Lubarto, Orang Rusia Asal Banyumas
INDEX

BISNIS-27 437.928 (-6.4)   |   COMPOSITE 4945.79 (-39.24)   |   DBX 931.257 (3.24)   |   I-GRADE 131.318 (-1.79)   |   IDX30 415.488 (-6.92)   |   IDX80 108.562 (-1.33)   |   IDXBUMN20 273.68 (-2.25)   |   IDXG30 115.596 (-1.18)   |   IDXHIDIV20 371.558 (-6.96)   |   IDXQ30 121.636 (-2.04)   |   IDXSMC-COM 210.245 (0.19)   |   IDXSMC-LIQ 235.867 (0.2)   |   IDXV30 102.795 (-1.19)   |   INFOBANK15 787.375 (-15.3)   |   Investor33 363.773 (-5.92)   |   ISSI 144.695 (-0.44)   |   JII 523.846 (-2.73)   |   JII70 177.783 (-0.58)   |   KOMPAS100 971.12 (-10.68)   |   LQ45 760.321 (-10.32)   |   MBX 1369.12 (-13.17)   |   MNC36 271.592 (-3.83)   |   PEFINDO25 259.811 (2.03)   |   SMInfra18 233.526 (-0.76)   |   SRI-KEHATI 306.747 (-5.09)   |  

Catatan M Wahid Supriyadi

Lubarto, Orang Rusia Asal Banyumas

Minggu, 19 Juli 2020 | 10:30 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO

Jakarta, Beritasatu.com - Namanya Lubarto Sartoyo, perawakannya kecil untuk ukuran Rusia. Walaupun bapaknya asli Indonesia, namun Lubarto belum pernah ke Indonesia. Ayahnya, Sartoyo, adalah mahasiswa eks ikatan dinas, oleh Pemerintah Orde Baru disebut eks Mahid, asal dari daerah Banyumas yang datang ke Rusia pada 1961 dan belajar ilmu hukum di Peoples’ Friendship University of Russia (RUDN University) yang sebelumnya dikenal dengan nama Universitas Patrice Lumumba. Terakhir Sartoyo berprofesi sebagai lawyer.

Sampai sekarang tidak ada angka pasti, berapa jumlah mahasiwa Indonesia yang dikirim oleh Bung Karno ke Uni Soviet untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di negara itu. Beberapa sumber eks Mahid menyebutkan jumlahnya sekitar 2 ribu orang, termasuk anggota/kader Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi buruh yang berafiliasi ke PKI. Sekitar 1.000 yang benar-benar mahasiwa, dan sebagian besar mereka belajar teknik permesinan, kedirgantaraan, nuklir, teknologi nano dan lain-lain. Selebihnya ada yang belajar hukum, ekonomi dan sastra.

Saya pernah menanyakan, apakah selama belajar mereka diindoktrinasi atau mendapat mata kuliah tentang ideologi komunis. Mereka kompak menjawab tidak ada, itu hanya untuk orang lokal sampai tingkat SMA, sementara di perguruan tinggi mereka khusus belajar terkait bidang ilmunya. Kondisi Indonesia saat itu memang lagi kacau. Mereka takut pulang karena banyak yang langsung dipenjara dan bahkan terbunuh.

Mereka menolak disebut komunis dan kebanyakan mengaku sebagai Sukarnois. Akibat dari itu mereka kehilangan kewarganegaraan (stateless), dan tidak boleh bepergian sejauh lebih dari 30 km. Mereka juga tidak berani menulis surat kepada keluarganya di Indonesia, khawatir bisa memperburuk kondisi mereka. Praktis hubungan mereka terputus selama 30-an tahun dengan Indonesia. Beruntung ada Reformasi sehingga mereka bisa berkunjung ke Indonesia sejak saat itu.

Ketika terjadi peristiwa G 30 S PKI, sebagian besar dari mereka melarikan diri ke negara-negara Barat, terbanyak di Belanda, juga negara Eropa Timur seperti Chekoslovakia, Romania, Hongaria dan lain-lain. Yang tinggal di Uni Soviet diperkirakan antara 15-20 orang saja. Saat ini hanya ada sekitar 4 orang yang masih hidup, dan yang paling aktif satu orang, Profesor Sudaryanto, yang memang datang belakangan, tahun 1964. Beliau seorang profesor ekonomi dan mengajar di Universitas Koperasi di Moskow, aktif di gerakan diaspora.

