BRI Siap Akuisisi Fintech

BRI Siap Akuisisi Fintech
Dewan Juri Soebowo Musa (kanan) didampingi Pemimpin Redaksi Majalah Investor Komang Darmawan (kiri) bersama pemenang penghargaan khusus Wakil Direktur Utama BRI (Persero) Tbk, Sunarso dan Direktur Konsumer dan Ritel Bank bjb Suartini saat acara Bank Terbaik 2019 versi Majalah Investor di Jakarta, 28 Juni 2019. ( Foto: Beritasatu / David Gita Roza )
Fajar Widhiyanto / FW Sabtu, 29 Juni 2019 | 19:48 WIB

Di tahun ini PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero) akan menyelesaikan proses akuisisi terhadap asuransi kerugian PT Bringin Sejahtera yang selama ini sahamnya dikuasai oleh Dana Pensiun BRI. Setelah akuisisi Bringin Sejahtera selesai perseroan berkode bursa BBRI ini diproyeksikan akan mengakuisisi perusahaan fintech.

Disampaikan Wakil Direktur Utama BRI Sunarso usai mewakili perseroan menerima penghargaan dari Majalah Investor sebagai Bank dengan Pangsa Kredit UMKM Terbesar di Jakarta (28/6), untuk berkompetisi di pasar, perseroan akan mengkaji kebutuhan dari konsumen sehingga perseroan harus dilengkapi oleh instrumen anak usaha tertentu.

“Kita tak bisa membatasi diri. Faktanya di pasar mungkin yang masih bisa di penetrasi tak hanya banking, sekuritas, dan insurance. Mungkin kita juga memperkuat dan mempertajam dengan memiliki fintech,” ujarnya kepada Majalah Investor. Ia menyebut ada berbagai bentuk fintech yang mungkin akan dikaji untuk diakuisisi.

Sementara itu ketika di singgung potensi perusahaan fintech yang akan diakuisisi akan berbenturan dengan pengembangan Link Aja yang merupakan bagian sinergi sejumlah perusahaan pelat merah termasuk BBRI, ia menegaskan jika benturan itu terjadi maka solusinya adalah dikonsolidasikan. “Kalau berbenturan kan bisa kita konsolidasikan. Gampang saja, kan pemiliknya sama.”

Sejauh ini, kata Sunarso, BRI menyediakan dana sebesar Rp3 triliun hingga Rp5 triliun untuk akuisisi atau pertumbuhan anorganik. Angka ini menurutnya merupakan angka yang sangat biasa untuk bank dengan kapasitas modal yang besar seperti BBRI.

“Katakanlah BRI tiap tahun menyediakan dana Rp3 triliun hingga Rp5 triliun untuk corporate action. Itu biasa saja, untuk pertumbuhan anorganik. Namun kami tidak bisa menyebutkan angka pastinya. Tapi kita sudah ajukan ke OJK, bahwa kita siapkan capital sekian triliun dan OJK akan periksa apakah itu akan mengganggu struktur permodalan kita atau tidak. Kalau tidak go-ahead, dan berikutnya kita masukkan dalam rencana bisnis bank,” paparnya.

Sunarso juga mengemukakan bahwa perseroan membuka potensi untuk mengakuisisi bank seperti yang dilakukan oleh koleganya baik sesama bank pelat merah maupun bank swasta. “Kita akan lihat mana yang bisa menciptakan added value buat BRI,” ujarnya.

Di sisi lain BRI juga terus mengembangkan kapabilitasnya di digital banking yang menurutnya merupakan sebuah keniscayaan yang harus dipersiapkan, baik dari sisi sistem, modal, environment, dan budayanya. Ia menegaskan bahwa semua sisi tersebut akan disiapkan sebagai bagian dari transformasi besar BRI sebagai sebuah grup finansial.

Sedikit informasi tentang anak usaha BBRI, di sektor bisnis pertanggungan, BRI saat ini sudah melengkapi diri dengan jasa asuransi jiwa lewat BRI Life dengan porsi kepemilikan saham sebesar 91%. Di lini perbankan, BRI telah memiliki dua anak usaha, yakni PT Bank BRI Syariah Tbk dengan porsi saham sebesar 73%, dan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk dengan porsi saham 87,10%.

Di sektor pembiayaan perseroan punya PT BRI Multifinance dengan porsi saham 99%, sementara di lini pengiriman dana perseroan punya PT RI Remittance yang total sahamnya dimiliki perseroan.

Pada akhir tahun 2018 lalu, perseroan juga telah merampungkan proses akuisisi 67% saham di PT Danareksa Sekuritas senilai Rp447 miliar, serta penambahan porsi penyertaan sahamnya menjadi 97,61% di BRI Ventura Investama (BRI Ventures). Anak usaha yang bergerak di lini bisnis modal ventura ini awalnya bernama PT Sarana Nusa Tenggara Timur Ventura, dimiliki oleh PT Bahana Artha Ventura (BAV).

BBRI juga melakukan penyertaan modal untuk mengambil alih 35% saham PT Danareksa Investment Management senilai Rp 372 miliar.

Terkait kiprah anak usahanya yang baru di modal ventura, BRI Ventura Investama, nantinya akan menjadi perpanjangan tangan bagi BBRI untuk mencaplok sekitar 19%-20% saham perusahaan fintech PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) yang sahamnya masih dimiliki oleh PT Telekomunikasi Selular Tbk (Telkomsel). Finarya adalah perusahaan yang menjadi pengelola platform pembayaran LinkAja.

 



Sumber: Majalah Investor