Peran Penting Melati Putih Bangsa BTPN Syariah

Pertemuan Dua Mingguan jadi Sarana Membangun Perilaku BDKS

Pertemuan Dua Mingguan jadi Sarana Membangun Perilaku BDKS
Community Officer (CO) BTPN Syariah, Maya (kiri) sedang memberikan penjelasan tentang pengelolaan keuangan dengan menggunakan smartphone kepada para nasabah yang bergabung di sentra/kelompok yang diketuai oleh Kemi Yanti (kedua dari kanan) di Kecamatan Pedurungan, Semarang pada 21 Agustus 2019. ( Foto: Investor Daily / Happy Amanda Amalia )
Happy Amanda Amalia / PYA Senin, 9 September 2019 | 08:31 WIB

SEMARANG, beritasatu.com – Peran wanita, disadari sangat penting bagi semua orang karena kehadirannya mampu menciptakan kebahagiaan keluarga. Di pelosok negeri ini, tersebar wanita-wanita perkasa yang disebut sebagai “Ibu” yang turut berjuang demi keluarga mewujudkan hidup yang lebih baik, meraih sejahtera.

Adalah BTPN Syariah yang sampai saat ini menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang memfokuskan diri melayani keluarga pra-sejahtera produktif (unbankable). Melalui model bisnis yang unik, yaitu mengkombinasikan misi bisnis dan sosial (do good do well) itulah, keluarga pra-sejahtera jadi memiliki kesempatan untuk mengejar mimpinya.

Selain melakukan pemberdayaan kepada nasabah perempuan, BTPN Syariah juga memberikan kesempatan kepada ribuan tamatan SMA terlatih untuk berkarir menjadi seorang bankir sebagai community officer atau yang dikenal dengan Melati Putih Bangsa.

Para Melati Putih Bangsa itu menjadi role model dalam membangun perilaku “unggul” nasabah, yaitu Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu (BDKS). Tidak hanya sebagai pembuka akses keuangan, BTPN Syariah turut meningkatkan kapasitas nasabah melalui program pendampingan, seperti pelatihan pengelolaan keuangan sederhana.

Program tersebut juga memberikan kesempatan kepada nasabah untuk membangun dan memperkuat perilaku utama mereka, yakni BDKS. Perilaku ini berkontribusi positif terhadap peningkatan kualitas usaha serta hidup nasabah

Menurut Direktur BTPN Syariah M. Gatot Adhi Prasetyo, mengingat fokus BTPN Syariah untuk melayani nasabah maka selalu diadakan pertemuan dua minggu sekali antara sentra (kelompok) nasabah dengan para community officer (CO) atau yang dikenal dengan Melati Putih Bangsa. Walau para community officer ini didominasi oleh lulusan sekolah menengah namun mereka sudah terlatih untuk menghadapi para nasabah perempuan atau ibu-ibu.

Untuk mengetahui lebih lanjut soal Melati Putih Bangsa, BTPN Syariah mengajak rekan-rekan wartawan untuk melihat langsung bagaimana Melati Putih Bangsa melayani nasabah prasejahtera produktif di Semarang pada pertemuan dua minggu dalam sebulan.

Para wartawan diajak menghadiri kegiatan pertemuan dua mingguan sebulan yang kali ini diadakan di kediaman Ketua Sentra (kelompok) Muktiharjo 1 Kemi Yanti, yang menaungi anggota nasabah prasejahera BTPN Syariah, di Kecamatan Pendurungan, Semarang.

Acara pertemuan dua mingguan tersebut biasanya diadakan menjelang siang hari, diawali dengan berdoa bersama dengan seluruh nasabah dan CO yang hadir saat itu. Usai berdoa, para CO biasanya akan memulai dengan proses transaksi, kemudian memberikan motivasi untuk terus menabung terhadap para nasabah – yang didominasi oleh para ibu.

