Perbarindo Dorong BPR dan BPRS Tingkatkan Layanan Digital

Perbarindo Dorong BPR dan BPRS Tingkatkan Layanan Digital
Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), menggelar Musyawarah Nasional (Munas) X Perbarindo dan Seminar Nasional "Peran BPR-BPRS sebagai Mitra UMKM dalam memperluas Akses Layanan Perbankan bagi Masyarakat Indonesia" di The Sunan Hotel, Solo, Senin 22 Oktober 2018. (Foto: Beritasatu Photo)
Feriawan Hidayat / FER Senin, 22 Oktober 2018 | 15:46 WIB

Solo - Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) mendorong anggotanya, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), untuk meningkatkan layanan digital.

Ketua Perbarindo, Djoko Suyanto, mengatakan, industri BPR-BPRS telah melayani masyarakat Indonesia selama hampir 30 tahun dan masih tetap tumbuh, eksis serta menjadi mitra strategis pelaku UMKM.

"Untuk menghadapi tantangan di era digital seperti saat ini, BPR dan BPRS harus dapat meningkatkan layanan digital agar dapat bersaing dan menunjang pengembangan bisnis kedepan," kata Djoko, dalam Musyawarah Nasional (Munas) X Perbarindo, di The Sunan Hotel, Solo, Senin (22/10).

Menurutnya, peran dan fungsi intermediasi telah dilakukan dengan baik oleh industri BPR dan BPRS. Hal ini terlihat dari perkembangan jumlah kredit yang disalurkan pada Juli 2018 mencapai Rp 95 triliun atau tumbuh sebesar 8,59 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya.

"Keberhasilan dalam penyaluran kredit mencerminkan industri BPR dan BPRS produk dan layanan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat," tandasnya.

Untuk perkembangan jumlah kredit yang disalurkan pada Juli 2018 mencapai Rp 95 triliun atau tumbuh sebesar 8,59 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Sedangkan dari sisi penghimpunan dana, jumlah tabungan pada Juli 2018 mencapai Rp 28 triliun, atau mengalami kenaikan 14,23 persen dibandingkan posisi setahun sebelumnya. Kenaikan yang sama juga terdapat pada sisi deposito, tumbuh mencapai 8,99 persen menjadi Rp 60 triliun pada Juli 2018.

"Keberhasilan dalam menghimpun dana pihak ketiga mencerminkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat semakin meningkat dan produk yang dimiliki lebih menguntungkan," tandasnya.

Selain itu, kata Djoko, industri BPR dan BPRS telah melayani masyarakat Indonesia sebanyak 17 juta nasabah yang terdiri dari debitur sebanyak 4 juta rekening dengan rata-rata pinjaman Rp 27 juta, deposan sebanyak 600.000 rekening dengan rata-rata deposito sebesar Rp 102 juta dan penabung sebanyak 12,4 juta rekening dengan rata-rata tabungan sebesar Rp 2 juta.

"Hal ini memiliki arti, sangat jelas industri BPR dan BPRS berada di grassroot dan garda terdepan dalam melakukan literasi serta edukasi terhadap masyarakat," katanya.

Dalam Munas Perbarindo tersebut, juga digelar seminar nasional dengan tema 'Peran BPR dan BPRS Sebagai Mitra UMKM Dalam Memperluas Akses Layanan Perbankan Bagi Masyarakat Indonesia'. Munas kali ini turut dihadiri oleh Para Pengurus dari 24 DPD, Pengurus dari 48 DPK, Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi BPR dan BPRS Anggota Perbarindo seluruh Indonesia.

Sejumlah langkah yang telah dilakukan Perbarindo untuk menghadapi era digital yaitu dengan menginiasi dan merealisasikan pengembangan Mobile Point Of Sales (MPOS) BPR. MPOS adalah Pembaca KTP-elektronik terintegrasi EDC, sehingga memiliki fungsi yang lebih dari sekedar pembaca e-KTP reader.

"MPOS bisa digunakan untuk aktivitas perbankan seperti, setor tunai, tarik tunai, cek saldo, cek mutasi, pemindahan buku, pembukaan rekening atau pendaftaran dan layanan multi biller. Pengembangan MPOS sudah selesai, dalam acara Munas ini MPOS sudah bisa di rilis dan dapat digunakan pada seluruh BPR dan BPRS di Indonesia," jelasnya.



Sumber: BeritaSatu.com