Cuma Lewat Zoom, Hakim Singapura Vonis Mati WN Malaysia

Cuma Lewat Zoom, Hakim Singapura Vonis Mati WN Malaysia
Aplikasi Zoom ( Foto: RTE / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 22 Mei 2020 | 16:01 WIB

Singapura, Beritasatu.com- Seorang hakim di Singapura menjatuhkan vonis hukuman mati kepada warga negara Malaysia lewat video call aplikasi Zoom.

Seperti dilaporkan Reuters, Kamis (21/5), terdakwa dinyatakan bersalah atas transaksi narkoba. Vonis lewat Zoom ini dilakukan saat Singapura menjalani karantina wilayah menyusul lonjakan kasus Covid-19.

Punithan Genasan, 37, menerima hukuman pada hari Jumat atas andilnya dalam transaksi narkoba yang terjadi pada tahun 2011. Vonis putusan hukuman mati dari jarak jauh terhadap pria 37 tahun ini pertama kalinya di Singapura.

"Demi keselamatan semua yang terlibat dalam persidangan, persidangan untuk Jaksa Penuntut Umum v Punithan A / L Genasan dilakukan melalui konferensi video," kata juru bicara Mahkamah Agung Singapura dalam menanggapi pertanyaan Reuters, mengutip pembatasan yang diberlakukan untuk meminimalkan penyebaran virus.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengkritik penggunaan video-panggilan untuk vonis hukuman mati, termasuk sebuah kasus di Nigeria awal bulan ini yang menurut pengawas peradilan pidana Fair Trials mengatakan adalah hukuman mati pertama yang disampaikan dari jarak jauh.

Namun Pengacara Genasan, Peter Fernando, mengatakan dia tidak keberatan dengan keputusan Jumat yang disampaikan pada Zoom.

Fernando mengatakan perkataan hakim bisa didengar dengan jelas dan karena itu putusan tidak ada argumen hukum lain yang diajukan. Namun, kata dia, kliennya sedang mempertimbangkan banding terhadap putusan.

Perusahaan teknologi yang berbasis di California Zoom tidak menanggapi permintaan komentar yang dibuat melalui perwakilannya di Singapura. Kantor Jaksa Agung, jaksa penuntut umum dalam kasus ini, tidak segera berkomentar.

Banyak sidang pengadilan di Singapura telah ditunda selama periode penutupan yang dimulai pada awal April dan akan berlangsung hingga 1 Juni, sementara kasus-kasus yang dianggap penting telah diselesaikan dari jarak jauh.