Keamanan Maskapai Malaysia Gagal Penuhi Standar FAA

Keamanan Maskapai Malaysia Gagal Penuhi Standar FAA
Pesawat Malaysia Airlines ( Foto: Istimewa/PR )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 13 November 2019 | 07:31 WIB

Kuala Lumpur, Beritasatu.com- Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) menyatakan pada Senin (11/11) bahwa Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia tidak lagi memenuhi standar keselamatan internasional. Atas dasar itu, peringkat keamanan maskapai Malaysia diturunkan setelah peninjauan.

Peringkat yang direvisi berarti Malaysia kurang dalam satu area atau lebih di bawah standar keselamatan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.

“Di bawah peringkat "Kategori 2" yang direvisi, operator Malaysia dapat melanjutkan layanan yang ada ke Amerika Serikat (AS) tetapi tidak diizinkan untuk membangun layanan baru ke Amerika Serikat,” kata FAA.

Peringkat keselamatan FAA didasarkan pada rezim pengawasan penerbangan suatu negara dan penilaian otoritas penerbangan sipil negara tersebut.

Saat ini, satu-satunya rute maskapai Malaysia ke Amerika Serikat adalah layanan AirAsia X Bhd dari Kuala Lumpur ke Honolulu melalui Osaka.

Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia dan FAA tidak segera menanggapi permintaan komentar. Kementerian transportasi Malaysia juga tidak memiliki komentar segera.

Seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan FAA membuat pengumuman resmi pada Selasa. Pejabat itu mengatakan pemerintah AS bekerja sama dengan Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia dan akan membantu negara Asia Tenggara mencapai standar internasional yang akan memberinya peringkat Kategori 1 teratas.

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengaku tidak mengetahui rincian soal penurunan peringkat maskapai Malaysia.

“Jika ada yang salah dengan otoritas penerbangan sipil kami, kami akan mengambil tindakan, kami akan memperbaiki situasi,” katanya kepada wartawan.

Penurunan peringkat ini menempatkan Malaysia dalam kategori FAA yang sama dengan negara tetangga Thailand, yang diturunkan peringkatnya menjadi Kategori 2 pada Desember 2015 dan sejak itu gagal mencoba mengembalikan peringkat Kategori 1-nya. Negara-negara lain di Kategori 2 termasuk Bangladesh, Ghana dan Kosta Rika.



Sumber: Suara Pembaruan