Akibat Nikah Beda Kasta, Pasangan India Mati Dirajam

Akibat Nikah Beda Kasta, Pasangan India Mati Dirajam
Warga India menggelar demo untuk menentang hukuman tradisi akibat perbedaan kasta. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 8 November 2019 | 07:09 WIB

New Delhi, Beritasatu.com- Meskipun globalisasi sudah meluas, tradisi puritan masih berlangsung di sejumlah negara. Di India, satu pasangan tewas dirajam karena menikah beda kasta.

Pada Kamis (7/11), polisi mengatakan seorang wanita India yang menikah di luar kasta dan melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari hukuman rajam kepadanya dan suami. Pasangan suami istri itu dilempari batu sampai mati setelah pasangan itu kembali ke desa untuk mengunjungi keluarga.

Sang wanita berusia 29 tahun telah menikah tiga tahun lalu dengan pria dari desa yang sama di negara bagian selatan Karnataka.

Pasangan itu menentang keinginan keluarga mereka dan pindah ke Bangalore dan kota-kota lain di wilayah tersebut, dan sudah memiliki dua anak. Tetapi mereka kembali ke desa bulan lalu untuk bertemu dengan anggota keluarga.

"Mereka terlihat oleh penduduk desa pada hari Rabu, yang memberi tahu saudara perempuan wanita itu yang kemudian mengumpulkan massa untuk menyerang pasangan itu dan membunuh mereka dengan batu," kata perwira polisi setempat Guru Shanth kepada AFP.

Menurut polisi, tiga dari terdakwa utama telah diidentifikasi, termasuk saudara lelaki dan paman perempuan itu.

Insiden tersebut adalah kasus yang terbaru dari serangkaian "pembunuhan demi kehormatan" yang merajalela di kantong-kantong pedesaan India.

Hukuman rajam biasanya dilakukan oleh kerabat dekat atau tetua desa untuk melindungi apa yang dilihat sebagai reputasi keluarga dalam sistem kasta yang kaku.

Statistik Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperkirakan 1.000 dari 5.000 pembunuhan semacam itu secara global terjadi setiap tahun di India.

Mahkamah Agung India memutuskan pada 2011 bahwa orang-orang yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan semacam itu harus menghadapi hukuman mati.



Sumber: Suara Pembaruan