Korut Tuding AS Provokasi Ketegangan di Semenanjung Korea

Korut Tuding AS Provokasi Ketegangan di Semenanjung Korea
Duta Besar Korea Utara untuk PBB, Kim Song, berbicara dalam sesi debat di Sidang Majelis Umum PBB ke-74, di Markas Besar PBB, di New York, Amerika Serikat, pada 30 September 2019. ( Foto: AFP / Don Emmert )
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 12 November 2019 | 15:57 WIB

New York, Beritasatu.com - Korea Utara (Korut) menuding Amerika Serikat (AS) telah melakukan provokasi politik dan militer yang memicu ketegangan di Semenanjung Korea.

Korut juga menuduh Korea Selatan (Korsel) telah memainkan perilaku “transaksi ganda” dalam perundingan penghentia program nuklir (denukrilisasi) antara AS dan Korut.

Pernyataan itu, disampaikan Duta Besar (Dubes) Korut untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kim Song, dalam Sidang Majelis Umum PBB, di New York, Senin (11/11/2019). Sidang tersebut dihadiri 193 dubes atau utusan khusus negara-negara anggota PBB.

Menurut Kim Song, meskipun hubungan AS dan Korut mengalami sedikit kemajuan sejak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Presiden AS, Donald Trump, dan Pemimpin Korut, Kim Jong-un, pada Juni 2018, situasi di Semenanjung Korea masih tetap tegang.

“Hingga kini, Semenanjung Korea belum dapat melepaskan diri dari lingkaran setan. Ketegangan yang terjadi sepenuhnya disebabkan oleh provokasi politik dan militer yang dilakukan AS. Itulah situasi yang sebenarnya,” ujar Kim Song, di Markas Besar PBB, New York, AS, Senin (11/11/2019).

Sejak dimulainya pembicaraan nuklir tahun lalu, lanjut Kim Song, AS dan Korsel memang telah membatalkan atau mengurangi latihan militer reguler di Semenanjung Korea untuk menciptakan ruang bagi diplomasi.

Tetapi Korut menilai latihan apa pun yang tetap dijalankan AS dan Korsel meskipun bukan di Semenanjung Korea sebagai latihan untuk invasi.

Kim Song mengungkapkan, Korut telah menunjukkan itikad baik, sejak Presiden Donald Trump bertemu dengan Kim Jong-un, dengan tidak lagi melakukan uji coba misil jarak jauh dan melanjutkan program nuklir. Namun hal sebaliknya tidak ditunjukkan oleh AS, sehingga perundingan nuklir AS-Korut menemui jalan buntu.

“Sejak tahun lalu, kami telah melakukan upaya proaktif dengan itikad baik untuk membangun perdamaian abadi di semenanjung Korea. Selama 20 bulan, kami tidak melakukan uji coba senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua, tapi bagaimana dengan AS,” ujar Kim Song.

Dalam beberapa bulan terakhir, Korut berusaha menekan AS untuk membuat proposal baru yang menindaklanjuti pertemuan Presiden Trump dan Kim Jong-un.

Seperti diketahui, Presiden Donald Trump dan Kim Jong-un mengadakan pertemuan pertama kali di Singapura pada Juni 2018, dan sepakat untuk memproses denukrilisasi Korut. Namun dalam pertemuan keduanya di Vietnam, pada Februari 2019, tak ada kesepakatan lebih lanjut mengenai rencana denukrilisasi. 

 

 



Sumber: Suara Pembaruan