Pakistan Tangkap 38 Ulama Karena Gelar Salat Berjamaah di Masjid

Pakistan Tangkap 38 Ulama Karena Gelar Salat Berjamaah di Masjid
Presiden Hassan Rouhani (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan setelah konferensi pers bersama mereka di ibu kota Iran, Teheran, Minggu (13/10/2019). (Foto: AFP / Kepresidenan Iran)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Minggu, 29 Maret 2020 | 06:52 WIB

Islamabad, Beritasatu.com - Polisi di Pakistan pada Sabtu (28/3/2020) menangkap 38 pemimpin doa (ulama) dan pejabat masjid karena melanggar larangan salat berjamaah ketika kasus virus corona (covid-19) melonjak menjadi lebih dari 1.400 di negara itu.

Secara keseluruhan, jumlah kasus corona di Asia Selatan meningkat menjadi 2.648, termasuk 39 kematian. Sri Lanka melaporkan kematian corona pertamanya pada Sabtu. Korban (65 tahun) adalah seorang pemandu wisata yang telah menderita diabetes.

Meski jumlah korban corona di Asia Selatan rendah secara keseluruhan, namun dikhawatirkan jumlahnya bisa membengkak mengingat buruknya layanan kesehatan dan padatnya penduduk di kawasan itu.

Baca juga: India Manfaatkan Gerbong Kereta untuk Isolasi Pasien Corona

Sementara sebuah pesawat yang membawa bantuan bantuan dan delapan dokter dari Tiongkok telah mendarat di Islamabad pada Sabtu. Demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan.

"(Mereka akan) memberi masukan soal perawatan kesehatan Pakistan berdasarkan pengalaman dan keberhasilan mereka dalam memerangi Covid-19 di Tiongkok," demikian bunyi pernyataan Kemlu Pakistan. Tiongkok telah memberikan alat tes corona, masker, alat pelindung dan peralatan medis kepada Islamabad.

Baca juga: Kematian Akibat Corona di Italia 10.000, Lockdown akan Diperpenjang

Di Nepal, lebih dari 600 wisatawan Eropa dievakuasi dengan penerbangan charter pada Sabtu. Namun ribuan wisatawan lainnya masih menunggu dibawa pulang oleh pemerintah negara masing-masing. "Ada sekitar 8.000 dan 10.000 wisatawan yang masih terdampar karena karantina wilayah di Nepal," kata Kepala Dewan Pariwisata Nepal, Dhananjay Regmi.



Sumber: Reuters