BCA Berikan Donasi ke UNICEF dan WWF Rp 1,3 Miliar

BCA Berikan Donasi ke UNICEF dan WWF Rp 1,3 Miliar
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA memberikan donasi kepada United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) senilai Rp 1,354 miliar, di Jakarta, Jumat (16/11) ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Jumat, 16 November 2018 | 15:30 WIB

Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA memberikan donasi kepada United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) senilai Rp 1,354 miliar, terdiri dari Rp 850 juta untuk UNICEF dan Rp 504 juta untuk WWF. Donasi tersebut untuk Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) di Kabupaten Sorong dan Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat serta donasi kepada World Wide Fund for Nature (WWF) untuk Penanaman Mangrove di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Direktur BCA, Subur Tan mengatakan, pihaknya memberikan donasi kepada UNICEF untuk program PAUD HI, yakni upaya guna memenuhi kebutuhan esensial anak usia dini yang beragam dan saling terkait secara holistik dan terintegrasi. Tujuan umum PAUD HI Berbasis Masyarakat adalah terwujudnya anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak mulia. Adapun total target populasi PAUD HI adalah sebanyak 900 anak usia 0-6 tahun dan juga 500 orang tua atau pengasuh, sehingga anak usia dini mendapatkan stimulasi terbaik di PAUD maupun di rumah.

Kerja sama BCA dengan UNICEF ini bertujuan untuk membantu Pemerintah Provinsi Papua Barat dan kabupaten terpilih, yakni Kabupaten Sorong dan Raja Ampat untuk mengoperasionalkan Peraturan Pemerintah 60/2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif. Hingga saat ini, program PAUD HI telah melahirkan sejumlah terobosan yang berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Gebrakan tersebut antara lain terbentuknya gugus PAUD di Sorong dan Raja Ampat untuk mengkoordinasi program PAUD HI Secara Lintas sektoral, serta implementasi PAUD HI di 13 PAUD di Sorong dan 12 PAUD di Raja Ampat dengan total 878 siswa penerima manfaat.

"Melalui kerja sama ini, kami berharap terciptanya penguatan koordinasi antar instansi pemerintah yang relevan mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung, serta instansi terkait lainnya untuk pembuatan alternatif model PAUD berbasis masyarakat yang sesuai dengan konteks Tanah Papua," ungkap Subur di sela penyerahan donasi di Jakarta, Jumat (16/11).

Subur mengatakan, BCA bersama WWF juga melakukan penanaman mangrove di Taman Nasional Ujung Kulon yakni Rhizophora apiculate, Rhizophora stylosa, serta akan menyusul jenis lainnya yaitu Avicennia sp. Proses penanaman mangrove dilakukan menggunakan sistem klaster, yakni menggunakan bambu bulat yang ditancapkan rapat seperti pagar dengan dua baris depan berbentuk segitiga sama kaki sebagai pemecah ombak. Setiap satu klaster ditanami sekitar 20 30 batang pohon. Dengan demikian, pohon yang ditanam tetap kuat dan tidak rusak seketika saat diterjang ombak.

Terkait itu, capaian kerja sama antara BCA dan WWF dari program penanaman mangrove di Taman Nasional Ujung Kulon sepanjang tahun 2017-2018 telah menorehkan hasil yang positif. Per November 2018, jumlah cluster yang telah dibangun BCA dan WWF adalah sebanyak 153 cluster dengan total luas permukaan tanam mencapai 1,7 hektare (ha). Jika dihitung, luas cakupan area penanaman telah mencapai hampir lima ha.

"Hingga kini, jumlah batang pohon yang telah ditanam adalah sebanyak 7.650 batang di 153 cluster. BCA dan WWF akan terus melanjutkan penanaman hingga akhir Desember 2019," tambahnya.

Lukas Adhyakso, Direktur Konservasi WWF-Indonesia, mengatakan dukungan BCA untuk merehabilitasi kawasan mangrove di Ujung Kulon ini sangat penting bagi kelestarian Badak Jawa. Ekosistem mangrove di Taman Nasional Ujung Kulon ini berfungsi melindungi habitat Badak Jawa, dan memastikan semenanjung di ujung Barat pulau Jawa ini tidak terputus, sehingga populasi badak bisa bermigrasi dan bertahan hidup. Populasi Badak Jawa sangat kritis dan terkonsentrasi di TN Ujung Kulon. Pendataan terakhir mencatat hanya ada 68 individu Badak Jawa.

"Dengan terbatasnya habitat, populasi ini sangat rentan terhadap ancaman penyakit atau bencana alam, sehingga penting bagi badak agar dapat menjelajah ke kawasan yang lebih luas untuk menyelamatkan diri," tutup Adhyakso.



Sumber: Investor Daily