November, BNI Salurkan KUR Rp 15,7 Triliun

November, BNI Salurkan KUR Rp 15,7 Triliun
Konferensi per kinerja Bank BNI kuartal III-2018. ( Foto: Istimewa )
Nida Sahara / FMB Jumat, 28 Desember 2018 | 19:21 WIB

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) sampai dengan November 2018 telah menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 15,7 triliun kepada 135.000 debitur usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga akhir tahun ini diharapkan penyaluran KUR bisa mencapai Rp 16 triliun.

General Manajer Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Bambang Setyatmojo mengatakan, setelah menyelesaikan alokasi plafon KUR dari pemerintah sebesar Rp 13,5 triliun pada pertengahan Oktober 2018, BNI mendapat tambahan alokasi plafon KUR sebesar Rp 3 triliun yang diberikan sejak Oktober 2018, sehingga menjadi Rp 16,5 triliun jatah BNI tahun ini.

"Penyaluran ke sektor produksi seperti pertanian, perikanan, industri pengolahan dan jasa-jasa diharapkan mencapai 51 persen, melebihi target minimal sebesar 50 persen," ungkap Bambang ketika dihubungi Investor Daily, Jumat (28/12).

Hingga saat ini, Bambang mengaku untuk rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) KUR perseroan masih sangat rendah, yakni berada di posisi 0,14 persen.

Untuk plafon KUR BNI tahun 2019, sampai saat ini belum ditetapkan secara resmi oleh pemerintah. Namun, pemerintah telah menargetkan alokasi KUR tahun depan sebesar Rp 140 triliun, naik 13,82 persen dari plafon KUR nasional tahun ini yang sebesar Rp 123 triliun.

Bambang mengharapkan alokasi KUR 2019 yang diberikan oleh pemerintah kepada BNI bisa lebih tinggi dibandingkan dengan plafon tahun ini.

"Namun dengan realisasi kinerja KUR BNI 2018 yang sangat baik ini, maka kami berharap alokasi plafon KUR 2019 tidak lebih rendah dari tahun 2018," papar Bambang.

Menurut dia, tim KUR perseroan sudah semakin fokus menggarap bisnis KUR, khususnya sektor produksi, sehingga dengan penajaman strategi 2018 dan makin fokus menggarap sektor pariwisata dan peternakan sesuai dengan harapan pemerintah, maka pihaknya yakin dapat menjalankan amanah dalam menyalurkan KUR 2019 dengan baik dan meningkatkan penyalurannya ke sektor produksi.

Adapun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Darmin Nasution menyebut, porsi penyaluran KUR ke sektor produktif perlu ditingkatkan. Tahun depan, porsi penyaluran KUR untuk sektor produktif diwajibkan 60 persen dari total keseluruhan penyaluran KUR.

Menanggapi hal tersebut, Bambang membenarkan adanya peningkatan komposisi KUR ke sektor produktif menjadi 60 persen dari yang sebelumnya 40 persen oleh pemerintah. Bagi BNI, lanjut dia, kenaikan porsi KUR produktif tersebut memiliki dua sisi, baik dari sisi tantangan dan juga peluang.

"Bagi BNI hal ini menjadi tantangan dan peluang, mengingat jumlah UMKM yang saat ini belum dapat mengakses dan mendapatkan KUR di luar perdagangan masih sangat besar," terang Bambang.

Bambang menuturkan, upaya dan strategi yang disiapkan yakni, pertama, mempertajam fokus penyaluran ke sektor produksi existing (pertanian, perkebunan, industri pengolahan dan jasa-jasa). Kedua, memperluas penyaluran ke sektor pariwisata, KUR khusus perkebunan dan peternakan.

"Ketiga, meningkatkan sinergi dengan debitur korporasi maupun pihak ketiga, dan sinergi BUMN. Keempat, mempermudah akses digital kepada UMKM untuk mendapatkan KUR. Kami yakin, dapat mencapai target dan arah kebijakan pemerintah," papar Bambang.



Sumber: Investor Daily