Kenormalan Baru Pandemi Covid-19

Vietnam dan Thailand ingin Memimpin Kebangkitan Pariwisata ASEAN

Vietnam dan Thailand ingin Memimpin Kebangkitan Pariwisata ASEAN
Sejumlah turis terlihat santai berlibur di Patong, salah satu pantai yang terkenal di Koh Phuket, Thailand. (Foto: Bangkok Post)
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 23 Juni 2020 | 19:23 WIB

Hanoi, Beritasatu.com - Vietnam dan Thailand ingin memimpin kebangkitan pariwisata negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN), setelah memasuki fase new normal (kenormalan baru) pandemi virus corona (Covid-19).

Kedua negara kini gencar melakukan promosi untuk memikat para pelancong untuk berlibur di sejumlah destinasi wisata, terutama pulau-pulau yang dipastikan tidak tersentuh atau hanya memiliki kasus Covid-19 yang rendah.

Vietnam, dengan populasi 95 juta, sejauh ini hanya mencatat 349 kasus Covid-19 di mana tidak ada kasus kematian dan hanya 22 kasus yang masih aktif. Tingkat infeksi Covid-19 di negara itu, setara dengan empat kasus Covid-19 untuk setiap satu juta orang, yang termasuk yang terendah di dunia.

Sedangkan Thailand yang juga mengandalkan pariwisata, yakni 20% dari pendapatan negara, juga mempromosikan jumlah kasus Covid-19 yang minim untuk menarik wisatawan. Sejaun ini, Thailand telah melaporkan 3.148 kasus Covid-19 dengan 58 orang meninggal. Tingkat infeksi Covid-19 di Thailand, yaitu 45 kasus untuk setiap satu juta orang, yang juga tergolong rendah di dunia. 

Setelah mencabut pembatasan sosial pada April 2020, Vietnam terus berbenah untuk pemulihan. Pemerintah berupaya mendatangkan pengunjung internasional, dengan menawarkan pulau Phu Quoc sebagai tujuan wisata gaya liburan baru.

"Turis-turis internasional harus menjalani tes COVID-19 dan melakukan perjalanan hanya ke satu tujuan saja, tetapi mereka akan dapat bergerak dengan bebas begitu tiba di sana," demikian pernyataan Kementerian Pariwisata Vietnam, Senin (22/6/2020). 

Kementerian Parwisata Vietnam juga menyatakan berencana untuk menerima pengunjung dari negara-negara di mana transmisi masyarakatnya rendah, termasuk Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Selandia Baru dan Australia, meskipun belum menyebutkan tanggal pembukaan untuk wisatawan asing. 

Thailand dilaporkan sedang menjajaki pengaturan serupa karena mempertimbangkan bagaimana memikat pengunjung kembali ke resor mewah di beberapa pulau-pulau wisata, antara lain Phuket, Samui, Phangan dan Phi Phi.

Pemerintah Thailand tertarik untuk mengatur ulang sektor yang sebelumnya sangat bergantung pada kelompok wisatawan, termasuk backpacker Tiongkok.

"Fokus baru kami adalah pelancong yang akan menuju resor mewah dengan paket promosi yang membuat mereka dapat menginap di hotel dengan fasilitas terbaik," kata Menteri Pariwisata Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn, sambil menyebut Phuket dapat menjadi prototipe baru untuk pulau tempat berlibur.

Kedua negara Asia Tenggara juga cenderung menargetkan pengunjung dari Eropa dan Amerika Serikat yang siap melakukan perjalanan begitu cuaca berubah menjadi lebih dingin di belahan bumi utara menjelang akhir tahun.

Negara-negara Asia Tenggara yang lebih kecil lainnya, termasuk Laos dan Kamboja, juga menjaga agar infeksi tetap rendah, guna pemulihan, termasuk membangkitkan kembali pariwisata.

Namun hal ini berbeda bagi Indonesia. Pada Senin (22/6/2020), Indonesia melaporkan 46.845 infeksi Covid-19 dengan 2.500 kematian. Tingkat infeksi Covid-19 di Indonesia adalah 171 kasus untuk setiap satu juta orang.

Hal ini membuat promosi wisata di Indonesia pada fase kenormalan baru akan sedikit tertinggal. Rencana pemerintah untuk membuka kembali Bali bagi wisatawan domestik telah goyah, setelah kasus Covid-19 di pulau itu merayap naik.

Pada Senin (22/6/2020), Bali melaporkan 30 kasus infeksi Covid-19 baru, sehingga total kasus menjadi 1.080 orang. Bali diharapkan akan mulai dibuka untuk wisatawan domestik pada Agustus 2020.

Rai Suryawijaya, ketua Asosiasi Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), menyatakan jika upaya pengendalian Covid-19 di Bali berjaan baik, wisatawan internasional akan diizinkan masuk ke Bali pada September 2020.

Data dari Organisasi Pariwisata Dunia menunjukkan penerimaan pariwisata akan turun antara 58% hingga 78% tahun ini. Sekitar US$ 80 miliar pendapatan pariwisata telah hilang akibat pandemi Covid-19 sepanjang kuartal I 2020.

Kawasan Asia Pasifik telah menjadi wilayah yang paling terpukul, dengan penurunan kedatangan sebesar 35% pada kuartal I 2020. Sedangkan Eropa mengalami penurunan 19%, diikuti oleh Amerika (15%), dan Timur Tengah (11%). 



Sumber: Bloomberg, Financial Review, Suara Pembaruan