Puspa Arumsari, Liburan Dulu Setelah Asian Games

Puspa Arumsari, Liburan Dulu Setelah Asian Games
Asni Ovier / AO Jumat, 7 September 2018 | 16:29 WIB

Jakarta - Rasa haru dan bangga Puspa Arumsari bercampur dengan airmata. Atlet pencak silat putri itu akhirnya mempersembahkan medali emas Asian Games 2018 untuk Indonesia dari nomor seni tunggal putri. Medali emas itu bukan hanya didedikasikan kepada semua orang yang dikasihi, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia.

“Luar biasa senang sekali. Ini satu kebanggaan bagi saya. Medali ini hadiah untuk diri saya, untuk orang tua, untuk bangsa Indonesia, dan juga beberapa pelatih yang hari ini dan beberapa hari lalu berulang tahun. Ini kado pertama dari pencak silat Indonesia untuk kalian semua,” ujar Puspa seusai menerima medali.

Emas yang dipersembahkan Puspa merupakan emas ke-13 bagi Indonesia. Atlet kelahiran 10 Maret 1993 yang bertanding di Padepokan Pencak Silat TMII itu meraih total poin 467, jauh melampaui poin pesilat Singapura dan Filipina. Puspa meraih poin cukup besar dibandingkan para pesaingnya, yakni Nurzuhairah Mohammad Yazid dari Singapura yang meraih 445 poin dan Cherry May Regalado dari Filipina yang mengumpulkan 444 poin.

Seusai perhelatan Asian Games 2018, Puspa ingin menikmati waktu senggangnya. Tetapi, rencana itu masih disesuaikan dengan jadwal latihan dan waktu yang sesuai. Meskipun agenda liburan sudah ada, dia mengaku belum punya tujuan. “Saya harus mengatur waktu, karena beberapa bulan ke depan ada kejuaraan dunia di Singapura. Kalau soal tempat memang belum terpikirkan, tetapi yang penting mau liburan dulu biar refresh,” tuturnya.

Kesuksesan dan minat Puspa pada pencak silat ternyata berawal dari ketidaksengajaan. Dia mengaku hanya mengikuti jejak kakaknya dalam menekuni pencak silat. “Awalnya, saya ikut pencak silat hanya ikut-ikutan kakak. Lalu saya mulai ikut kompetisi sampai akhirnya bisa juara dan mewakili DKI Jakarta. Saat ini, saya akhirnya bisa mewakili Indonesia di ajang Asian Games,” ujarnya bangga.

Seiring berjalannya waktu, pencak silat menjadi bagian dari hidup Puspa. Berbagai kejuaraan diikuti dan menghasilkan gelar. “Berkat pencak silat pula saya bisa sekolah, kuliah, dan membiayai kehidupan saya sendiri. Saya merasa berutang dengan pencak silat dan akan berusaha membayarnya lewat prestasi,” kata mantan juara dunia pada 2016 itu.

Dia berharap pencak silat bisa ikut dipertandingkan di Olimpiade 2020 sebagai cabang olahraga eksibisi. “Pencak silat itu budaya asli Indonesia, jadi tentu saya ingin bisa membawanya ke luar negeri,” kata dia.

Kita tentu mendukung harapan Puspa untuk menjadikan pencak silat sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Tetapi, International Olympic Committee (IOC) menetapkan beberapa syarat cukup berat supaya satu cabang olahraga bisa dipertandingkan di Olimpiade. Cabang olahraga itu harus dimainkan setidaknya 75 negara di empat benua. Untuk kategori putri, cabang itu minimal dimainkan di 40 negara pada tiga benua. Olahraga tersebut juga harus bisa meningkatkan nilai dan daya tarik Olimpiade. [U-5]



Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN