Polisi Hongkong Sebut Universitas Jadi "Lokasi Kerusuhan"

Polisi Hongkong Sebut Universitas Jadi
Demonstran ditangkap polisi di dekat Universitas Politeknik Hong Kong, Distrik Hung Hom, Hong Kong, Senin (18/11/2019). Demonstran prodemokrasi bersembunyi di kampus universitas tersebut, dan membakar pintu masuk utamanya untuk mencegah polisi masuk. ( Foto: AFP / DALE DE LA REY )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Senin, 18 November 2019 | 14:44 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com - Polisi Hong Kong mengumumkan sejumlah kampus telah menjadi tempat persembunyian demonstran prodemokrasi, sekaligus “lokasi kerusuhan”.

Pada Senin (18/11/2019), demonstran yang melakukan aksi unjuk rasa dan bersembunyi di Universitas Politeknik Hong Kong (PolyU). Mereka melakukan perlawanan kepada polisi dengan menggunakan bom molotov, bahkan senjata panah. Tak hanya itu, demonstran juga mebakar gerbang utama untuk menghalangi polisi masuk ke kompleks universitas tersebut.

Polisi kemudian memutuskan memblokir pintu keluar kampus, setelah salah satu anggota polisi angti huru-hara terluka akibat anak panah yang ditembakkan demonstran. Polisi juga memperingatkan pelaku kerusuhan bisa terancam hukuman lebih dari 10 tahun penjara.

“Saya memperingatkan para perusuh untuk tidak menggunakan bom bensin, panah, mobil, atau senjata mematikan apa pun untuk menyerang petugas polisi. Jika mereka melanjutkan tindakan berbahaya semacam itu, kami tidak punya pilihan lain untuk memakai kekuatan minimum yang dibutuhkan, termasuk peluru tajam, untuk melawan,” kata juru bicara Louis Lau dalam siaran langsung Facebook.

Sejumlah demonstran yang terjebak di kampus merasa ketakutan. “Saya merasa takut. Tidak ada jalan keluar, yang bisa saya lakukan adalah bertempur sampai akhir,” kata seorang demonstran yang mengikuti aksi protes tanpa pemimpin itu.

Lima presiden universitas mengeluarkan pernyataan gabungan untuk mendesak semua pihak menahan diri. Uskup Auksilier Hong Kong, Joseph Ha Chi-shing, yang mengunjungi kampus, menyerukan dan berdoa untuk pengurangan ketegangan sebelum kekerasan membawa kematian.

Beberapa universitas juga memotong jadwal semester mereka. Dua universitas di Amerika Serikat (AS), yaitu Unviersitas Georgetown dan Unviersitas Syracuse yang membatalkan program studi luar negeri di Hong Kong.

Bentrokan antara demonstran prodemokrasi dan polisi Hong Kong semakin intensif dan meluas ke sejumlah sarana pendidikan. Pekan lalu, aksi demonstrasi telah menyebar ke Universitas Tiongkok Hong Kong (Chinese University of Hong Kong/CUHK). Puluhan orang terluka dalam bentrokan antara demonstran dan polisi di kompleks CUHK.

Aksi demonstrasi prodemokrasi Hong Kong yang telah memasuki bulan keeanam ini, membuat Tiongkok geram. Pemerintah Tiongkok kembali menegaskan tidak akan menoleransi perbedaan pendapat, serta muncul kekhawatiran bahwa Beijing bisa mengintervensi secara langsung untuk mengakhiri peningkatan kerusuhan itu.



Sumber: Suara Pembaruan