Beda dengan WHO, Ilmuwan Tiongkok Sarankan Ini ke Warga Eropa dan AS

Beda dengan WHO, Ilmuwan Tiongkok Sarankan Ini ke Warga Eropa dan AS
Ilustrasi perawatan pasien positif "corona". ( Foto: Antara )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Minggu, 29 Maret 2020 | 09:04 WIB

Tiongkok, Beritasatu.com - Perilaku sebagian besar orang di Amerika Serikat (AS) dan Eropa tidak mengenakan masker di muka umum selama pandemi virus corona (Covid-19) dinilal keliru. Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok.

"Kesalahan besar di AS dan Eropa menurut saya adalah bahwa orang tidak memakai masker," Dirjen Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Gao Fu, Minggu (29/3/2020). Hal itu dikatakan Gao dalam sebuah wawancara dengan Science Magazine, salah satu jurnal akademik terkemuka di dunia.

Baca juga: Kematian Akibat Corona di Italia 10.000, Lockdown akan Diperpanjang

Virus corona kata dia, ditularkan melalui tetesan dan kontak dekat. "Tetesan memainkan peran yang penting. Anda harus mengenakan masker, karena ketika Anda berbicara, selalu ada tetesan yang keluar dari mulut Anda," kata dia.

Namun tidak semua pihak setuju dengan penilaian Gao. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan hanya orang yang menunjukkan gejala infeksi atau perawat yang memakai masker wajah. Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Eropa dan AS memiliki pandangan yang serupa dengan WHO.

Gao mengatakan, banyak orang yang terinfeksi tanpa gejala. Jika mengenakan masker, dapat mencegah tetesan yang membawa virus dan menginfeksi orang lain.

Baca juga: India Manfaatkan Gerbong Kereta untuk Isolasi Pasien Corona

Pada imbauan publik terbaru yang dikeluarkan pada 22 Maret 2020, CDC Tiongkok mengatakan orang tidak perlu memakai masker saat berada di rumah, di udara terbuka, atau di lingkungan yang memiliki sirkulasi udara baik dan tidak ada kerumunan orang. Namun, mereka harus tetap memakai di kantor, ruang rapat, lift dan angkutan umum.

Menurut data Universitas Johns Hopkins di Maryland, pada Sabtu (28/3/2020), kasus Covid-19 di AS mencapai 105.000, terbesar di dunia.

Selain menganjurkan penggunaan masker wajah, Gao menyerukan lebih banyak termometer di tempat-tempat umum di Eropa dan AS. "Ke mana pun Anda masuk ke Tiongkok ada termometer," katanya. "Anda harus mengukur suhu tubuh sesering mungkin untuk memastikan siapa pun yang menderita demam tinggi."

Dia mengatakan bahwa menjaga jarak sosial, membatasi gerak orang, dan mengisolasi kasus yang diduga berhubungan dengan pasien positif juga penting dalam memerangi Covid-19.

Gao adalah bagian dari tim Tiongkok yang mengisolasi virus corona. Dia juga ikut menulis dua makalah pertama tentang masalah ini, yang keduanya diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine.

Gao juga mengatakan dalam upaya mengembangkan vaksin dan obat-obatan untuk memerangi Covid-19, para ilmuwan Tiongkok saat ini sedang melakukan tes pada kedua monyet dan tikus transgenik yang telah disuntikkan dengan enzim ACE2, reseptor manusia untuk virus.



Sumber: South China Morning Post