Paus Kecam Eksploitasi Perempuan dan Anak di Thailand

Paus Kecam Eksploitasi Perempuan dan Anak di Thailand
Mahasiswa Muslim dari Institut Attarkia Islamiah ikut berlatih menyanyi, menjelang penampilan mereka dalam paduan suara untuk menyambut kunjungan Paus Fransiskus, di Universitas Chulalongkorn, Thaland, Kamis (21/11/2019). ( Foto: AFP / Joe Freeman )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 22 November 2019 | 15:40 WIB

Bangkok, Beritasatu.com - Paus Fransiskus lewat homilinya di Bangkok, mengecam eksploitasi perempuan dan anak-anak untuk pelacuran di Thailand.

Paus Fransiskus menyebut kekerasan dan perbudakan yang diderita perempuan dan anak-anak adalah kejahatan yang harus dihentikan di negara yang terkenal untuk pariwisata seks tersebut.

“Di sini saya memikirkan anak-anak dan perempuan yang menjadi korban pelacuran dan perdagangan manusia, dihina dalam martabatnya sebagai manusia hakiki,” kata Paus Fransiskus, dalam khotbahnya, saat memimpin misa, di Stadium Nasional Bangkok, Kamis (21/11/2019).

Misa tersebut menjadi pertemuan terbesar umat Katolik di Thailand sejak Paus Yohanes Paulus II mengunjungi negara itu pada 1984. Puluhan ribu umat Katolik menghadiri misa tersebut, ribuan lainnya menyaksikan dari layar besar yang dipasang di luar stadium.

Kunjungan Paus Fransiskus tak hanya disambut umat Katolik, tetapi juga umat Budha yang menjadi mayoritas di Thailand. Bahkan beberapa mahasiswa muslim dari Institut Attarkia Islamiah ikut dalam Paduan Suara, saat menyambut Paus Fransiskus yang berkunjung di Universitas Chulalongkorn.

“Bagi kami, seolah-olah Tuhan sendiri ada di sini,” kata Nutaporn Kwanmuang (27), salat satu umat Katolik Thailand yang menghadiri misa di Stadium Nasional Bangkok.

Jumlah umat Katolik di Thailand sekitar 380.000 di negara dengan populasi 65 juta. Tapi komunitas kecil itu punya hubungan yang secara umum baik dengan mayoritas Buddha. Fransiskus akan melanjutkan lawatan Asia ke Jepang pada Sabtu (23/11/2019).

Sebelumnya, dalam kotbah pertama, Paus Fransiskus mengapresiasi upaya pemerintah Thailand untuk membasmi momok tersebut, dan bagi seluruh individu dan organisasi swasta yang bekerja untuk mencabut kejahatan itu dan menyediakan cara untuk memulihkan kehormatan para korban.

Paus Fransiskus juga membela migran dan pengungsi serta mengutuk perdagangan manusia. Jumlah korban perdagangan manusia yang diselamatkan di Thailand mencapai rekor tertinggi tahun ini. Tuntutan untuk pekerja murah di negara tetangga, Malaysia, telah menyebabkan peningkatan perdagangan ilegal.

Pariwisata Seks


Thailand berhasil menarik sekitar 35 juta wisatawan per tahun, karena reputasinya sebagai destinasi pariwisata seks. Belakangan pemerintah berusaha melepaskan reputasi tersebut dari Thailand.

Berbagai tindakan tegas dilakukan, tetapi tidak juga menyingkirkan Bangkok sebagai pusat wisata yang menawarkan bar-bar dan tempat pijat yang sering kali menawarkan seks. Ada sekitar 123.530 pekerja seks di Thailand, berdasarkan laporan dari Program Gabungan PBB untuk HIV dan AIDS (UNAIDS).

Thailand juga menjadi rumah bagi kamp-kamp pengungsi tertua di Asia. Sekitar 100.000 pengungsi dari Myanmar telah tinggal di sembilan kamp di sepanjang perbatasan selama puluhan tahun, bahkan banyak diantaranya sejak awal 1980-an.

Baru-baru ini, Thailand menjadi tempat utama bagi penyeludup manusia dan perdagangan puluhan ribu Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.

 

 



Sumber: Suara Pembaruan