Demokrasi Liberal Berpeluang Suburkan Islam Radikal

Demokrasi Liberal Berpeluang Suburkan Islam Radikal
Kepala Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Siti Musdah Mulia, menyampaikan pidato dalam pembukaan ASEAN Women Interfaith Dialogue (Dialog Lintas agama Perempuan ASEAN), di Jakarta, Selasa (12/11/2019). ( Foto: Dok SP / Natasia Christy )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 13 November 2019 | 15:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Demokrasi liberal yang memungkinkan kebebasan tanpa batas, berpeluang menyuburkan penyebaran ideologi Islam radikal. Jika tidak diwaspadai, radikalisme Islam justru memanfaatkan instrumen demokrasi untuk menyebarkan ideologi anti-demokrasi, anti-pluralisme, dan anti-feminisme.

Hal itu disampaikan Kepala Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Siti Musdah Mulia, dalam pidatonya berjudul Mengelola Keberagaman, Multi-peran, serta Kontribusi Perempuan dalam Mengelola Tantangan dan Langkah ke Depan dalam pembukaan ASEAN Women Interfaith Dialogue (Dialog Lintas agama Perempuan ASEAN), di Jakarta, Selasa (12/11). Dialog itu mengangkat tema Mempromosikan Pemahaman untuk Masyarakat yang Inklusif dan Damai.

Menurut Siti Musdah Mulia, radikalisme Islam yang berkembang saat ini tidak muncul begitu saja, tapi dari berbagai latar belakang kontekstual dan tidak dibentuk hanya oleh satu faktor.

Dalam iklim demokrasi yang memungkinkan kebebasan tanpa batas, Islam dengan kecenderungan radikal dalam berbagai alirannya justru semakin berkembang.

Dengan memanfaatkan instrumen demokrasi yang memungkinkan kebebasan berpendapat, beragama, dan berorganisasi, gerakan radikalisme Islam justru masuk ke berbagai lingkup, terutama di lingkungan pendidikan dan komunitas masyarakat.

Yang terburuk, lanjut Siti Musdah Mulia, gerakan radikalisme Islam bukan hanya menyasar kaum lelaki untuk menjadi pejuang atau jihadis, tetapi menjadikan perempuan sebagai sasaran utama untuk menyebarkan ideologi anti-demokrasi, anti-pluralisme, daan anti-feminisme di lingkungan keluarga.

“Sudut pandang radikalisme Islam merupakan ancaman terhadap perempuan. Pandangan mereka menolak prinsip demokrasi, terutama prinsip keadilan dan kesetaraan gender, tapi justru tidak disadari oleh kaum perempuan yang terpapar ideologi radikalisme Islam,” kata Siti Musdah Mulia.

Menurut Siti Musdah Mulia, agama Islam telah terlalu lama menunjukkan wajah maskulin daripada sisi feminin. Sejujurnya, jenis penafsiran agama Islam yang diterima dan diadopsi secara luas bahkan oleh perempuan Indonesia, adalah tafsir patriarki atas kitab suci.

Kesalahan penafsiran itu, menyebabkan perkawinan paksa, pernikahan anak-anak, dan poligami justru merajalela di kalangan pemeluk Islam.

Situasi itu tentu tidak menguntungkan untuk perempuan karena umumnya berakhir dengan perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, terutama gadis-gadis muda akan terbawa kepada narkotika, penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS, prostitusi, pekerja migran, dan aborsi.

“Penting untuk dicatat, di dunia Islam, kapan pun kaum konservatif dan radikal menang, yang pertama kali terpengaruh adalah wanita. Kenapa begitu? Karena secara sosial dan politik, ‘penjinakan perempuan’ berbiaya murah dan mudah tercapai karena struktur patriarki dan tidak mendapat perlawanan sosial dan politik,” ujar Siti Musdah Mulia.

Siti Musdah Mulia menjelaskan, radikalisme Islam juga menolak program keluarga berencana dengan semua elemennya, termasuk penggunaan kontrasepsi. Gerakan radikalisme Islam juga mendorong dan mengintimidasi generasi muda untuk tidak berpacaran dan cepat menikah.

“Untuk mensukseskan pernikahan anak, mereka membuat program gila yang dikenal sebagai ITP (Indonesia Tanpa Pacaran, red) yang mengintimidasi anak muda ke pernikahan dini,” kata Siti Musdah Mulia.



Sumber: Suara Pembaruan