Sri Mulyani: Perbankan Harus Adopsi Teknologi agar Tidak Punah

Sri Mulyani: Perbankan Harus Adopsi Teknologi agar Tidak Punah
Sri Mulyani. ( Foto: AFP )
Nida Sahara / FMB Kamis, 15 November 2018 | 13:53 WIB

Jakarta - Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati mengatakan disrupsi teknologi saat ini memang tidak bisa dihindari. Untuk itu industri perbankan harus bisa menghadapi dan mengadopsi teknologi supaya tidak mengalami kepunahan seperti dinosaurus.

Sri Mulyani menyebut, tantangan tidak mudah, selama 20 tahun terakhir 1997-1998 perbankan terus mengalami ujian yang tidak mudah tetapi terus mengalami kebangkitan. Ujian terberat itu 2008-2009 disebut global financial crisis yang mengancam seluruh ekonomi dunia, tetapi perbankan bisa survive.

"Disrupsi ini tidak bisa dihindari, taetpi bagaimana respon itu sangat tergantung dari leadership. Saya harap seluruh perbankan mampu menghadapi ini sehingga tidak mengalami seperti dinosaurus," kata Sri Mulyani dalam sambutan di acara Indonesia Banking Expo 2018, Jakarta, Kamis (15/11).

Pihaknya juga menyebut revolusi industri 4.0 juga perlu dimaknai secara positif. Dengan adanya perubahan industri 4.0 juga sebagai solusi akselerasi pembangunan Indonesia. Dari sisi pemerintah, pihaknya juga turut meningkatkan inklusi keuangan, karena masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses untuk masuk ke internet atau digital.

"Masih 50 persen masyarakat yang excluded, belum masuk, kita punya unicorn yang dibanggakan itu bisa jadi fondasi ekonomi dan bisa masuk untuk penetrasi ke masyarakat di manapun berada," ungkap dia.

Sri Mulyani juga mengungkapkan, industri perbankan harus bisa menerima revolusi 4.0 dan harus masuk juga ke dalam era tersebut. Namun, mengembangkan teknologi digital, industri keuangan, khususnya perbankan, merupakan bisnis kepercayaan. Sehingga, dalam transformasi digital, perbankan diharapkan jangan melupakan good corporate governance (GCG).

"Pandangan saya sama, fondasi bisnis bank adalah trust dan confidence. Dalam transformasi ini GCG tidak bisa ditawar, perubahan tidak bisa dihindari, maka yang menjadikan seseorang atau institusi berhasil dalam menghadapi era perubahan adalah adaptasi yang cukup kuat," terang Sri Mulyani.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, secara umum, terdapat beberapa disrupsi teknologi yang dapat merubah masa depan perbankan. Sebut saja Cloud, API, Robotic Process Automation, Artificial Intelligence, dan Blockchain. Semua disrupsi ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya kadang tampak sangat menarik.

"Namun perlu kita sadari bahwa dampak dari transformasi digital harus dipahami secara jelas oleh para pemangku kepentingan. Perbankan diharapkan dapat lebih terbuka dan membuka kerja sama dengan pihak lain. Pergeseran penghasilan perbankan dari pendapatan bunga ke pendapatan nonbunga dan tuntutan akan inovasi dan investasi di transformasi digital merupakan langkah yang tidak bisa dihindari," jelas Tiko sapaan Kartika. 



Sumber: Investor Daily