Ini Jawaban Tiongkok Atas “24 Kebohongan Amerika”

Ini Jawaban Tiongkok Atas “24 Kebohongan Amerika”
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri), dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, meninggalkan tempat pertemuan pemimpin bisnis di Aula Besar Rakyat di Beijing, Tiongkok, pada 9 November 2019. (Foto: AFP)
Heru Andriyanto / HA Rabu, 13 Mei 2020 | 07:43 WIB

Beritasatu.com – Pemerintah Tiongkok telah membuat daftar tentang sedikitnya 24 “kebohongan” terkait virus corona yang dibuat oleh politisi dan media Amerika Serikat, dan menyampaikan sanggahan menggunakan metode reality check atau cek fakta.

Menurut Tiongkok, kebohongan itu diciptakan untuk menjadikan mereka sebagai kambing hitam atas kegagalan Amerika menangani wabah Covid-19.

Laporan itu telah dimuat di laman resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok akhir pekan kemarin.

“Kebohongan akan menguap seiring datangnya kebenaran. Sekarang waktunya fakta yang bicara,” bunyi laporan tersebut.

Sanggahan panjang berisi sekitar 11.000 kata dan 30 halaman itu dimulai dengan kutipan terkenal dari Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln: "Anda bisa membodohi semua orang untuk sementara waktu, atau sebagian orang untuk selamanya, tetapi Anda tidak bisa membodohi semua orang selamanya.”

Berikut ini daftar “kebohongan Amerika” versi pemerintah Tiongkok.

1. Covid-19 adalah “Virus Tiongkok” atau "Virus Wuhan ".

Jawaban: Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) telah menegaskan bahwa nama suatu penyakit tidak boleh dikaitkan dengan negara atau tempat tertentu.

Dasarnya adalah dampak buruk dari penamaan wabah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) atau penyakit pernapasan Timur Tengah pada 2012. Karena itu WHO bersama organisasi lain di bawah PBB telah menerbitkan tata cara penamaan penyakit infeksi baru pada manusia, atau Best Practices for the Naming of New Human Infectious Diseases, pada 8 Mei 2015.

Berdasarkan panduan tersebut, nama penyakit harus menghindari penggunaan lokasi geografis, nama orang, jenis binatang atau makanan, budaya, populasi dan industri tertentu.

Maka pada 11 Februari 2020, WHO memberi nama penyakit pneumonia yang disebabkan oleh virus corona jenis baru ini sebagai Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

2. Wuhan adalah tempat asal virus corona.

Jawaban: Menjadi yang pertama melaporkan kasus virus bukan berarti menjadikan Wuhan sebagai asal virus tersebut. Faktanya, asal mula virus ini masih diteliti. Penelusuran ini merupakan persoalan ilmiah yang serius, yang harus didasarkan pada sains dan diteliti oleh ilmuwan dan pakar medis.

Secara historis, tempat yang pertama melaporkan kemunculan virus seringkali bukan merupakan asal virus. Misalnya, infeksi HIV pertama kali dilaporkan oleh Amerika Serikat, tetapi mungkin saja virus itu tidak berasal dari sana. Bukti-bukti juga menunjukkan bahwa Flu Spanyol tidak berasal dari Spanyol.

Saat ini, ilmuwan di seluruh dunia sedang mencari asal mula virus ini dan telah menyampaikan banyak pandangan akademis soal ini. Para ilmuwan Tiongkok juga melakukan penelitian mendalam untuk mendapatkan fondasi ilmiah dalam mengidentifikasi asal mula virus ini.

Jurnal medis terkemuka Inggris, The Lancet, telah menerbitkan artikel ilmiah dari para ilmuwan Tiongkok pada 24 Januari.

Artikel itu menyebutkan bahwa 41 kasus Covid-19 pertama dibawa ke rumah sakit di Wuhan antara 16 Desember 2019 dan 2 Januari 2020. Sebanyak 27 pasien punya riwayat mendatangi pasar ikan Huanan, 14 lainnya tidak. Tanggal munculnya gejala pada pasien pertama adalah 1 Desember 2019. Tak satu pun anggota keluarganya mengalami gejala demam atau masalah pernapasan. Pasien pertama ini juga tidak ada riwayat ke pasar ikan Huanan. Selain itu, tidak ada kaitan epidemiologi antara dia dengan kasus-kasus berikutnya.

Virus adalah musuh yang sangat umum bagi manusia, bisa muncul kapan saja, di mana saja. Epidemik terjadi secara alami, bukan rekayasa manusia. Tempat asal epidemik adalah korban, bukan pelaku. Jadi tidak adil kalau dituntut harus bertanggung jawab.

Dr Michael Ryan, Direktur Eksekutif WHO, mengatakan bahwa pihaknya belum menerima data atau bukti apa pun dari pemerintah AS terkait dugaan asal usul virus ini.

Fakta lain:

Michael Melham, Wali Kota Belleville di New Jersey, mengatakan dia didiagnosa positif memiliki antibodi virus corona pada November 2019, atau lebih dari dua bulan sebelum kasus pertama di AS dilaporkan pada 20 Januari 2020.

Lalu pada 6 Mei, USA Today memberitakan bahwa 171 orang di Florida menunjukkan gejala Covid-19 di awal Januari 2020, dan tak satu pun yang pernah bepergian ke Tiongkok.

Pada 3 Mei, International Journal of Antimicrobial Agents menerbitkan artikel yang berjudul "SARS-COV-2 sudah menyebar di Prancis pada akhir Desember 2019", berdasarkan catatan medis 14 pasien yang dirawat karena keluhan mirip influenza antara 2 Desember 2019 dan 16 Januari 2020, dan dilakukan uji ulang reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) pada 6 dan 9 April 2020. Satu sampel dari pria berusia 42 tahun positif Covid-19.

Pria itu tidak pernah ke Tiongkok dan tidak meninggalkan Prancis beberapa waktu sebelum ke rumah sakit.

3. Virus corona dikembangkan di laboratorium Wuhan Institute of Virology.

Jawaban: Semua bukti yang ada menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 muncul secara natural, bukan buatan manusia.

Pada 30 Januari, The Lancet menerbitkan artikel tentang Covid-19 oleh tim peneliti termasuk dari Tiongkok yang menyebut virus ini jenis baru yang mampu menginfeksi manusia, berdasarkan analisis phylogenetic pada 10 genome 2019-nCoVyang diambil dari sembilan pasien positif di Wuhan.

Warga Tiongkok tidak makan kelelawar.

Artikel ini menggarisbawahi bahwa dibandingkan dengan SARS-CoV dan MERS-CoV, maka 2019-nCoV lebih erat kaintannya dengan virus bawaan kelelawar yang bisa menyebabkan sindrom pernapasan akut. Analisis itu menyatakan kelelawar adalah inang pertama dari virus tersebut.

The Lancet juga menerbitkan pernyataan bersama 27 pakar medis dari delapan negara yang mengatakan bahwa para ilmuwan dari berbagai negara telah menyimpulkan kalau virus corona ini berasal dari binatang liar, seperti banyak patogen lainnya.

Lalu pada 17 Maret, lima ilmuwan dari AS, Inggris, dan Australia menyatakan bahwa berdasarkan bukti yang ada, SARS-CoV-2 tidak dikembangkan di laboratorium, atau dimanipulasi secara sengaja.

Pada 30 April, kantor Intelijen Nasional AS merilis pernyataan bahwa komunitas intelijen sudah meraih konsensus kalau virus Covid-19 bukan buatan manusia atau hasil rekayasa genetika.

4. Virus Covid-19 terlepas secara tak sengaja dari laboratorium Wuhan Institute of Virology (WIV).

Jawaban: Laboratorium di WIV adalah program kerja sama pemerintah Tiongkok dan Prancis. Lembaga ini tidak punya kemampuan untuk merancang atau membuat sintesa virus corona tipe baru, dan tidak ada bukti kebocoran pathogen atau infeksi di kalangan staf lembaga tersebut.

Semua staf harus lulus ujian khusus dan kelompok pertama mendapat pelatihan di Prancis dan Amerika. Laboratorium ini diperiksa secara rutin tiap tahun oleh lembaga ketiga yang terakreditasi oleh pemerintah, dan baru boleh melanjutkan operasi jika lulus inspeksi tahunan itu.

