PBB: Lebih 10 Juta WN Afghanistan Derita Rawan Pangan Akut

PBB:  Lebih 10 Juta WN Afghanistan Derita Rawan Pangan Akut
Jumlah warga yang mengalami kerawanan pangan akut akan meningkat menjadi 11,29 juta orang antara November 2019 dan Maret 2020. ( Foto: Getty Images / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 23 November 2019 | 21:40 WIB

Jenewa, Beritasatu.com- Sekitar 10,23 juta orang di Afghanistan menderita "kerawanan pangan akut yang parah”. Sekitar sepertiga penduduk Afghanistan membutuhkan tindakan kemanusiaan yang mendesak dari Agustus hingga Oktober 2019.

Pada Senin (18/11), kondisi itu terungkap dalam laporan keamanan pangan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), satu koalisi badan-badan PBB dan mitra lainnya, mengklasifikasikan kerawanan pangan dalam lima fase berbeda dari fase 1 (minimal / tidak ada) hingga fase 5 (bencana / kelaparan).

Laporan IPC terbaru menyatakan sekitar 2,44 juta warga Afghanistan diyakini berada dalam situasi darurat (fase 4), dan 7,79 juta orang dalam situasi krisis (fase 3).

Diperkirakan, situasi Afghanistan kemungkinan akan semakin buruk menuju tahun depan. Jumlah warga yang mengalami kerawanan pangan akut akan meningkat menjadi 11,29 juta orang antara November 2019 dan Maret 2020.

Menurut laporan IPC, kekurangan kesempatan di pasar tenaga kerja dapat berdampak pada mata pencarian kelompok rentan, seperti halnya iklim politik dan situasi keamanan yang tidak menentu, harga pangan dan peristiwa cuaca ekstrem.

Laporan tersebut mencakup beberapa rekomendasi untuk mengatasi masalah kerawanan pangan yang dihadapi oleh penduduk. Memberikan bantuan makanan kemanusiaan, dalam bentuk tunai atau barang, adalah salah satu proposal tersebut, serta membantu petani untuk mendapatkan benih berkualitas untuk musim yang akan datang.

IPC mendesak para mitra untuk mempertimbangkan konteks pengelolaan etnis Afghanistan, medan yang kasar dan "kerusuhan sipil yang tak henti-hentinya". IPC mengembangkan strategi untuk meningkatkan keamanan pangan dan mata pencarian.



Sumber: Suara Pembaruan