“Pertemuan dua minggu sekali itu intinya untuk silaturahmi dan memastikan kondisi ibunya sehat, orangnya ada, dan secara emosional masih terus bersama kita. Karena bisnis kita seperti itu. Dalam pertemuan kita berdoa bersama, proses transaksi, memberikan motivasi untuk menabung, menggiring ibu-ibu untuk selalu positif thinking. Tetapi, yang mandatory wajib adalah menyampaikan soal pengelolaan keuangan dan tips-tips kesehatan berkala yang sifatnya umum, seperti soal kesehatan kanker payudara, kegemukan yang mengarah pada diabetes,” ujar Wahyu Sri Utami, business coach area Jawa Tengah (Jateng) 3 kepada Investor Daily di Semarang beberapa waktu lalu.

Dalam kegiatan itu, para nasabah prasejahtera juga dikenalkan dengan perkembangan digital. Untuk proses awal, saat absen dalam pertemuan para nasabah akan melakukan selfie, para nasabah juga diajak untuk paperless dan sat melayani nasabah pun para CO sudah memanfaatkan teknologi smartphone maupun phablet.

Salah satu nasabah yang membuka usaha souvenir sekaligus sebagai ketua sentra Muktiharjo 1, Semarang, Kemi Yanti mengatakan sudah gabung dengan BTPN Syariah sudah cukup lama. Seiring dengan usahanya yang berkembang, ibu tiga anak ini kemudian mengajak ibu-ibu lain di lingkungannya untuk bergabung menjadi nasabah. Alhasil, dirinya kini mengaku senang sudah banyak ibu-ibu yang sukses dalam menjalankan berbagai usaha.

Anak lelaki Kemi Yanti, Ahmad Bisri juga mengungkapkan perasaan senang dan bangga kepada sang ibu yang menjadi ketua sentra sekaligus masih rajin menjalankan usaha. Karena Kemi Yanti sudah ditinggal oleh mendiang suami sejak 10 tahun, Ahmad (25 tahun) pun ikut terjun membantu usaha souvenir sang ibu.

“Senang dengan adanya perkumpulan ini. Bagus ya, karena pasti kan ada timbal balik buat ibu-ibu dan ada manfaat baik, juga untuk BTPN Syariah. Selagi masih memberikan manfaat yang baik, ini hal yang bagus,” tutur Ahmad.

Wahyu, atau biasa disapa Ayu, mengamini perkataan Ahmad. Sebelum menjadi business coach BTPN Syariah, Ayu juga mengawali karir sebagai CO. Selama menjadi Melati Putih Bangsa, dirinya mau tidak mau akan ikut belajar dari pengalaman para nasabahnya. Salah satunya adalah motivasi untuk menabung.

“Karena sering memberikan motivasi kepada ibu-ibu untuk menabung dan mengajarkan membuat pos-pos keuangan. Itu jadi tertanam dalam diri sendiri. Dulu waktu masih jadi CO, habis gajian kan bisa saja saya jajanin semua, tapi tidak, karena kita tadi sudah ikut belajas pos-pos keuangan. Otomatis melatih kita sendiri jadi tertanam untuk melakukan perencanaan keuangan lebih baik,” kata perempuan yang sudah 7 tahun bergabung di BTPN Syariah.

Saat ditanya alasan bergabung dengan BTPN Syariah, Ayu mengaku ada kebahagiaan tersendiri bisa membantu para nasabah prasejahtera. Awalnya tidak terasa karena hanya memberikan modal dan bekerja, tetapi lama-lama Ayu merasa apa yang dikerjakannya adalah hal yang baik dan membahagiakan.

“Seandainya punya uang sendiri, kita inginnya membantu. Tetapi karena saat ini belum, ya melalui BTPN Syariah-lah saya jadi diberikan wadah untuk menyalurkan itu. Secara psikis saya juga lebih nyaman karena sebagai manusia apanya sih yang diingat? Pasti kan yang diingat, kalau kita nggak ada, adalah manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain,” tuturnya sambil tersenyum.



Sumber: Investor Daily