Belum pernah ada SARS-CoV-2 yang diteliti di lab tersebut sampai 30 Desember 2019 ketika spesimen pasien pertama Covid-19 dikirim ke sana untuk pengujian, tiga hari setelah pemda menerima laporan pertama keberadaan virus ini.

Kantor kepresidenan Prancis pada pertengahan April merilis pernyataan bawa "sampai hari ini tidak ada bukti faktual yang mengaitkan asal usul Covid-19 dengan operasi laboratorium P4 di Wuhan, Tiongkok."

Flu Spanyol tidak berasal dari Spanyol.

Peter Daszak, presiden EcoHealth Alliance AS dan pakar virus yang telah bekerja di WIV selama 15 tahun terakhir, dalam wawancara dengan CNN pada 26 April mengatakan bahwa laboratorium P4 di Wuhan tidak memiliki tipe virus yang mengakibatkan Covid-19, dan yang ditemukan sekarang adalah kerabat dekatnya, tetapi bukan virus yang sama.

Anthony Fauci, direktur Institut Alergi dan Penyakit Infeksi Nasional AS, mengatakan di National Geographic edisi 4 Mei bahwa bukti paling kuat menunjukkan virus ini tidak dikreasi di lab Tiongkok. Virus ini berkembang secara alami dan kemudian menjangkit ke spesies lain.

5. Tiongkok seharusnya bisa langsung membendung virus ini tetap di Wuhan, tetapi justru mengizinkan warganya terbang ke Milan, New York dan tempat-tempat lain, sehingga virusnya menyebar ke seluruh dunia.

Jawaban: Tiongkok mengambil tindakan paling ketat dalam waktu secepat mungkin, sehingga secara umum penyebaran virus ini tetap di Wuhan. Statistik menunjukkan hanya sedikit kasus yang diekspor oleh Tiongkok.

Tiongkok menetapkan lockdown di Wuhan sejak 23 Januari, artinya tidak ada penerbangan komersial dan layanan kereta api dari 24 Januari sampai 8 April. Jadi tidak mungkin warga Wuhan bisa ke luar negeri selama periode tersebut.

Ketika Wuhan ditutup pada 23 Januari, hanya ada satu kasus terkonfirmasi di AS. Ketika pada 2 Februari AS menutup perbatasan bagi semua warga Tiongkok dan orang asing yang dalam dua pekan terakhir pernah berkunjung ke Tiongkok, hanya ada delapan kasus di AS.

Ketika AS menetapkan darurat nasional pada 13 Maret, jumlah kasus di sana 1.896. Ketika Tiongkok mengakhiri lockdown di Wuhan pada 8 April, jumlah kasus di AS sudah melesat menjadi 400.000. Sekarang bahkan melebihi 1,2 juta kasus. Kalau dirunut, hanya kurang dari 100 hari jumlah kasus di AS meroket dari satu ke 1 juta.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengutip hasil riset Northeastern University bahwa strain virus corona yang masuk ke negara bagian itu tidak berasal dari Tiongkok. The New York Times juga memberitakan bahwa sebagian besar kasus virus corona di New York tidak berasal dari Asia. Sejumlah provinsi di Kanada melaporkan kasus-kasus di sana ditularkan oleh para pengunjung dari AS.

6. Warga Tiongkok terserang virus corona karena makan kelelawar.

Jawaban: Kelelawar tidak pernah menjadi menu makanan warga Tiongkok.

Tentang klip video yang beredar di Internet, di mana seorang pemandu wisata perempuan asal Tiongkok mencicipi sup kelelawar, adegan itu diambil di sebuah pulau kecil di Pasifik pada 2016, untuk keperluan promosi wisata. Sup kelelawar adalah makanan khas pulau tersebut.

Faktanya, kelelawar tidak pernah masuk menu makanan Tiongkok. Pasar ikan Huanan di Wuhan, di mana kluster kasus pertama ditemukan di awal pandemik, tidak menjual kelelawar.

7. Tiongkok kembali membuka pasar satwa liar.

Jawaban: Tidak ada yang namanya pasar satwa liar di Tiongkok, di mana sudah ada undang-undang yang melarang semua perburuan ilegal dan perdagangan satwa liar.