Lubarto, sekitar 50 tahun, memiliki tiga gelar master di bidang ekonomi dan hukum, bisnis administrasi dan strategi pemasaran. Dia mengaku masih melakukan kontak dengan saudara-saudaranya di daerah Banyumas, dengan memanfaatkan google translate. Maklum Lubarto tidak bisa berbahasa Indonesia, dan Bahasa Inggrisnya pun terbatas. Selama ini dia mendengar tentang Indonesia dari bapaknya.

Lubarto merasa dekat kembali dengan Indonesia setelah mengikuti beberapa kali Festival Indonesia, dan mulai melakukan kontak dengan para pengusaha Indonesia. Kebetulan dia sekarang bergabung dengan Asosiasi Ekspor dan Impor yang diprakarsai oleh kantor Walik Kota Moskwa.

Saya beberapa kali mendorong kepada dia untuk berkunjung ke tanah leluhur orang tuanya dan sekaligus menjadi jembatan penghubung bisnis antar dua negara. Saya katakan dia orang yang sangat tepat. Walaupun telah mendjadi warga negara Rusia, bapaknya adalah asli Indonesia. Sekarang ini Indonesia sudah sangat terbuka untuk kaum diaspora, apa pun latar belakangnya.

Pada pertemuan tanggal 16 Juli kemarin, saya sengaja menemuinya untuk pamitan karena masa tugas saya akan berakhir bulan ini. Saya memberikan cendera mata berupa gunungan, dengan harapan dia tidak akan melupakan asal-usulnya. Kali ini dia berjanji akan datang ke Indonesia dengan misi bisnis sambil menengok tanah leluhurnya di daerah Banyumas. Saya usulkan dia bertemu dengan pejabat di Banyumas, menjalin dengan pegusaha lokal dan dapat menjadi “Duta” Banyumas di Rusia.

Dia pun menyambut baik ide itu. Keinginannya untuk pergi ke Indonesia semakin mantap. Kebetulan setiap tahun Kementerian Perdagangan bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri menyelenggarakan acara pemeran dagang terbesar Trade expo Indonesia di bulan Oktober.

Saya sempat bertemu dengan ayah Lubarto, Sartoyo, pada saat perkenalan saya dengan masyarakat di KBRI awal April 2016. Dengan memakai kursi roda, dia mendekati saya dan memperkenalkan diri berasal dari daerah Banyumas. Saya pun akhirnya berbicara dengan Bahasa Jawa ala Banyumasan (ngapak). Dia menyambutnya dengan semangat, karena jarang sekali ketemu orang Jawa yang bisa ngomong ngapak.

“Hampir lupa ngapak saya, untung Pak Dubes dari Kebumen, kita jadi sering-sering ngomong ngapak," kata Sartoyo bersemangat. Di pecinya ada pin bendera Indonesia dan Rusia serta lambang garuda. Sartoyo mengakui sebagai Sukarnois, sayang dia meninggal tahun 2017 karena penyakit komplikasi yang dideritanya.

Sebenarnya, banyak generasi kedua dan ketiga dari keluarga eks Mahid, namun selama ini tidak pernah datang atau berkumpul dengan orang Indonesia. Maklum mereka sudah menjadi warga negara Rusia dan tidak dapat lagi berbahasa Indonesia. Mungkin juga orang tuanya tidak pernah cerita tentang Indonesia mengingat hal itu bisa menjadi trauma tersendiri buat mereka.

Semenjak diselenggarakan Festival Indonesia Agustus 2016, mereka mulai muncul dan bahkan datang di upacara peringatan HUT RI. Saya selalu ngobrol dengan mereka, dan saya melihat tidak ada tanda-tanda rasa “benci” terhadap Indonesia dari ekpresi mereka. Kenyataannya memang mereka benar-benar sudah menjadi “orang” Rusia. Sewaktu pertama kali bertemu di acara festival di Hermitage Garden, merekalah yang pertama kali memperkenalkan diri bahwa ayahnya berasal dari Indonesia, namun kebanyakan tidak mengetahui ayahnya berasal dari mana.

