Tiongkok Sebut Peter Navarro Berbohong Soal Kesepakatan Perdagangan

Tiongkok Sebut Peter Navarro Berbohong Soal Kesepakatan Perdagangan
Zhao Lijian (Foto: Dok SP)
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 24 Juni 2020 | 12:49 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Pemerintah Tiongkok menyebut penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, berbohong soal status kesepakatan perdagangan antarkedua negara raksasa ekonomi itu. 

Tiongkok juga mengecam pernyatataan Peter Navarro bahwa kesepakatan perdagangan fase I AS-Tiongkok yang ditandatangani pada Januari 2020, telah berakhir.

“Dia secara konsisten berbohong dan tidak memiliki kejujuran dan kepercayaan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, kepada wartawan dalam konferensi pers, di Beijing, Selasa (23/6/2020).

Mengenai kesepakatan perdagangan fase I dengan AS, Zhao Lijian mengatakan, sikap Tiongkok tetap konsisten dan jelas. Dia kemudian mengarahkan pertanyaan spesifik mengenai kesepakatan tersebut ke departemen terkait.

Dalam wawancara dengan Fox News, pada Senin (22/6/2020) malam waktu setempat, Peter Navarro menyalahkan kegagalan kesepakatan perdagangan pada Tiongkok dikaitkan dengan wabah virus corona (Covid-19) di mana Tiongkok tidak memberikan peringatan sebelumnya tentang hal itu.

Peter Navarro mengatakan “titik balik” terjadi ketika AS mengetahui tentang penyebaran virus corona justru setelah delegasi Tiongkok meninggalkan Washington setelah penandatanganan kesepakatan perdagangan fase I pada 15 Januari 2020.

Peter Navarro kemudian mengindikasikan bahwa kesepakatan perdagangan fase I antara kedua negara sudah berakhir. Pernyataan tersebut, membuat investor bereaksi negatif sehingga pasar keuangan dunia pada perdagangan Selasa (23/6) terkoreksi. Sejumlah mata uang negara-negara jatuh, antara lain dolar Australia dan Yuan, begitu juga dengan pasar saham di Asia dan pasar berjangka AS.

Hubungan AS dan Tiongkok telah mencapai titik terendah dalam beberapa tahun sejak pandemi coronavirus yang dimulai di Tiongkok menghantam AS dengan sangat parah. Trump dan pemerintahannya telah berulang kali menuduh Beijing tidak transparan tentang wabah itu.

Pada pekan lalu, Presiden AS, Donald Trump, memperbarui ancamannya untuk memutuskan hubungan dengan Tiongkok, sehari setelah diplomat topnya mengadakan pembicaraan dengan Beijing dan perwakilan perdagangannya.

Namun menyikapi pernyataan Peter Navarro, Donald Trump justru membuat komentar sebaliknya yang menunjukan bahwa kesepakatan perdagangan AS dengan Tiongkok tetap berjalan.

Di bawah kesepakatan perdagangan Fase 1, Tiongkok telah berjanji untuk meningkatkan pembelian barang-barang AS. sebesar US$ 200 miliar selama dua tahun.

Tetapi gangguan yang ditimbulkan oleh pandemi tersebut menyebabkan ekspor barang-barang AS ke Tiongkok jatuh pada kuartal pertama. Sejumlah pengamat menilai perdagangan AS dan Tiongkok akan kembali berjalan sesuai kesepakatan perdagangan pada paruh II 2020.



Sumber: Suara Pembaruan