Pandemi Covid-19 Mengubah Tradisi Idulfitri Muslim India

Pandemi Covid-19 Mengubah Tradisi Idulfitri Muslim India
Muslim India melakukan salat Id di rumah mereka di New Delhi, Senin (25/5), mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak melakukan salat berjamaah di masjid dalam rangka mencegah penyebaran virus Covid-19. (Foto: Dok SP)
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 26 Mei 2020 | 15:46 WIB

New Delhi, Beritasatu.com - Pandemi virus corona (Covid-19) telah mengubah tradisi Idulfitri bagi umat Muslim India. Tahun ini, Muslim India merayakan Idulfitri yang jatuh pada Senin (25/5/2020) dalam ketenangan dan keprihatinan terkait pandemi Covid-19.

Setelah sempat menimbulkan kekhawatiran akibat memenuhi pasar tradisional dan pusat perbelanjaan menjelang perayaan Idulfitri sepanjang akhir pekan lalu, umat Muslim India justru menunjukkan kepatuhan terhadap aturan menjaga jarak sosial saat pelaksanaan salat Id.

Mereka mematuhi seruan pemerintah dan para tokoh masyarakat dengan tidak melakukan salat Id berjamaah di masjid, termasuk di Masjid Jama New Delhi, yang merupakan masjid utama dan terkenal, yang dibangun Kaisar Mogul, Syah Jehan, yang juga membangun Taj Mahal.

Umat Muslim India memilih melakukan salat Id di rumah dan menghindari kunjungan untuk berlebaran bersama sanak-keluarga. Hal itu membuat jalanan kota New Delhi dan kota-kota lainnya di India lengang, dan sebagian besar pertokoan ditutup.

Shehzad Khan, seorang pengusaha beragama Muslim, mengaku merasa sedih karena tidak bisa melakukan ritual salat Id berjamaan di Masjid Jama yang sudah berdiri sejak 1650 dan menjadi kebanggaan umat Islam India.

“Ini mengubah tradisi, bahkan orang tua kita pun tidak pernah membayangkan bahwa kita akan merayakan Idulfitri seperti ini,” kata Shehzad Khan.

Meski demikian, dia mengaku memilih mematuhi anjuran pemerintah untuk menghindari penyebaran Covid-19. Selain tradisi salat Id, Shehzad Khan mengaku tradisi membeli baju baru untuk berlebaran juga berubah.

“Tahun ini, uang yang biasanya dihabiskan membeli pakaian baru untuk Idulfitri, kami berikan kepada orang miskin dan yang kehilangan mata pencaharian akibat dampak Covid-19. Kami berbagi karena ingin mereka tetap dapat merayakan Idulfitri,” ujar Shezad Khan.

Selain mengubah tradisi, wabah Covid-19 telah menghidupkan toleransi dan menghilangkan diskriminasi di India. Menjelang Idulfitri, beberapa anggota komunitas 'United Sikhs' melakukan aksi sanitasi Masjid Jama, di New Delhi, India, pada Minggu (24/5/2020).

Tidak hanya di New Delhi, aksi soladiritas antarumat beragama jugaterlihat di wilayah lain. Kuil Shri Mata Vaishno Devi di Jammu telah melayani sehri dan iftari selama bulan suci Ramadhan kepada sekitar 500 umat Muslim yang dikarantina di Aashirwad Bhawan yang diungsikan menjadi pusat karantina Covid-19.

India telah memberlakukan aturan pencegahan wabah Covid-19 seiring kasus infeksi yang terus meningkat. Menjelang perayaan Idulfitri, pemerintah India memberlakukan libur tiga hari dan menempatkan petugas keamanan untuk berpatroli ke sejumlah tempat yang biasa menjadi lokasi berkumpulnya umat Muslim India saat perayaan Idulfitri.

India menempati peringkat ke-10 negara di dunia yang paling parah terdampak pandemi Covid-19. Data Worldometers pada Senin (25/5/2020) mencatat total kasus Coid-19 positif di India mencapai 144.950 orang dengan 6.414 orang diantaranya merupakan kasus baru. Total kematian akibat Covid-19 di negara itu tercatat sebanyak 4,172 orang, di mana 148 orang diantaranya merupakan kasus kematian baru.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyampaikan ucapan selamat Idulfitri kepada umat Islam melalui cuitan di akun Twitter-nya.

"Idul Fitri! Semoga acara khusus ini memajukan semangat belas kasih, persaudaraan, dan harmoni. Semoga semua orang sehat dan sejahtera," kata Narendra Modi.



Sumber: AP, The Times of India, Suara Pembaruan