Polisi Hong Kong Tuding Universitas Dijadikan “Pabrik Senjata”

Polisi Hong Kong Tuding Universitas Dijadikan “Pabrik Senjata”
Ribuan pekerja di kawasan pusat bisnis Hong Kong, melakukan aksi unjuk rasa selama istirahat makan siang, Rabu (13/11/2019). Mereka memakai masker wajah yang telah dilarang otoritas Hong Kong dan membuka payung sebagai bentuk dukungan untuk gerakan demontrasi yang mengusung slogan “mekar di mana saja”. ( Foto: AFP / DALE DE LA REY )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 14 November 2019 | 15:26 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com - Polisi menuding Universitas Tiongkok Hong Kong (Chinese University of Hong Kong/CUHK) telah dijadikan “pabrik senjata” untuk membuat ratusan bom molotov yang dilemparkan ke petugas saat aksi demonstrasi, pada Selasa (12/11/2019).

“Universitas yang seharusnya menjadi tempat untuk menumbuhkan para pemimpin masa depan, tapi menjadi medan perang bagi para penjahat dan perusuh,” kata juru bicara kepolisian Hong Kong Kepala Inspektur, Tse Chun-chung, dalam konferensi pers, di Hong Kong, Rabu (13/11/2019).

Menurut Tse Chun-chung, para mahasiswa menggunakan bom molotov, busur dan panah, serta lembing untuk menargetkan polisi. Mereka sudah mencapai tingkat kekerasan sangat berbahaya bahkan mematikan.

“Orang mungkin bertanya dari mana semua bom-bom bensin dan senjata ini? Dimana mereka membuatnya, bagaimana memobilisasinya dalam waktu singkat. Kami memiliki dugaan kuat bahwa universitas itu (CUHK, Red) telah digunakan sebagai pabrik senjata,” kata Tse Chun-chung.

Demonstrasi pro-demokrasi yang berlangsung pada Selasa (12/11/2019), berakhir dengan bentrokan antara petugas dan pengunjuk rasa. Lahan perbukitan yang menjadi lokasi CUHK di New Territories yang biasanya tenang, berubah menjadi pusat bentrokan di seluruh universitas kota itu. Banyak korban terluka dalam bentrokan tersebut.

Menurut Tse Chung-chung, polisi yang terdesak dan dilempari dengan bom molotov dari demonstran yang berkumpul di CUHK, akhirnya menanggapi dengan melepaskan gas air mata dan menggunakan senjata berpeluru karet dan peluru busa.

“Siapa yang bisa membayangkan sebuah universitas menjadi pangkalan pembuatan untuk bom-bom bensin dan pengungsian bagi para perusuh dan penjahat?” ujar Tse Chun-chung.

Pasca bentrokan, sekelompok mahasiswa di CUHK berusaha meninggalkan kampus pada Rabu (13/11/2019) pagi waktu setempat karena alasan keamanan, tapi harus diangkut dengan kapal karena tidak bisa pergi melewati jalanan yang terhalang.

Demonstran pro-demokrasi membangun barikade di sejumlah kampus universitas di Hong Kong, sebagai “panggung” untuk melakukan konfrontasi lebih lanjut dengan polisi.

Para demonstran, yang sebagian besar pelajar, menghabiskan sepanjang hari Rabu untuk membentengi barikade dan menimbun banyak makanan serta senjata. Kelompok demonstran lainnya memblokade jalur transportasi dan bisnis di banyak wilayah sehingga menimbulkan kekacauan di kota itu.

Di kawasan pusat bisnis Hong Kong, sekitar 1.000 karyawan memblokir jalan-jalan saat jam makan siang, Rabu (13/11/2019). Mereka memakai masker wajah yang sudah dilarang oleh otoritas Hong Kong dan berbaris sambil membuka payung sebagai bentuk dukungan terhadap aksi demonstrasi pro-demokrasi.

Puluhan polisi anti-huru-hara berusaha membubarkan kerumunan di dekat bursa saham sambil melumpuhkan beberapa orang ke tanah dan memukul orang lainnya dengan tongkat.

Pada Rabu (13/11/2019) malam waktu setempat, polisi yang berkendaraan lapis baja dengan seorang petugas menembakkan peluru karet dari atas atap untuk menghantam dan membubarkan demonstran yang memblokir lalu lintas.

Pihak CUHK menyatakan mengakhiri jadwal akademik untuk semester terakhir secara prematur karena meningkatnya kekerasan, serta gangguan transportasi publik secara berkelanjutan dan kerusakan fasilitas kampus.

“Semua kelas yang digelar di kampus dibatalkan yang langsung berlaku efektif sampai awal Term 2 pada 6 Januari 2020,” sebut pernyataan dari CUHK.

 

 



Sumber: Suara Pembaruan