Akibat Pandemi, 6.000 Anak di Dunia Terancam Meninggal Per Hari

Akibat Pandemi, 6.000 Anak di Dunia Terancam Meninggal Per Hari
Seorang anak Yaman yang menderita kekurangan gizi menjalani perawatan medis di satu rumah sakit di distrik utara Abs, di Provinsi Hajjah, Yaman. (Foto: AFP / Essa Ahmed)
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 15 Mei 2020 | 08:36 WIB

New York, Beritasatu.com- Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan, pada Rabu (13/5), sekitar 6.000 anak di bawah usia 5 tahun dapat meninggal setiap hari selama enam bulan ke depan akibat wabah corona atau Covid-19. Menurut UNICEF, peringatan ancaman kematian ini juga berlaku bagi Indonesia.

“Di bawah skenario terburuk, jumlah global anak-anak yang meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka dapat meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore.

Kematian sebagian besar akan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan sistem kesehatan yang sudah lemah dan mungkin kewalahan oleh respons pandemi.

“Di bawah skenario terburuk, secara global, jumlah anak-anak yang meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka dapat meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Komunitas dunia tidak boleh membiarkan ibu dan anak menderita akibat kegagalan negara dalam memerangi virus,” tambah Fore.

Peringatan UNICEF didasarkan pada analisis Sekolah Kesehatan Publik Johns Hopkins Bloomberg, yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Global Health. Studi yang didanai oleh Bill & Melinda Gates Foundation dan Global Affairs Canada itu, meneliti tiga model tentang apa yang bisa terjadi pada anak-anak dan ibu di 118 negara jika akses ke perawatan kesehatan dan pasokan makanan berkurang karena pandemi.

Studi memperkirakan bahwa 10 negara yang akan mengalami peningkatan terbesar dalam kematian anak adalah Bangladesh, Brasil, Republik Demokratik Kongo, Etiopia, India, Indonesia, Nigeria, Pakistan, Uganda, dan Tanzania.