Pengamat: Pandemi Covid-19 Merupakan Ancaman Keamanan, Juga Ranah BIN
INDEX

BISNIS-27 448.146 (0.12)   |   COMPOSITE 5091.82 (17.74)   |   DBX 966.643 (5.38)   |   I-GRADE 139.941 (-0.02)   |   IDX30 428.154 (0.24)   |   IDX80 113.358 (0.35)   |   IDXBUMN20 291.199 (1)   |   IDXG30 119.599 (-0.28)   |   IDXHIDIV20 379.423 (0.06)   |   IDXQ30 124.629 (0.16)   |   IDXSMC-COM 218.961 (1.08)   |   IDXSMC-LIQ 257.997 (1.29)   |   IDXV30 107.251 (0.1)   |   INFOBANK15 832.7 (-0.23)   |   Investor33 373.408 (0.69)   |   ISSI 150.953 (0.04)   |   JII 549.986 (-0.02)   |   JII70 187.543 (0.25)   |   KOMPAS100 1019.5 (2.5)   |   LQ45 788.563 (1.46)   |   MBX 1407.83 (4.49)   |   MNC36 279.661 (0.63)   |   PEFINDO25 277.129 (4.96)   |   SMInfra18 242.149 (-0.42)   |   SRI-KEHATI 316.134 (0.34)   |  

Pengamat: Pandemi Covid-19 Merupakan Ancaman Keamanan, Juga Ranah BIN

Senin, 28 September 2020 | 09:27 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO

Jakarta, Beritasatu.com - Ancaman kesehatan, seperti pandemi Covid-19 saat ini, merupakan ancaman bagi keamanan manusia. Oleh karena itu, penanganan pandemi Covid-19 ikut menjadi urusan atau ranah Badan Intelijen Negara (BIN).

Di sisi lain, Pasal 30 huruf d Undang-Undang (UU) Nomor 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara memberikan kewenangan kepada BIN untuk membentu satuan tugas (satgas) dalam pelaksanaan aktivitas intelijen.

"Ancaman kesehatan juga merupakan bagian dari ancaman terhadap keamanan manusia yang merupakan ranah kerja BIN. Dengan dasar tersebut, BIN turut berpartisipasi secara aktif membantu Satgas Penanganan Covid-19 dengan melakukan operasi medical intelligence (intelijen medis), di antaranya berupa gelaran tes usap di berbagai wilayah, dekontaminasi, serta kerja sama dalam pengembangan obat dan vaksin," ujar pengamat intelijen Susaningtyas NH Kertopati di Jakarta, Senin (28/9/2020).

Pengamat yang akrab disapa Nuning itu mengatakan, hal seperti itu juga dilakukan di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat yag memiliki National Center for Medical Intelligence (NCMI), yang melakukan surveillance penyakit menular di dunia. Lalu, NATO di Eropa melibatkan aktivitas intelijen dalam pengkajian infrastruktur kesehatan.

Menurut Nuning, kehadiran Satgas BIN telah mendapatkan apresiasi positif dari kementerin, lembaga, dan pemerintah daerah. Mereka justru menyampaikan permohonan kepada BIN untuk membantu pelaksanaan pelacakan kontak di wilayah atau institusinya dengan melakukan tes usap Covid-19, bahkan dengan beban anggaran operasi BIN.

Upaya-upaya yang dilakukan BIN, kata Nuning, semata-mata untuk membantu pemerintah dalam percepatan penanganan pandemi Covid-19, di antaranya melalui 3T, yakni testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan), dan treatment (perawatan). BIN juga ikut memperbanyak kapasitas tes di Indonesia yang saat ini masih di bawah rata-rata tes harian yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 1.000 tes per 1 juta penduduk.

"Oleh karena itu, BIN bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian dan universitas yang memiliki fasilitas laboratorium biosafety (BSL) level 2 dan 3 di berbagai daerah, terutama yang masuk dalam zona merah Covid-19," ujar Nuning.

BIN juga ikut meningkatkan kapasitas uji spesimen dengan memberikan berbagai bantuan alat laboratorium, mulai dari RT PCR hingga berbagai peralatan lainnya, seperti reagen. BIN juga membangun satu laboratorium stasioner berstandar BSL-2+ dan 4 unit laboratorium mobile berstandar BSL-2 untuk membantu mempercepat dan memperbanyak kapasitas tes, yang mampu menjangkau zona-zona merah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau.

"Upaya 3T dimaksudkan untuk mencegah orang tanpa gejala agar tidak menjadi penyebar (spreader) merupakan perhatian kita bersama. Mengobati pasien Covid-19 dengan kondisi ringan dan sedang yang dideteksi sejak dini dari tes usap berpeluang sembuh lebih besar serta lebih murah. Jangan sampai stigmatisasi masyarakat yang kuat melekat menjadi bagian dari polemik hasil tes positif-negatif. Sebagai lini terdepan dalam keamanan nasional sebagaimana amanat UU Nomor 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara, maka BIN berkewajiban membantu pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19," ujar Nuning.

Nuning juga mengomentari pandangan sebagian masyarakat terkait masalah akurasi hasil tes yang dilakukan BIN. Dikatakan, dalam melakukan proses uji spesimen, laboratorium BIN menggunakan dua jenis mesin RT-PCR, yaitu jenis qiagen dari Jerman dan jenis thermo scientific dari AS. BIN juga memiliki sertifikat BSL-2 yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium, telah dilakukan proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional, World Bio Haztec (Singapura).

