Lebih 1.100 Orang Sembuh dari Virus Korona

Lebih 1.100 Orang Sembuh dari Virus Korona
Ilustrasi virus korona. ( Foto: ANTARA )
Asni Ovier / AO Kamis, 6 Februari 2020 | 08:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Hingga Kamis (6/2/2020) pagi, jumlah pasien yang sembuh setelah terjangkit virus korona jenis baru atau novel coronavirus (2019-nCoV) mencapai 1.137 orang. Meski jumlah warga dunia yang terjangkit virus terus bertambah, banyaknya pasien yang sembuh memberi angin segar bahwa wabah virus mematikan asal Kota Wuhan, Tiongkok, itu bisa berlalu.

Dikutip dari South China Morning Post (scmp.com), Kamis (6/2/2020), di sejumlah negara sudah 28.261 orang yang terjangkit virus korona. Jumlah terbanyak masih tetap di Tiongkok dengan 28.018 warga yang terjangkit virus.

Sementara, jumlah pasien yang tidak tertolong sebanyak 565 orang. Di Tiongkok, korban jiwa hingga kini sebanyak 563 orang, sementara dua korban jiwa ada di Hong Kong dan Filipina.

Tiongkok melaporkan terjadi penurunan signifikan dalam laju kasus warga yang terjangkit virus korona. Pada Minggu (2/2/20202) jumlah warga yang terjangkit bertambah sebanyak 5.173 orang. Kemudian, hari berikutnya, Senin (3/2/2020) pasien yang terjangkit virus korona bertambah sebanyak 5.072 orang.

Pada Selasa (4/2/2020) jumlah pasien yang terinfeksi virus itu bertambah 3.971 orang dan pada Rabu (5/2/2020) pasien yang terinfeksi bertambah “hanya” bertambah 3.694 orang.

Presiden Tiongkok, Xi Jinping mengatakan, negaranya telah membuat kemajuan yang baik dalam mengatasi wabah virus korona tersebut. Xi mengatakan, Tiongkok telah melakukan langkah-langkah ketat untuk mencegah virus menyebar cepat dan mencapai hasil.

“Tiongkok yakin dan mampu bisa menahan wabah itu,” katanya.

Presiden Xi mengatakan, sistem hukum Tiongkok juga memberikan peran kunci dalam membantu mengendalikan virus korona. Undang-undang yang mencakup perdagangan hewan liar dan pengelolaan insiden kesehatan masyarakat ditegakkan dengan ketat.

“Saat ini kami berada pada saat kritis mengendalikan epidemi. Pelanggaran membahayakan dalam upayaa pengendalian penyakit, termasuk penolakan terhadap upaya yang pengendalian yang dilakukan pemerintah, kekerasan terhadap staf medis, bahan medis palsu, dan penyebaran desas-desus, harus sangat dibatasi,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan