Ketua Umum JMSI Soroti Praktik Jurnalisme yang Gunakan Combative Lens
INDEX

BISNIS-27 428.182 (-1.25)   |   COMPOSITE 4879.1 (1)   |   DBX 933.193 (0.2)   |   I-GRADE 128.434 (0.25)   |   IDX30 404.523 (-1.05)   |   IDX80 106.174 (-0.17)   |   IDXBUMN20 268.239 (-0.84)   |   IDXG30 113.341 (-0.05)   |   IDXHIDIV20 361.328 (-1.43)   |   IDXQ30 118.527 (-0.37)   |   IDXSMC-COM 209.874 (0.07)   |   IDXSMC-LIQ 234.117 (0.27)   |   IDXV30 100.803 (-0.03)   |   INFOBANK15 767.134 (-4.66)   |   Investor33 355.071 (-1.5)   |   ISSI 143.565 (0.35)   |   JII 517.566 (2.32)   |   JII70 175.828 (0.63)   |   KOMPAS100 953.068 (0.13)   |   LQ45 742.375 (-1.19)   |   MBX 1347.52 (-0.07)   |   MNC36 265.633 (-0.06)   |   PEFINDO25 258.006 (0.98)   |   SMInfra18 230.699 (-0.49)   |   SRI-KEHATI 299.246 (-1.18)   |  

Forum Diplomasi Indonesia

Ketua Umum JMSI Soroti Praktik Jurnalisme yang Gunakan Combative Lens

Selasa, 7 Juli 2020 | 11:14 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO

Jakarta, Beritasatu.com - Media adalah alat perang paling canggih yang menjadikan sistem kesadaran individu sebagai sasaran atau target utama. Media dapat membuat kelompok sasaran menjadi lumpuh dan kehilangan keyakinan. Bila situasi itu terjadi, maka pihak lawan yang menggunakan media sebagai alat perang tidak perlu repot-repot mengirimkan armada perang untuk menaklukkan.

“Ini arti penting media. Apalagi, dalam dua dekade belakangan, setidaknya sejak 2000, lanskap komunikasi berubah dengan sangat drastis, di mana produsen informasi bukan lagi korporasi, perusahaan media, tetapi siapa pun bisa memproduksi informasi,” ujar Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa ketika berbicara dalam diskusi virtual bertajuk "Membaca Diplomasi Indonesia", Minggu (5/7/2020).

Diskusi virtual ini dipandu Direktur Daerah Tertinggal (Perbatasan Negara), Transmigrasi, dan Perdesaan, Bappenas, Velix V Wanggai, yang juga alumni jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Gadjah Mada (UGM). Hadir sebagai keynote speaker adalah Staf Ahli Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Kementerian Luar Negeri yang juga Jurubicara Kemlu, Teuku Faizasyah.

Pembicara lain adalah Wali ota Bogor Bima Arya Sugiarto, dosen senior HI Universitas Indonesia Evi Fitriani, Marketing & Communication Director Accenture Indonesia Nia Sarinastiti, serta sastrawan Okky Madasari yang juga kandidat doktor dari National University of Singapore.

Juga hadir sebagai pembicara Implementation Director, KOMPAK Program (Indonesia Governance for Growth), Australia-Indonesia Partnership, Theodore Weohau, dan Head of Democratic Governance and Poverty Reduction Unit, UNDP, Siprianus Bate Soro.

Penyelenggara diskusi virtual mengundang Teguh, karena selain berprofesi sebagai wartawan dan pengelola media, Teguh dinilai memiliki pengalaman langsung dalam hal diplomasi. Ia mendalami sejumlah isu internasional, seperti sengketa Sahara Barat dan konfilik di Semenanjung Korea.

Untuk sengketa Sahara Barat, ia pernah diundang PBB untuk berbicara di Komisi IV PBB yang membidangi masalah politik khusus dan dekolonisasi. Pada 2010 Teguh mendirikan Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko dan masih menjadi presiden di organisasi itu.

Sementara, untuk konflik di Semenanjung Korea, pengalaman Teguh terbilang unik. Ia dapat mengunjungi kedua negara itu dan berkomunikasi dengan pejabat dan masyarakat di kedua Korea. Sejak 2009 Teguh dipercaya sebagai Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea. Tahun lalu, dirinya diundang menjadi pembicara dalam seminar internasional mengenai proses perdamaian di Semenanjung Korea yang diselenggarakan organisasi wartawan Korea Selatan.

