Demonstrasi Hong Kong Lumpuhkan Sektor Pendidikan

Demonstrasi Hong Kong Lumpuhkan Sektor Pendidikan
Polisi anti huru-hara menembakkan gas air mata ketika demonstran berlari meninggalkan Universitas Politeknik Hong Kong, menuju Terowongan Cross Harbour, di Distrik Hung Hom, Senin (18/11/2019). Demonstran prodemokrasi yang melakukan aksi unjuk rasa pada Minggu (17/11/2019), bersembunyi di Universitas Politeksi Hong Kong dan terkepung polisi. (Foto: AFP / DALE DE LA REY)
Natasia Christy Wahyuni / JAI Senin, 18 November 2019 | 13:57 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com - Aksi demonstrasi prodemokrasi Hong Kong yang mulai menyasar kompleks kampus dan sekolah telah melumpuhkan sektor pendidikan. Kegiatan belajar mengajar dihentikan sejak Kamis (14/11), bahkan beberapa universitas ditutup hingga Januari 2020.

Biro Pendidikan Hong Kong telah mengumumkan seluruh sekolah ditutup pada Senin (18/11) untuk kepentingan keamanan. Kegiatan belajar dari taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi dihentikan hingga penguuman lebih lanjut jika situasi di Kota Hongkong kondusif.

Lebih dari satu juta siswa Taman Kanak-Kanak (TK) dan jutaan siswa sekolah menengah hingga perguruan tinggi terkena dampak penghentian kegiatan belajar-mengajar akibat aksi demonstrasi prodemokrasi.

Dalam pengumumannya, Biro Pendidikan Hong Kong, menyatakan kegiatan pendidikan terpaksa dihentikan karena gangguan pada sistem transportasi akibat aksi demontrasi, yang menghambat para siswa dan mahasiswa menuju ke kampus dan sekolah mereka.

Aksi kekerasan dan pengrusakan sarana publik yang dilakukan demonstran prodemokrasi saat terjadi bentrokan dengan polisi anti huru hara Hong Kong sejak akhir pekan lalu, telah menyebabkan sejumlah ruas jalan ditutup, bahkan layanan kereta dihentikan.

“Semua pihak harus secepatnya menghentikan semua kegiatan kekerasan dan destruktif, sehingga anak-anak bisa kembali ke kehidupan normal. Jika situasi mengizinkan, sekolah-sekolah akan kembali dibuka pada pada Selasa (19/11/2019),” bunyi pengumuman Biro Pendidikan Hong Kong, Senin (18/11/2019).

Bentrokan antara demonstran prodemokrasi dan polisi Hong Kong semakin intensif dan meluas ke sejumlah sarana pendidikan. Pekan lalu, aksi demonstrasi telah menyebar ke Universitas Tiongkok Hong Kong (Chinese University of Hong Kong/CUHK), yang berakhir dengan puluhan orang terluka.

Demonstran tak hanya menggunakan bom molotov, tetapi juga membawa senjata baru berupa busur dan panah untuk menghadapi polisi anti huru-hara. Polisi mengancam akan memakai peluru tajam jika dikonfrontasi dengan senjata-senjata mematikan.

Peringatan polisi datang setelah seorang perwira terkena tembakan busur panah pada kakinya dalam aksi protes di Universitas Politeknik Hong Kong (PolyU). Demonstran prodemokrasi bersembunyi di PolyU dan dan membakar gerbang masuknya untuk menghalangi polisi masuk ke kompleks kampus tersebut.

Polisi sudah mengepung Universitas PolyU sejak Minggu (17/11/2019) malam, sambil memperingatkan agar orang-orang meninggalkan tempat itu atau artinya berperan dalam kerusuhan.

Sisa-sisa bom bensin, batu bata, dan paku berserakan di jalan setelah sepanjang hari yang sangat keras akibat pertempuran polisi dan demonstran di kampus yang berlokasi strategis itu di Kowloon.

Polisi memakai pengeras suara untuk memerintahkan evakuasi dari Universitas Politeknik Hong Kong. Perangkat suara anti-huru-hara yang kontroversial itu dipakai untuk pertama kalinya.

Juru bicara polisi mengonfirmasi menggunakan perangkat akustik jarak jauh itu, dipasang di atas kendaraan lapis baja, untuk memberi peringatan kepada para perusuh. Sistem itu diklaim tidak menyebabkan pusing, mual, atau kehilangan arah.

“Para perusuh secara sembarangan merusak fasilitas-fasilitas, melemparkan batu bata dan bom-bom bensin ke arah petugas polisi, membahayakan keselamatan publik,” sebut pernyataan polisi.



Sumber: Suara Pembaruan