Dukung Pajak, Bank Mandiri Implementasikan Core Billing 2.0

Dukung Pajak, Bank Mandiri Implementasikan Core Billing 2.0
Pajak. ( Foto: ist )
Lona Olavia / FMB Kamis, 30 Agustus 2018 | 14:40 WIB

Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mendukung Kementerian Keuangan dalam upaya peningkatan penerimaan negara melakukan penguatan sistem pembayaran pajak. Dukungan ini diwujudkan dengan implementasi mekanisme pembuatan ID Billing secara massal berbasis file di Core Billing 2.0 Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melalui mekanisme e – Tax Bulk Uploader.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan menilai, kemudahan sistem pembayaran ini nantinya bisa mendukung target penerimaan pajak negara yang hingga akhir tahun diprediksi tumbuh 17 persen-18 persen secara year on year (yoy). Per Agustus sendiri penerimaan pajak tercatat sudah mengalami kenaikan 15 persen yoy. Ditjen Pajak seperti diketahui tahun ini menargetkan penerimaan pajak senilai Rp 1.385,9 triliun, sehingga mampu mendongkrak penerimaan perpajakan senilai Rp 1.618,1 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) 2018.

"Dari Core 2.0 ini salah satu fitur yang ada yakni bisa layani billing secara massal, sehingga bisa lebih cepat, khususnya pada masa jatuh tempo pembayaran. Kalau biasanya kan banyak bank karena dulu billing diproses satu per satu, beruntung teknologi sudah maju sekarang," ujarnya di sela-sela sosialisasi penerapan Core Billing 2.0 DJP melalui mekanisme e – Tax Bulk Uploader kepada sekitar 150 Nasabah segmen Wholesale di Jakarta, Kamis (30/8).

SVP Transaction Banking Wholesale Product Bank Mandiri Adinata Widia mengatakan, penerapan mekanisme E-Tax Bulk Uploader ini akan memanfaatkan layanan Mandiri Cash Management (MCM) sehingga dapat dengan mudah digunakan wajib pajak korporasi, terutama yang merupakan nasabah Bank Mandiri.

“Layanan implementasi ini hadir dalam rangka memberikan solusi transaksi kepada perusahaan terkait kewajiban pembayaran perpajakan, dengan jumlah transaksi beserta nominal yang tentunya tidak bernilai kecil. Melalui layanan bulk billing Mandiri Cash Management diharapkan dapat menjadi jawaban atas kebutuhan pemenuhan transaksi perusahaan,” katanya.

Sebagai mitra pengembang sistem ini Bank Mandiri berharap dapat meningkatkan kecepatan proses pembuatan ID Billing hingga mencapai 400.000 transaksi per jam. Dengan demikian nasabah akan mendapatkan kepastian untuk memperoleh ID Billing dalam waktu yang lebih singkat.

Adi menjelaskan, pihaknya telah melakukan implementasi awal sistem ini sejak Januari 2018 dan hingga kini telah terdapat 40 nasabah wholesale yang telah terintegrasi. “Hasilnya, dari 40 nasabah tersebut pada periode April – Juli 2018 tercatat telah dilakukan pembayaran pajak sebesar Rp 600 miliar dari sekitar 10.000 transaksi,” sebutnya.

Ia menambahkan, pihaknya akan menggandeng aparat pajak untuk mensosialisasikan mekanisme ini kepada seluruh nasabah wholesale perseroan, serta mengimplementasikan kepada seluruh nasabah baru pembayar pajak segmen wholesale. “Kami juga akan melakukan monitoring secara menyeluruh untuk memastikan kelancaran proses pembayarannya,” pungkasnya.

Diketahui, saat ini, Bank Mandiri telah menjadi salah satu bank persepsi yang menerima setoran penerimaan negara dalam valuta rupiah dan dolar AS. Pada 2017, Bank Mandiri telah memfasilitasi pembayaran penerimaan negara mencapai sekitar Rp 405 triliun, di mana Rp 207 triliun atau sebesar 50 persen merupakan transaksi pajak.



Sumber: Suara Pembaruan