2019, Tiongkok Paling Banyak Penjarakan Jurnalis

2019, Tiongkok Paling Banyak Penjarakan Jurnalis
Xu Yan di luar Pusat Penahanan Kota Xuzhou, membawa poster bertulis tanggal ulang tahun suaminya aktivis HAM Yu Wensheng, yang akan menandai 680 hari dalam penahanan. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 13 Desember 2019 | 06:22 WIB

New York, Beritasatu.com- Tiongkok memenjarakan sedikitnya 48 jurnalis pada 2019. Jumlah itu lebih banyak dari negara mana pun. Tiongkok menggeser Turki sebagai negara yang paling menindas para jurnalis.

Pada Rabu (11/12), laporan Committee to Protect Journalists (CPJ) menyebut setidaknya 250 jurnalis dipenjara di seluruh dunia tahun 2019. Laporan tahunan CPJ itu menyebut total jurnalis yang dipenjara tahun 2018 adalah 255 orang.

Menurut lCPJ yang berbasis di New York, berdasarkan total jurnalis, Tiongkok naik satu peringkat sejak tahun 2018. Laporan itu mencatat bahwa jumlah jurnalis yang dipenjara terus meningkat sejak Presiden Xi Jinping mengkonsolidasikan kontrol politik negara itu".

“Tindakan keras di provinsi Xinjiang - di mana sejuta anggota kelompok etnis telah dikirim ke kamp-kamp - telah menyebabkan penangkapan puluhan wartawan, termasuk beberapa yang tampaknya dipenjara karena kegiatan jurnalistik bertahun-tahun sebelumnya,” kata laporan itu.

Turki memenjarakan 47 jurnalis pada 2019, turun dari 68 orang pada tahun lalu. Arab Saudi dan Mesir, masing-masing memenjarakan 26 orang; Eritrea dengan 16 jurnalis; Vietnam, dengan 12 jurnalis; dan Iran dengan 11 jurnalis adalah negara-negara yang paling menindas bagi jurnalis.

Disebutkan bahwa "otoritarianisme, ketidakstabilan, dan protes" tahun 2019 telah menyebabkan peningkatan jumlah jurnalis yang dipenjara di Timur Tengah.



Sumber: Suara Pembaruan