BIN juga melakukan kerja sama dengan Lembaga Biomokuler Eijkman untuk standar hasil tes. Dengan demikian, tes yang dilakukan BIN layak digunakan untuk analisis reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) yang sesuai standar.

BIN, kata Nuning, juga menerapkan ambang batas standar hasil tes PCR yang lebih tinggi dibandingkan institusi atau lembaga lain. Hal itu tercermin dari nilai CT QPCR, di mana nilai ambang batas bawahnya adalah 35. Namun, untuk mencegah orang tanpa gejala lolos skrining, maka BIN menaikkan menjadi 40, termasuk juga melakukan melakukan uji validitas melalui triangulasi tiga jenis gen, yaitu RNP/IC, N, dan ORF1AB.

"Dewan analis strategis intelijen medis BIN termasuk jaringan intelijen di WHO menjelaskan, fenomena hasil test usap positif menjadi negatif bukan hal yang baru. Ada beberapa penyebabnya," ujar Nuning.

Pertama, RNA/protein yang tersisa (jasad renik virus) sudah sangat sedikit bahkan mendekati hilang pada ambang batas, sehingga tidak terdeteksi lagi, apalagi bila subjek tanpa gejala klinis dan dites pada hari yang berbeda. Orang tanpa gejala yang mendekati sembuh berpotensi memiliki fenomena tersebut.

Kedua, terjadi bias pre-analitik, yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh dua orang berbeda dengan kualitas pelatihan dan prosedu standar operasi yang berbeda pada laboratorium yang berbeda pula. Dengan demikian, sampel swab sel yang berisi virus corona tidak terambil atau terkontaminasi.

Ketiga, sensitivitas reagen dapat berbeda, terutama untuk pasien yang nilai CQ/CT-nya sudah mendekati 40. Dalam kaitan ini, BIN menggunakan reagen Perkin Elmer (AS), A-star Fortitude (Singapura), dan Wuhan Easy Diag (Tiongkok). Reagen ini lebih tinggi standar dan sensitivitasnya terhadap strain Covid-19 dibandingkan merk lain, seperti Genolution (Korsel) dan Liferiver (Tiongkok) yang digunakan beberapa rumah sakit.

"Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi perbedaan hasil tes. Kasus false positive dan false negatif telah banyak dilaporkan di berbagai negara, seperti AS, Tiongkok, dan Swedia," kata Nuning.

Selain itu, ujar Nuning, dalam menggelar kegiatan tes massal di berbagai lokasi, BIN berkoordinasi dengan pemerintah daerah, termasuk di dalamnya dinas kesehatan serta gugus tugas daerah. Kerja sama itu dilakukan untuk membantu menentukan lokasi yang menjadi klaster penyebaran Covid-19.

Sejak satgas intelijen medis beroperasi pada April 2020, BIN selalu melaporkan hasil tes usap yang selama ini dilakukan kepada Kementerian Kesehatan dan Satgas Penanganan Covid-19," ujarnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

BIN Justru Wajib Ikut Atasi Pandemi Covid-19

Jangan memahami definisi ancaman secara sempit, seolah-olah intelijen hanya boleh mengurusi penjahat dan teroris.

NASIONAL | 28 September 2020

Kondisi Menteri Edhy Membaik, Dirjen KKP Meninggal Dunia Akibat Covid-19

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo juga positif Covid-19

NASIONAL | 28 September 2020

Asrama Haji Kota Jambi Disiapkan Jadi Tempat Isolasi Covid-19

Asrama Haji Kota Jambi memiliki kapasitas 200 kamar dan 400 unit tempat tidur. Kemudian Asrama Haji Kota Jambi juga tidak terlalu dekat dengan permukiman warga.

NASIONAL | 28 September 2020

Kemdikbud: Tanpa Koneksi Internet, 8.000 Sekolah Tidak Bisa Belajar Online

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), dari 220.000 sekolah yang terdaftar, 81% di antaranya memiliki jaringan internet.

NASIONAL | 27 September 2020

Penggunaan Subsidi Kuota Dibatasi, Kemdikbud: Provider Takut Sinyal Jelek

Pertimbangan pembatasan pembagian kuota ini terkait dengan kapasitas infrastruktur per masing-masing operator telekomunikasi.

NASIONAL | 27 September 2020

BIN Bantu Penanganan Covid-19, Tjahjo: Patut Diapresiasi

Mantan Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo mengapresiasi inisiatif Badan Intelijen Negara (BIN) dalam membantu penanganan Covid-19.

NASIONAL | 27 September 2020

Baru 48% Nomor Ponsel yang Dapat Subsidi Kuota Internet

Angka tersebut akan terus bertambah setiap hari setelah dilakukan verifikasi dan validasi (verval) nomor ponsel oleh operator.

NASIONAL | 27 September 2020

Perlindungan terhadap Jaksa Dinilai Tidak Dibutuhkan

Perlindungan terhadap jaksa sebagaimana yang diusulkan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Kejaksaan dinilai tidak dibutuhkan.

NASIONAL | 27 September 2020

DPR: Kemdikbud Belum Berikan Data Detail tentang Kebutuhan Kuota

Saat ini data yang digunakan hanya dengan sampel yang sepertinya juga belum mewakili populasi.

NASIONAL | 27 September 2020

Ikut Tangani Covid-19, BIN Berkomitmen Bantu Bangsa dan Negara

Keterlibatan BIN dalam penanganan Covid-19 tidak terlepas dari perintah Presiden Joko Widodo.

NASIONAL | 27 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS