Penerbangan Terancam Berhenti

Banyak Negara Panggil Pulang Warga di Luar Negeri

Banyak Negara Panggil Pulang Warga di Luar Negeri
Jacinda Ardern ( Foto: Istimewa )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 19 Maret 2020 | 14:16 WIB

Wellington, Beritasatu.com - Banyak negara memanggil pulang warganya yang bepergian ke luar negeri karena khawatir dengan operasi maskapai penerbangan lintas negara yang terancam berhenti. Hal itu, terkait dengan aturan pembatasan perjalanan dan isolasi 14 hari terkait pencegahan virus corona (Covid-19) yang diberlakukan berbagai negara.

Pada Kamis (19/3/2020), Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyerukan warga negara kiwi itu untuk segera kembali, sebelum penerbangan ke Selandia Baru dihentikan sama sekali, akibat pembatasan perjalanan yang diberlakukan berbagai negara.

“Jika Anda sedang bepergian (ke luar negeri, Red), pulang sekarang, karena penerbangan sangat mungkin akan segera berhenti,” ujar Jacinda Ardern, di Wellington, Kamis (19/3/2020).

Menurut Jacinda Ardern, kasus corona (Covid-19) di Selandia Baru sebenarnya tergolong rendah. Namun penyebarannya yang meluas dan telah menjadi pandemi membuat berbagai negara memutuskan melakukan langkah pencegahan, antara lain dengan pembatasan perjalanan dan isolasi 14 hari bagi warga dan pendatang yang tiba dari negara-negara terdampak.

Itu sebabnya, pemerintah Selandia Baru menyerukan warganya segera kembali ke negara itu, sebelum terkenda dampak dari kebijakan pembatasan perjalanan yang berimbas pada layanan maskapai penerbangan lintas negara.

Jacinda Ardern mengungkapkan, sejak awal Selandia Baru telah melakukan antisipasi penyebaran korona dengan mengeluarkan aturan pembatasan perjalanan. Begitu kasus corona meningkat di Wuhan, pemerintah Selandia Baru telah memberlakukan larangan masuk bagi turis Tiongkok, pada awal Februari 2020. Selanjutnya ketika kasus merebak di Iran, larangan serupa diberlakukan.

Selain itu, Selandia Baru telah memberlakukan kewajiban isolasi selama 14 hari bagi warga negara dari Korea Selatan dan Italia yang masuk ke negara itu, sejak akhir Februari 2020. Larangan tersebut kemudian diberlakukan kepada semua warga asing, mulai akhir pekan lalu.

Sebelumnya pada Rabu (18/3/2020), pemerintah Australia, mengeluarkan keputusan membatasi perjalanan warganya ke luar negeri, dan meminta warga yang sedang bepergian ke luar negeri untuk segera pulang.

“Terlepas dari tujuan, usia, atau kesehatan Anda, saran kami adalah jangan bepergian (ke luar negeri, Red) saat ini,” kata Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison, di Canberra, Rabu (18/3/2020).

Menurut Scott Morrison, pembatasan perjalanan merupakan “larangan tak terbatas” pada perjalanan ke negara manapun. Hal itu menjadi rekomendasi dari pemerintah Australia dan telah disampaikan kepada negara-negara sahabat.

Scott Morrison juga mendesak warga Asutralia yang sedang bepergian di luar negeri untuk segera pulang karena ada risiko terdampar akibat banyak negara yang memberlakukan isolasi 14 hari dan menolak maskapai penerbangan dari negara-negara tertentu.

“Kami khawatir warga yang sedang bepergian akan kesulitan untuk kembali atau menghadapi situasi yang tidak menyenangkan karena terpaksa menetap bahkan terdampar di bandara, karena penerbangan ke negara-negara Pasifik Selatan yang terpencil mungkin akan ditutup seluruhnya,” ujar Morrison.

Australia memiliki lebih dari 500 kasus corona dan enam kematian yang dikonfirmasi. Jumlah infeksi telah meningkat setiap hari, dengan sebagian besar kasus baru adalah pelancong yang kembali atau orang yang terinfeksi dari para pelancong.

Sebulan
Sementara itu, pemerintah Indonesia berencana menutup penerbangan ke luar negeri selama sebulan, mulai 20 Maret 2020, pukul 00.00 WIB. Terkait dengan itu, pemerintah mendesak seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang sedang bepergian ke luar negeri untuk segera kembali ke tanah air.

“Saya minta kepada WNI yang saat ini sedang bepergian ke luar negeri diharapkan segera kembali ke Indonesia, sebelum mengalami kesulitan penerbangan lebih jauh lagi,” ujar Retno, di Jakarta, Selasa (17/3/2020).

Menurut dia, pemerintah Indonesia juga memutuskan kebijakan Bebas Visa Kunjungan, Visa Kunjungan Kedatangan dan Bebas Visa Diplomatik ditangguhkan selama 1 bulan. Oleh karena itu, setiap orang asing yang akan berkunjung ke Indonesia diharuskan memiliki visa dari perwakilan RI sesuai dengan maksud dan tujuan kunjungan.

Retno menambahkan, pengajuan visa bagi warga asing harus melampirkan surat keterangan sehat (health certificate) yang dikeluarkan oleh otoritas kesehatan yang berwenang di masing-masing negara.

Beberapa negara yang telah melakukan pembatasan perjalanan dan menolak kedatangan warga dari negara-negara yang terdampak corona antara lain Amerika Serikat (AS), Hong Kong, Arab Saudi, Italia, Singapura dan Selandia Baru.

Sedangkan Indonesia melarang masuk atau transit para pendatang dari Tiongkok dan Korea Selatan (khususnya Kota Daegu dan Provinsi Gyeongsangbuk-do). Pemerintah juga masih melarang masuk/transit pendatang yang dalam waktu 14 hari terakhir berkunjung ke Iran, Italia, Vatikan, Spanyol, Prancis, Jerman, Swiss, dan Inggris.



Sumber: Suara Pembaruan