Teguh mengatakan, praktik jurnalistik masih kerap menggunakan combative lens, yang melihat dialog sebagai sebuah pertempuran yang harus berakhir dengan kemenangan dan kekalahan. Hal ini membuat objektivitas menjadi kabur bahkan hilang.

“Terlalu banyak informasi yang ditulis wartawan yang menggunakan combative lens. Seolah-olah setiap dialog harus diakhiri dengan siapa yang menang dan siapa yang kalah,” ujar mantan Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat ini.

Teguh mencontohkan bagaimana respon kalangan wartawan dan media mengenai kabar kematian pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, yang begitu ramai di bulan April lalu. Karena sudah diberitakan media-media besar luar negeri, berita itu pun ditelan begitu saja oleh media-media di Indonesia.

“Saya berusaha untuk mencari tahu ke kontak-kontak yang saya punya, baik di Jakarta maupun di Pyongyang. Saya menemukan informasi yang saya yakini bahwa ia berada dalam keadaan yang baik-baik saja,” katanya lagi.

Setelah mendapatkan klarifikasi itu, Teguh membagikan informasinya ke kalangan wartawan. “Mereka tanya, mana buktinya. Saya katakan, ini lucu. Waktu kalian menerima informasi pertama yang mengatakan Kim Jong Un meninggal dunia, tidak seorang pun yang bertanya mana buktinya. Tetapi, ketika ada informasi yang saya sampaikan untuk menjelaskan sisi yang lain, semua ribut dan mempertanyakan bukti,” urai Teguh.

Teguh mengatakan, penelusuran yang dilakukannya adalah bagian dari upaya untuk mendekati fakta agar tidak sekadar larut dalam desas-desus yang berkembang. Meski begitu, Teguh tidak menyalahkan media yang ikut mengabarkan desas-desus kematian Kim Jong Un pada saat itu.

"Karena jurnalistik itu tidak tentang kebenaran final atau kebenaran ilahiah, melainkan kebenaran yang bersifat fungsional, yang menjawab pertanyaan pada ruang dan waktu tertentu,” ujar Teguh.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Fasilitas Kesehatan Covid-19 di Bengkulu Hanya Terisi 35 Persen

RS Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu hanya merawat lima pasien Covid-19.

NASIONAL | 7 Juli 2020

413 Peserta UTBK SBMPTN Unib Tak Hadir

Peserta dari luar Bengkulu harus melakukan rapid test terlebih dahulu.

NASIONAL | 6 Juli 2020

Fosil Ikan Predator Raksasa 70 Juta Tahun Ditemukan

Fosil karnivora yang memiliki gigi tajam

NASIONAL | 7 Juli 2020

Polisi Buru Perampok Emas Senilai Rp 2 Miliar di Kota Jambi

Aksi perampokan toko emas Gemilang di pasar Villa Kenali, Kota Jambi tersebut terjadi saat pasar masih ramai.

NASIONAL | 7 Juli 2020

Sense of Crisis di Tengah Pandemi, Hasto Ultah ke-54 Tanpa Tiup Lilin

Tidak ada yang spesial di hari ulang tahun Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang ke-54 hari ini. Tidak tiup lilin, dia bekerja seperti biasa.

NASIONAL | 7 Juli 2020

Dikabarkan Bermasalah, Menteri KKP Beri Izin 26 Eksportir Lobster

Kalau ada hubungan dengan Menteri KKP, apakah salah jika mendapatkan izin ekspor lobster.

NASIONAL | 7 Juli 2020

Pemandu Wisata di Papua Barat Belajar Beternak Secara Daring

Memanfaatkan lahan sempit pekarangan rumah untuk beternak ikan

NASIONAL | 7 Juli 2020

Asuransi Jiwasraya Pernah Punya Deposito dan Aset Rp 5 T

Pada 2018, PT Asuransi Jiwasraya Tbk sebenarnya memiliki deposito Rp725 miliar dan obligasi sebesar Rp4,5 triliun.

NASIONAL | 7 Juli 2020

Usai 18 Tahun Penjara, Ety Toyyib Harus Menginap 2 Pekan di Wisma Atlet

Etty dan semua pekerja migran yang baru datang wajib menjalani rapid test dan karantina dua pekan.

NASIONAL | 7 Juli 2020

Kabar Bocornya Soal UTBK, Ketua LTMPT: Itu Ngarang Saja

Itu setiap tahun terjadi dan Insyaallah tidak akan ada.

NASIONAL | 6 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS