Ajukan Konsep Indo-Pasifik

Indonesia Tak Ingin ASEAN Terjepit Negara “Superpower”

Indonesia Tak Ingin ASEAN Terjepit Negara “Superpower”
Retno Marsudi. ( Foto: Antara )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 13 November 2019 | 15:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Indonesia mengajukan konsep Indo-Pasifik karena tidak ingin ASEAN terjepit oleh negara-negara “Superpower” yang berlomba menancapkan pengaruh di kawasan Asia-Pasifik dan Indo-Pasifik. Konsep Indo-Pasifik kini telah diadopsi menjadi ASEAN Outlook on Indo-Pacific. 

Pernyataan itu, disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi I DPR di Gedung Nusantara II DPR, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Dalam raker tersebut, Retno juga menyampaikan program kerja dan anggaran Kementerian Luar Negeri Tahun 2020.

Menurut Retno Marsudi, setelah Asia Pasifik, perhatian dunia saat ini tertuju kepada kawasan Indo-Pasifik. Beberapa negara besar sudah mengajukan konsepnya tentang Indo-Pasifik seperti Amerika Serikat (AS), Australia, India, dan Jepang.

Alasan Indonesia mengajukan konsep Indo-Pasifik untuk diadopsi ASEAN karena tak menginginkan ASEAN yang berada di tengah antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia hanya menjadi penonton saja.

“Pertanyaannya, apabila semua orang bicara mengenai konsep atau cara pandang Indo-Pasifik, kemudian ASEAN duduk dengan tenang, maka akan menjadi aneh,” kata Retno Marsudi.

ASEAN yang sudah 52 tahun menikmati stabilitas perdamaian, lanjut Retno Marsudi, bisa berubah situasinya karena munculnya rivalitas (persaingan) untuk mengedepankan konsep Indo-Pasifik dari kekuatan dunia.

“Kita bisa menjadi kejepit antara kekuatan-kekuatan besar, karena itu pada Juni 2019 para leaders ASEAN sepakat untuk mengadopsi ASEAN Outlook on Indo-Pacific yang dratnya disiapkan oleh Indonesia,” ujar Retno Marsudi.

Retno Marsudi menjelaskan, konsep ASEAN untuk Indo-Pasifik menekankan dua hal, yaitu cara pandang secara geopolitik dan geoekonomi. Indonesia juga memasukkan kepentingan dalam negeri terkait pembangunan infrastruktur.

Dari sisi geopolitik, ASEAN ingin mengedepankan habit of dialogue (kebiasaan berdialog), menebarkan cara pandang yang inklusif bukan rivalitas atau eksklusivitas, dan penghormatan terhadap hukum internasional.

“Keliatannya mudah disampaikan, tapi itu sangat sulit untuk diterapkan di tengah situasi rivalry (persaingan) seperti ini,” kata Retno Marsudi.

Dari sisi geoekonomi, lanjut Retno Marsudi, konsep Indo-Pasifik harus dirasakan manfaatnya dan menyejahterakan masyarakat. Ada empat fokus bidang kerja sama yaitu maritim, konektivitas, tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), serta perdagangan dan investasi.

“SDGs ini seharusnya tercapai targetnya pada 2030, kita punya 11 tahun lagi. Mau tidak mau kita harus saling bantu. Dalam dunia saling terkait ini, kalau satu dua gagal, pasti akan mempengaruhi yang lain,” ujar Retno Marsudi.



Sumber: Suara Pembaruan