PAP Tetap Berkuasa di Singapura

PAP Tetap Berkuasa di Singapura
Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (kiri) berfoto bersama warga, 3 Juli 2020. (Foto: AFP)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Sabtu, 11 Juli 2020 | 08:04 WIB

Singapura, Beritasatu.com - Partai berkuasa People's Action Party (PAP) berhasil memenangkan Pemilu Singapura yang dilakukan Jumat kemarin (10/7/2020).

PAP, yang berkuasa sejak 1965, memenangkan 83 dari 93 kursi parlemen, atau sekitar 61,2 persen suara -turun dari 70 persen suara yang diraihnya pada Pemilu 2015. Partai oposisi Worker's Party meraih hasil terbaiknya dengan 10 kursi.

Pemilu Singapura kali ini dipandang sebagai referendum bagaimana Pemerintah Singapura menangani wabah virus corona.

Pemilu, yang dilakukan di tengah-tengah wabah Covid-19, menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Pemilih diwajibkan menggunakan sarung tangan, masker, dan memilih di slot waktu yang ditentukan.

Singapura adalah salah satu negara Asia Pasifik yang paling terdampak Covid-19 dengan 45.000 kasus lebih.

Selain Singapura, negara lain yang mengadakan pemilu di tengah-tengah pandemi adalah Korea Selatan April lalu dan Serbia di akhir Juni. Pemilu juga dimenangkan petahana.

Dengan kemenangan PAP, PM Lee Hsien Loong akan kembali memerintah. Putra dari pendiri bangsa Lee Kuan Yew, Lee Hsien Loong telah menjabat PM sejak 2004. Namun, dia mengindikasikan jabatan yang kali ini akan menjadi yang terakhir.

Dengan dukungan 2/3 di parlemen, PM Lee bisa dengan bebas menciptakan undang-undang. Tetapi, dengan berkurangnya dukungan terhadap PAP, maka partai itu harus berjuang kembali meraih pemilih.

Meskipun kalah, pendukung Worker's Party tetap merayakan keberhasilan mereka karena suara yang diraih lebih dari ekspektasi.

Isu utama Pemilu Singapura adalah penanganan virus corona dan resesi ekonomi. Pada awalnya, Singapura berhasil membatasi penyebaran Covid-19, tetapi kemudian infeksi meningkat akibat klaster pekerja migran. Meskipun tingkat infeksi per kapita Singapura tinggi, tetapi tingkat kematian rendah dan mayoritas kasus berasal dari tenaga kerja asing yang tinggal di mess karyawan.

Lockdown di Singapura sudah dilonggarkan sejak Juni dan kurva Covid-19 hanya naik sedikit. Protokol pembatasan sosial dan masker tetap diwajibkan di area publik.



Sumber: BBC