Pada 24 Februari 2020, Komite Kongres Nasional Rakyat Tiongkok mengesahkan UU yang melarang secara keseluruhan perdagangan satwa liar ilegal dan konsumsi satwa liar demi melindungi nyawa dan kesehatan rakyatnya.

Jual beli satwa liar adalah tindakan ilegal di Tiongkok dan berisiko hukuman pidana.

Kurang dari 100 hari jumlah kasus di AS meroket dari satu ke 1 juta.

Di Tiongkok juga tidak ada istilah “pasar basah”. Yang ada adalah pasar petani, pasar hewan, dan pasar ikan. Mereka menjual ikan segar, daging, sayuran, makanan laut dan produk pertanian lainnya. Hanya sebagian kecil yang menjual ternak hidup. Pada dasarnya, tidak ada bedanya dengan pasar ikan, sayuran, dan buah-buahan yang ada di negara-negara Barat, juga di negara-negara lain di seluruh dunia. Tidak ada hukum internasional yang membatasi pendirian atau operasional pasar seperti ini. Yang kami buka kembali di Wuhan adalah pasar-pasar tradisional seperti itu.

Namun, karena situasi yang terjadi saat ini di Wuhan, Provinsi Hubei, pasar ikan Huanan tetap ditutup.

8. Tiongkok menutup-nutupi dan menunda informasi penyebaran virus ini.

Jawaban: Apa yang sebenarnya telah terjadi adalah serangan virus tak dikenal pada manusia. Butuh waktu untuk mempelajari dan memahaminya. Tiongkok kemudian memberikan informasi kepada dunia dalam waktu yang tepat secara terbuka, transparan dan bertanggung jawab.

Pada 27 Desember 2019, Dr Zhang Jixian, director departemen pengobatan pernapasan dan perawatan pasien kritis di Rumah sakit Provinsi Hubei, melaporkan tiga kasus pneumonia dengan penyebab misterius, segera setelah menerima pasien. Ini adalah laporan resmi pertama dari dugaan kasus baru oleh otoritas setempat di Tiongkok. Hari yang sama, otoritas kesehatan Wuhan melakukan penelitian epidemiologi dan uji diagnostik pada pasien tersebut.

Pada 30 Desember, Komisi Kesehatan Kota Wuhan menyebarkan dua pemberitahuan darurat soal pelaporan dan perawatan penyakit pneumonia misterius. Hari berikutnya, komisi itu merilis laporan situasi. Diikuti oleh tindakan pemerintah pusat untuk melaporkan kepada kantor WHO di Tiongkok tentang kasus pneumonia misterius di Wuhan.

Mulai 3 Januari 2020, Tiongkok secara rutin melaporkan virus corona baru ini ke WHO dan negara lain termasuk AS, dan juga tiga wilayah Tiongkok yaitu Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Antara 3 Januari dan 3 Februari, Tiongkok memberi perkembangan situasi pandemik dan penanganannya ke AS sebanyak 30 kali.

Tiongkok sudah selesai mengidentifikasi virus ini pada 7 Januari 2020, dan membagi informasi sekuen genome ke WHO dan negara-negara lain pada 11 Januari.

Pada 10 Januari, Wuhan Institute of Virology dan sejumlah lembaga profesional lain mengembangkan alat tes pertama, dan mulai meningkatkan riset vaksin dan pengobatannya. Pada 20 Januari, Komisi Kesehatan Nasional menyebut pneumonia akibat virus corona ini sebagai penyakit infeksi. Pada 24 Januari, kasus-kasus Covid-19 mulai dipublikasikan secara daring.

Sebaliknya, pemerintah AS baru mengumumkan darurat nasional pada 13 Maret, atau 70 hari setelah diberi tahu oleh Tiongkok tentang keberadaan virus baru ini pada 3 Januari 2020, atau 40 hari setelah negara itu menutup perbatasan bagi semua warga Tiongkok.

Pada 1 Mei, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau Centers for Disease Controls and Prevention (CDC), merilis laporan bahwa setelah kasus pertama virus corona terdeteksi di AS pada 21 Januari 2020, “wabah ini kelihatannya bisa dibendung sepanjang Februari, dan kemudian berakselerasi dengan cepat”.

Selanjutnya: "Kami Tidak Menangkap Dr Li"

[1]  [2]  [3]



Sumber: BeritaSatu.com