Jaga Kecukupan Modal, Perbankan Tak Terpengaruh Gejolak Rupiah

Jaga Kecukupan Modal, Perbankan Tak Terpengaruh Gejolak Rupiah
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Ita Rulina, menjadi naras sumber di acara pelatihan wartawan ekonomi yang digelar Bank Indonesia, di Yogyakarta, Sabtu, 23 Maret 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Sabtu, 23 Maret 2019 | 17:26 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 2018 lalu sempat mengalami volatilitas yang cukup tinggi, bahkan pelemahannya sempat menyentuh level Rp 15.000 per dolar AS. Namun, di awal 2019 ini, kondisinya mulai memperlihatkan perbaikan. Nilainya berada di kisaran Rp 14.100 hingga Rp 14.200 per dolar AS.

Yang menarik, meskipun gejolaknya cukup besar, perbankan di Indonesia tetap dalam kondisi baik, hingga mengundang tanya pihak internasional.

"Kemarin saat ada diskusi dengan pihak internasional, ada yang bertanya, di saat ada gejolak macam-macam, rupiah mengalami volatilitas, tetapi kok bank di Indonesia tidak terkena dampaknya," kata Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Ita Rulina, di acara pelatihan wartawan ekonomi yang digelar Bank Indonesia, di Yogyakarta, Sabtu (23/3/2019).

Menurut Ita, faktor pendorongnya adalah karena perbankan sangat menjaga agar Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal tidak turun. Krisis yang dihadapi Indonesia di tahun 1998 dan 2008 rupanya menjadi pengalaman berharga untuk menerapkan strategi tersebut.

"Bank kita itu ketakutan banget, dalam artian yang positif. Mereka jagain bangat supaya CAR-nya tidak turun. Ini saya rasa karena pengalaman waktu masa krisis. Kita dihantam krisis tahun 1998, kemudian 2008. Tetapi memang yang parah itu di tahun 1998, bahkan kita sampai menutup 16 bank," cerita Ita.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pada Januari 2019, perbankan memiliki permodalan yang kuat dengan rasio CAR yang relatif tinggi di level 23,12 persen, sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat di level 22,89 persen.

Berdasarkan kelompok bank, menurut Ita, tingginya CAR perbankan didominasi oleh bank Buku 3 dan Buku 2, dan seluruh kelompok bank memiliki CAR jauh di atas ambang batas (threshold).



Sumber: BeritaSatu.com