Ketika saya menyelengarakan pertemuan dengan kalangan Indonesianis tanggal 10 Desember 2019, banyak dari mereka pun hadir berbaur dengan para Indonesianis lain yang sebagian sudah sangat senior. Dari 45 undangan yang disebar KBRI Moskow, hadir sekitar 90 orang. Ini luar biasa sekaligus membanggakan, mengingat sekitar 75% berasal dari generasi muda, baik dari masayarakat lokal, mahasiwa pecinta Indonesia, kawin campur maupun generasi kedua dan bahkan ketiga dari eks Mahid. Bahkan hadir seorang anak perempuan yang masih belajar di tingkat College dari keluarga kawin campur, yang berpidato dengan kenggunakan Bahasa Indonesia yang lumayan bagus, walaupun dengan sedikit dialek Rusia.

Empat tahun empat bulan saya bertugas di Rusia, jarak tidak membuat kendala bagi hubungan negara dan rakyat kedua negara. Saya senang, wisatawan Rusia meningkat hampir 100% dari sekitar 80 ribu di tahun 2016 menjadi hampir 160 ribu di tahun 2019. Demikian juga wisatwan Indonesia yang berkunjung ke Rusia meningkat dari sekitar 5 ribu di tahun yang sama menjadi sekitar 30 ribu di tahun 2018. Tidak sulit menemukan boneka matryoska di Rusia yang bergambar Presiden Sukarno dan Presiden Jokowi di pusat belanja uvenir terkenal Ismailovo. Pedagang di sana bahkan ada yang bisa berbahasa Indonesia.

*Catatan:

M Wahid Supriyadi adalah Duta Besar RI untuk Federari Rusia dan Republik Belarusia periode April 2016-Juli 2020.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Dua Hari Berturut-turut Kasus Covid-19 di AS Tembus 70.000

Menurut data Johns Hopkins University, terdapat 71.558 kasus baru pada Sabtu kemarin (18/7/2020).

DUNIA | 19 Juli 2020

Jumlah Kematian Akibat Covid-19 Tembus 600.000 Jiwa

Pandemi virus corona (Covid-19) hingga Sabtu (18/7/2020) telah memakan korban jiwa sebanyak 600.304 orang.

DUNIA | 18 Juli 2020

Kunjungan Wisatawan Indonesia ke Korsel Turun 68%

Jumlah wisatawan dari Indonesia turun 68 persen di semester pertama 2020.

DUNIA | 18 Juli 2020

Presiden Iran Sebut 25 Juta Warganya Terinfeksi Covid-19

Angka tersebut jauh lebih banyak dibandingkan data dari Worldometers yang hingga Sabtu (18/7/2020) baru sebanyak 14.214.771 kasus positif Covid-19 di dunia.

DUNIA | 18 Juli 2020

Kasus Harian Covid-19 di Meksiko Capai 7.257

Jumlah penambahan kasus positif Covid-19 di Meksiko, hari ini Sabtu (18/7/2020) mencapai 7.257. Ini merupakan jumlah tertinggi di dunia untuk hari ini.

DUNIA | 18 Juli 2020

PM Inggris Harap Sebelum Natal Kehidupan Sudah Normal

Aturan jarak sosial kemungkinan ditiadakan pada saat Natal.

DUNIA | 18 Juli 2020

Inflasi 785% di Tengah-tengah Covid-19, Zimbabwe di Ambang Gejolak

Tanpa mata uang yang stabil dan berharga, Zimbabwe tidak bisa mengimpor. Rakyatnya menghadapi kelangkaan makanan dan peralatan medis di tengah-tengah Covid-19.

DUNIA | 17 Juli 2020

PM Inggris Akan Izinkan Penonton Kembali ke Stadion pada Oktober

Sebelum itu akan dilakukan serangkaian uji coba beberapa pertandingan dengan kehadiran penonton yang akan dimulai akhir bulan ini.

DUNIA | 17 Juli 2020

Tiongkok Panggil Dubes AS Terkait Otonomi Hong Kong

Pemerintah Tiongkok memanggil Duta Besar AS Terry Branstad sebagai protes atas kebijakan tentang otonomi Hong Kong yang disahkan Kongres AS dan ditandatangani Presiden Donald Trump.

DUNIA | 17 Juli 2020

Infeksi Global Covid-19 Melonjak, Negara-negara Tunda Pembukaan

Kasus infeksi virus corona melonjak di seluruh dunia pada Rabu (15/7) sehingga memaksa sejumlah negara untuk menahan diri dalam pembukaan kembali ekonomi

DUNIA | 17 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS