Program Sejuta Rumah Pacu Pertumbuhan KPR Bank BTN 22,19%

Program Sejuta Rumah Pacu Pertumbuhan KPR Bank BTN 22,19%
Direktur Utama BTN Maryono (tengah) diapit Direktur Consumer Banking Budi Satria (kanan) dan Direktur IT Andi Nirwoto (kanan) di Jakarta, Jumat, (30/11). ( Foto: Istimewa / Mashud Toarik )
Mashud Toarik / MT Jumat, 30 November 2018 | 10:18 WIB

Jakarta – Program Sejuta Rumah yang digulirkan pemerintah sejak empat tahun terakhir dinilai berdampak signifikan bagi geliat industri perbankan dan properti Tanah Air.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk, Maryono mengatakan sejak tahun 2014 hingga saat ini pihaknya mencatat angka pertumbuhan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sebesar 22,19%.

“Sebelumnya, saat Program Sejuta Rumah belum ada, pertumbuhan KPR BTN hanya berkutat di level 15%-16%,” ujarnya, saat melepas Rombongan Media Gathering Bank BTN menuju Semarang, di Stasiun Gambir, Jakarta, Jumat pagi, (30/11).

Pertumbuhan itu menurutnya sekaligus menunjukan makin banyaknya masyarakat yang bisa memiliki rumah sendiri. Kendati masih terjadi backlog rumah yang cukup besar. Sementara industri perbankan dikatakannya berlomba menyalurkan KPR.

Efek berantai dari Program Sejuta Rumah tak hanya itu, permintaan (demand) yang tinggi membuat bisnis properti meningkat, pengembang perumahan menjamur yang pada akhirnya memacu peningkatan kontribusi bisnis perumahan terhadap Product Domestic Bruto (PDB) Indonesia. “Saat ini kontribusi sektor perumahan mencapai 2,9% terhadap PDB,” papar Maryono.

Menangkap peluang tersebut, BTN menurutnya melakukan diversifikasi pembiayaan, bukan hanya KPR tapi juga pembiayaan bagi para kontraktor dan sub sektor konstruksi. “Kami juga mendukung pertumbuhan bisnis properti dengan membiayai kontraktor-kontraktor baru,” ujarnya.

Prospek 2019

Sementara jelang tahun kelima Program Sejuta Rumah pada tahun 2019 yang dinilai banyak pihak akan sangat menantang lantaran tren kenaikan suku bunga perbankan, maupun pesta politik pemilihan umum, BTN memiliki pandangan berbeda.

Terkait kenaikan suku bunga, Maryono mengacu pada kondisi bisnis di paruh pertama 2018 dimana suku bunga mengalami kenaikan bertahap, tapi tidak mengurangi animo masyarakat memperoleh KPR.

“Kita lihat saat suku bungan acuan 7 Day Repo Rate BI meningkat, hampir semua kredit perbankan mengalami penurunan, kecuali KPR yang justru meningkat,” ujarnya.

BTN sendiri mencatat peningkatan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) meningkat 31%, sementara kredit non subsidi meningkat 14% hingga November 2018.

Fakta ini menurut Maryono meyakinkan BTN maupun pelaku industri properti bahwa potensi pertumbuhan KPR maupun perumahan tidak akan terbendung oleh gejolak global maupun pemilu. “Apalagi kenaikan bunga KPR tidak seagresif kenaikan suku bunga acuan BI,” ujarnya.

Sementara faktor Pemilu, bukan sesuatu yang dikhawatirkan karena menurutnya momentum Pemilu hanya hingga April 2018, delapan bulan selebihnya kondisi bisnis diyakini akan kembali normal.

“Apalagi pemerintah juga akan menggalakkan program dalam mempermudah ASN, TNI-Polri dalam mengakses pembiayaan khususnya KPR non subsidi,” paparnya.

Untuk itu BTN menurutnya mematok target unit pembiayaan KPR sebanyak 850 ribu unit. Angka itu menurutnya sudah memperhitungkan faktor politik maupun kondisi ketidakpastian global.

Selain itu untuk menjaga pertumbuhan kinerja keuangan, BTN menurut Maryono berkomitmen untuk melakukan efisiensi, menjaga NPL pada level rendah seiring ekspansi pembiayaan yang dilakukan. Upaya tersebut menyakinkan BTN untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja sebesar 15% di tahun 2019.



Sumber: Majalah Investor
CLOSE