Kredit BNI Tumbuh 20%, Tembus Rp 549,23 Triliun

Kredit BNI Tumbuh 20%, Tembus Rp 549,23 Triliun
Menara BNI. ( Foto: Ist )
Lona Olavia / MPA Selasa, 23 Juli 2019 | 17:30 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) catat pertumbuhan kredit sebesar 20% year on year (YoY) yaitu dari Rp 457,81 triliun pada semester I 2018 menjadi Rp 549,23 triliun pada semester I 2019. Sedangkan, laba bersih sebesar Rp 7,63 triliun, tumbuh 2,7% YoY, dari sebelumnya Rp 7,44 triliun.

"Kalau untuk target kredit akhir tahun sesuai pipeline tumbuh 13%-15%. Kita tahu di tahun ini orang masih wait and see. Kalau laba dari kondisi yang ada 6%-8%," kata Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo dalam paparan kinerja, di Jakarta, Selasa (23/7).

Anggoro menjelaskan, ekspansi pinjaman di semester I secara komponen didominasi pada kuartal II sehingga pendapatan bunganya belum diterima secara maksimal. "Pinjaman di semester I Rp 32 triliun, Rp 7 triliun di kuartal I, sisanya di kuartal II. Lalu Rp 20 triliun dari segmen korporasi yang yieldnya sedang menurun dan itu bagian dari interest income," sebutnya.

Ia merinci, pertumbuhan kredit BNI didorong oleh pembiayaan pada korporasi yang mencapai 51,9% dari total portofolio kredit BNI, dengan fokus pembiayaan pada sektor-sektor unggulan yang memiliki risiko relatif rendah, terutama ke sektor manufaktur, perdagangan, restoran dan hotel, serta jasa dunia usaha. "Hal ini sejalan dengan strategi yang telah ditetapkan BNI, yaitu menjaga komposisi kredit korporasi dalam kisaran 50% hingga 55% dari total kredit. Kredit korporasi BNI tersalurkan pada korporasi swasta dan BUMN, yang masing-masing tumbuh 27,8% YoY dan 24,9% YoY," jelasnya.

Kredit yang dialirkan pada segmen usaha kecil pun mencatatkan pertumbuhan yang baik yaitu 21,5% YoY, termasuk di dalamnya adalah penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang menjadi program utama pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sementara untuk kredit segmen menengah tetap dijaga pertumbuhannya yang moderat yaitu sebesar 7,6% YoY.

Adapun pada segmen konsumer, kredit tanpa agunan berbasis payroll masih menjadi kontributor utama pertumbuhan yaitu sebesar 12,8% YoY. Sementara untuk mortgage dan kartu kredit masih mencatatkan pertumbuhannya itu masing-masing sebesar 8,9% dan 4% YoY.

Sementara, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13% secara YoY, dari Rp 526,48 triliun pada semester I 2018 menjadi Rp 595,07 triliun pada semester I 2019. Adapun komposisi CASA mencapai 64,6% dari total DPK.

Tercatat pada periode semester I, penambahan jumlah rekening sekitar 7,5 juta dari 39 juta rekening pada semester I 2018 menjadi 46,5 juta rekening pada semester I 2019. Selain itu, jumlah branchless banking dari 94 ribu menjadi 124 ribu.

Lebih lanjut, di sisi pertumbuhan non interest income (NII) atau fee based income bertumbuh 11,6% YoY. Sebesar 96,5% NII BNI ditopang oleh recurring fee yang mencatatkan pertumbuhan 16,6% YoY, menjadi Rp 5,2 triliun. Pertumbuhan ini berkontribusi sebesar 21,6% terhadap total operating income BNI pada semester I tahun 2019.

BNI juga mencatat pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 1% YoY, yaitu dari Rp 17,45 triliun pada semester I 2018 menjadi Rp 17,61 triliun pada semester I 2019.

Lalu dari sisi kualitas aset, NPL gross BNI tercatat membaik menjadi 1,8% dari sebelumnya 2,1%. "NPL sesuai guidance ada di 1.9%-2%," sebut Anggoro.

 



Sumber: Suara Pembaruan