekitar US$ 700 juta (Rp 9,7 triliun) dari buronan pemodal Jho Low, yang memainkan peran sentral dalam skandal itu.

Sebelumnya, kapal pesiar milik Low senilai US$ 126 juta (Rp 1,7 triliun) dan aset-aset lainnya senilai US$ 140 juta (Rp 1,9 triliun) telah disita.

Namun sekitar 18 miliar ringgit (Rp 60,9 triliun) aset-aset masih belum terindentifikasi dan Malaysia bekerja dengan setidaknya lima negara untuk memulihkannya.

“Ini yang kami sedang kerjakan, untuk menemukan, menyelidiki, dan meneliti dimana properti-properti itu,” kata Kepala Komisi Anti Korupsi Malaysia (MACC), Latheefa Koya, Selasa (5/11).

Koya menolak memberikan rincian lebih lanjut tentang aset-aset yang dicari atau negara yang dilibatkan karena masih menunggu penyelidikan.

Setidaknya enam negara termasuk Singapura dan Swiss, sedang menyelidiki dugaan korupsi dan pencucian uang perusahaan 1MDB. Perusahaan itu telah menyeret pendirinya yang juga mantan perdana menteri (PM), Najib Razak, ke meja hijau.

Najib, yang juga kalah dalam pemilu 2018, dijatuhkan 42 dakwaan kejahatan terkait kerugian 1MDB dan entitas negara lainnya. Namun, dia secara konsisten membantah melakukan kesalahan, sedangkan para pengacaranya menyebut kliennya disesatkan oleh para pejabat tinggi di perusahaan investasi itu.



Sumber: Suara Pembaruan