Jepang Karantina Kapal Pesiar Berpenumpang 3.711 Orang, 10 Positif Virus Korona

Jepang Karantina Kapal Pesiar Berpenumpang 3.711 Orang, 10 Positif Virus Korona
Pemerintah Jepang, Rabu, 5 Februari 2020, mengkarantina sebuah kapal pesiar berpenumpang 3.711 orang karena diduga ada penumpang yang terjangkit virus korona jenis baru (2019-nCoV). ( Foto: AFP )
Asni Ovier / AO Rabu, 5 Februari 2020 | 20:29 WIB

Tokyo, Beritasatu.com – Sebanyak 10 penumpang kapal pesiar Diamond Princess di Jepang, Rabu (5/2/2020), dinyatakan positif terjangkit virus korona jenis baru atau novel coronavirus (2019-nCoV). Kepastian itu didapat setelah otoritas Jepang mengkarantina kapal yang membawa 3.711 penumpang itu.

Dikutip dari Channel News Asia, Rabu (5/2/2020), karantina dilakukan setelah seorang mantan penumpang kapal itu dinyatakan terjangkit di Hong Kong. Menteri Kesehatan Jepang, Katsunobu Kato mengatakan, pihaknya melakukan tes terhadap lebih dari 200 penumpang sebagai sampel.

“Sekitar pukul 7.30 pagi (waktu Jepang, Red), kami membawa mereka (10 orang yang positif terjangkit virus korona) ke luar kapal. Dibantu aparat, kami membawa mereka ke lembaga kesehatan,” ujar Kato.

Tes kesehatan terhadap penumpang dan awak telah dilakukan sejak Selasa (4/2/2020). Bulan lalu, seorang penumpang kapal itu di Hong Kong dinyatakan positif terjangkit virus korona.

Pria berusia 80 tahun pergi ke Jepang menggunakan kapal pesiar itu pada 20 Januari lalu. Pada 25 Januari, pria tersebut turun di Hong Kong.

Pihak operator, Princess Cruise Lines mengatakan, sekitar separuh penumpang kapal berkewarganegaraan Jepang. Namun, mereka belum bisa mengatakan secara detail warga negara mana saja yang ikut berlayar dengan kapal itu.

Tiga dari 10 penumpang yang dinyatakan positif terjangkit virus mematikan asal Kota Wuhan, Tiongkok itu, adalah warga negara Jepang. Tiga lainnya warga Hong Kong, dua Australia, satu Amerika Serikat, dan seorang kru kapal asal Filipina.

Seorang pria Jepang berusia sekitar 70 tahun mengatakan kepada NHK bahwa tindakan karantina di kapal itu dilakukan sangat ketat. “Kemarin, kami bisa menghabiskan waktu di ruang bersama dan melakukan beberapa kegiatan, seperti bermain ping-pong. Tetapi, sejak pagi ini, kami tidak diizinkan keluar dari kamar kami,” kata pria yang menolak disebutkan namanya itu.

“Saya mencoba pergi ke restoran pagi ini untuk sarapan, tetapi saya diberitahu ‘silakan makan di kamar Anda’. Jadi, saya sudah menunggu layanan kamar. Tetapi, belum tiba juga,” ujarnya.

Menkes Kato mengimbau para penumpang dan awak, yang disebutkan berasal dari 56 negara, untuk bekerja sama dengan pihak berwenang. Menurutnya, karantina akan berlangsung sekitar 14 hari, sesuai perkiraan masa inkubasi maksimum untuk virus korona tersebut.

David Able, yang berada di kapal pesiar bersama istrinya untuk merayakan ulang tahun pernikahan ke-50, mengatakan, situasi “berubah secara dramatis” semalam. Para penumpang diberitahu bahwa mereka tidak bisa meninggalkan kamar.

“Kami sangat beruntung memiliki kabin dengan balkon sehingga dapat membuka pintu, mencari udara segar, jika cuaca cerah, dan duduk di balkon,” kata Able.

“Saya rasa, orang-orang kamarnya tidak memiliki ventilasi udara dan cahaya alami akan sangat kesal. Tidak ada udara segar. Ini akan sangat suram bagi mereka selama dua minggu,” tambahnya.



Sumber: Suara Pembaruan